Politik Bansos: Jaring Pengaman atau Komoditas Elektoral?

Jumat, 7 November 2025 - 16:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Menjelang pemilu, bansos marak dibagikan. Ini adalah pisau bermata dua: sebagai jaring pengaman sosial yang mulia, sekaligus sebagai alat

Ilustrasi, Menjelang pemilu, bansos marak dibagikan. Ini adalah pisau bermata dua: sebagai jaring pengaman sosial yang mulia, sekaligus sebagai alat "pembelian suara" terselubung. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Menjelang tahun politik atau pemilihan umum, ada satu fenomena yang hampir pasti terjadi: program Bantuan Sosial (Bansos) tiba-tiba menjadi sorotan utama. Entah itu dalam bentuk bantuan tunai, sembako, atau program kerakyatan lainnya, intensitasnya meningkat drastis.

Bagi sebagian orang, ini adalah bukti nyata kepedulian negara. Namun bagi yang skeptis, ini adalah manuver politik yang mudah ditebak. Inilah wajah ganda bansos: ia adalah jaring pengaman sosial sekaligus komoditas elektoral paling efektif.

Jaring Pengaman (Welfare State)

Di satu sisi, bansos adalah fungsi mulia dan esensial dari sebuah negara kesejahteraan (welfare state). Secara ekonomi dan konstitusional, negara memang memiliki kewajiban untuk melakukan redistribusi kekayaan dan melindungi warga negaranya yang paling miskin dan rentan.

Dalam konteks ini, bansos berfungsi sebagai “peredam kejut” ekonomi. Saat terjadi krisis, kenaikan harga BBM, atau pandemi, bansos adalah jaring pengaman sosial yang mencegah jutaan orang jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem. Ini adalah alat keadilan sosial yang memastikan mereka yang paling rapuh tidak tertinggal.

Komoditas Elektoral (Klientelisme)

Namun di sisi lain, bansos memiliki wajah yang jauh lebih problematis. Dalam ilmu politik, ini adalah alat “klientelisme” klasik. Klientelisme adalah pertukaran barang atau jasa (dalam hal ini, bansos) dengan dukungan politik (suara).

Di sinilah bansos berubah menjadi “pembelian suara” terselubung. Politisi petahana menggunakan otoritas mereka atas anggaran negara untuk menggelontorkan bansos ke kantong-kantong suara potensial. Pesannya tersirat: “Bantuan ini datang dari kami, jadi jangan lupa pilih kami di pemilu nanti.”

Baca Juga :  Angkatan Udara AS Kebut Pembaruan Air Force One Jelang HUT ke-250

Terkadang, pesan ini bahkan tidak tersirat, dengan adanya gambar politisi di kantong beras bantuan atau klaim personal atas program yang seharusnya bersifat kenegaraan.

Meredam Kemiskinan atau Menciptakan Ketergantungan?

Inilah debat utamanya: apakah bansos yang masif, terutama yang bersifat politis, benar-benar menyelesaikan masalah kemiskinan?

Secara jangka pendek, ya, bansos sangat membantu daya beli. Namun secara jangka panjang, bansos yang tidak dirancang dengan baik berisiko gagal mengurangi kemiskinan secara struktural. Bantuan ini tidak menciptakan lapangan kerja baru, tidak meningkatkan keterampilan, dan tidak memperbaiki infrastruktur dasar.

Bansos yang berorientasi elektoral justru berisiko menciptakan ketergantungan politik. Masyarakat dibuat “terbiasa” menerima bantuan tunai jangka pendek, sehingga loyalitas mereka terikat pada pemberi bantuan, bukan pada program pembangunan jangka panjang yang mungkin lebih sulit tapi lebih fundamental.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB