Mengapa Nongkrong Gratis Jadi Mustahil di Kota Besar?

Minggu, 23 November 2025 - 14:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mau nongkrong tapi dompet tipis? Susah cari tempat gratis yang nyaman? Fenomena hilangnya

Mau nongkrong tapi dompet tipis? Susah cari tempat gratis yang nyaman? Fenomena hilangnya "Third Place" membuat biaya pertemanan makin mahal. Simak analisisnya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Sosiolog Ray Oldenburg pernah mencetuskan istilah penting bernama “The Third Place”. Istilah ini merujuk pada ruang santai tempat orang bersosialisasi selain rumah (tempat pertama) dan kantor (tempat kedua).

Dulu, kita bisa dengan mudah menemukan tempat semacam ini. Taman kota, balai warga, atau perpustakaan umum menjadi pusat interaksi yang hangat. Sayangnya, kemewahan sederhana itu kini perlahan punah di kota-kota besar.

Ruang publik gratis semakin sulit kita temukan. Sebaliknya, gedung-gedung komersial justru menjamur di setiap sudut jalan. Akibatnya, aktivitas “nongkrong” kini memiliki syarat mutlak: harus punya uang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena “Pay-to-Stay”

Pergeseran ini menciptakan budaya baru yang bernama pay-to-stay. Kita harus membayar “sewa” untuk sekadar duduk dan mengobrol.

Taman kota yang asri berganti wajah menjadi kedai kopi kekinian atau pusat perbelanjaan megah. Tentu saja, tempat-tempat ini tidak gratis. Kita wajib membeli segelas es kopi mahal hanya untuk mendapatkan kursi dan Wi-Fi.

Masalahnya, tidak semua orang sanggup mengikuti gaya hidup ini setiap hari. Mal menjadi satu-satunya opsi tempat hiburan yang tersedia. Padahal, mal didesain untuk konsumsi, bukan untuk interaksi komunitas yang tulus.

Baca Juga :  Kantor yang Hilang: WFH, Produktivitas, dan Masa Depan Kerja

Biaya Pertemanan yang Mahal

Dampak sosial dari fenomena ini sangatlah serius. “Biaya pertemanan” menjadi sangat mahal. Lantas, orang mulai berpikir dua kali untuk keluar rumah jika dompet sedang tipis.

“Mau ketemu di mana?” Pertanyaan sederhana ini sering kali memicu kecemasan finansial. Akhirnya, banyak orang memilih untuk mengurung diri di kamar kos atau rumah.

Isolasi sosial pun terjadi secara tidak sengaja. Kita kehilangan momen obrolan ringan dengan tetangga atau orang asing. Imbasnya, rasa kesepian (loneliness) meningkat tajam di kalangan masyarakat urban meskipun mereka hidup berhimpitan.

Privatisasi Ruang Publik

Kritik tajam patut kita arahkan pada tata kota yang keliru. Pembangunan kota tampaknya lebih memihak pada komersialisasi daripada kesejahteraan warga.

Baca Juga :  Seni Menjadi Turis di Kota Sendiri

Pengembang sibuk menyulap lahan kosong menjadi apartemen privat atau ruko bisnis. Sementara itu, trotoar yang nyaman dan taman bermain anak sering kali terlupakan. Ruang publik mengalami privatisasi yang masif.

Warga kota dipaksa menjadi konsumen setiap kali melangkah keluar pintu. Bahkan, duduk di pinggir jalan pun kadang terasa tidak aman atau tidak nyaman karena minimnya fasilitas.

Kerinduan Akan Ruang Inklusif

Pada akhirnya, kota membutuhkan lebih dari sekadar gedung pencakar langit. Kita mendesak kebutuhan akan ruang publik yang inklusif.

Masyarakat membutuhkan tempat di mana seorang CEO bisa duduk bersebelahan dengan mahasiswa tanpa sekat status ekonomi. Taman, alun-alun, dan perpustakaan yang layak adalah hak warga kota.

Oleh karena itu, pemerintah kota harus segera bertindak. Kembalikan “tempat ketiga” kepada rakyat. Ingatlah, kesehatan mental masyarakat kota sangat bergantung pada seberapa mudah mereka bisa tertawa bersama teman tanpa harus memikirkan tagihan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pengunjuk Rasa Gempur Polisi Jelang Pembukaan KTT G7
Ulang Tahun ke-80: Donald Trump Gelar Pertarungan UFC
Donald Trump Umumkan Kesepakatan Damai Akhir Perang
Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar
Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 10:37 WIB

Pengunjuk Rasa Gempur Polisi Jelang Pembukaan KTT G7

Selasa, 16 Juni 2026 - 09:10 WIB

Ulang Tahun ke-80: Donald Trump Gelar Pertarungan UFC

Selasa, 16 Juni 2026 - 08:42 WIB

Donald Trump Umumkan Kesepakatan Damai Akhir Perang

Senin, 15 Juni 2026 - 17:59 WIB

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Berita Terbaru

Bara protes di Swiss. Pengunjuk rasa bentrok dengan polisi di Jenewa guna menolak pelaksanaan KTT G7 Evian di tengah eskalasi konflik energi global. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pengunjuk Rasa Gempur Polisi Jelang Pembukaan KTT G7

Selasa, 16 Jun 2026 - 10:37 WIB

Panggung tidak biasa di Washington. Presiden Donald Trump merayakan hari ulang tahunnya yang ke-80 dengan menggelar ajang tarung bebas UFC langsung di halaman belakang Gedung Putih. Dok: (AP Photo/Rahmat Gul)

INTERNASIONAL

Ulang Tahun ke-80: Donald Trump Gelar Pertarungan UFC

Selasa, 16 Jun 2026 - 09:10 WIB

Terobosan besar diplomasi dunia. Presiden Donald Trump mengumumkan pencapaian kesepakatan damai dengan Iran guna membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan energi global. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Umumkan Kesepakatan Damai Akhir Perang

Selasa, 16 Jun 2026 - 08:42 WIB