Perang Semikonduktor: Perebutan Minyak Baru Abad ke-21

Senin, 1 Desember 2025 - 09:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lupakan minyak bumi, kini dunia berperang demi kepingan silikon kecil. Simak persaingan sengit AS dan China memperebutkan

Lupakan minyak bumi, kini dunia berperang demi kepingan silikon kecil. Simak persaingan sengit AS dan China memperebutkan "otak" teknologi masa depan. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama abad ke-20, negara-negara rela berperang demi menguasai ladang minyak. Emas hitam itu menjadi roda penggerak ekonomi dan militer dunia. Namun, di abad ke-21 ini, definisi “minyak baru” telah berubah drastis.

Komoditas paling berharga itu kini berukuran lebih kecil dari kuku jari manusia. Benda itu adalah chip atau semikonduktor. Faktanya, hampir semua perangkat modern bergantung pada kepingan silikon ini.

Mulai dari iPhone di saku kita, mobil listrik di jalanan, hingga rudal presisi tinggi milik militer, semuanya membutuhkan chip canggih. Oleh karena itu, siapa yang menguasai rantai pasok semikonduktor, dialah yang akan memegang kendali atas masa depan dunia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penguasa Kunci: TSMC dan ASML

Struktur industri ini sangat unik dan rapuh. Pasalnya, produksi chip tercanggih hanya bertumpu pada segelintir pemain utama.

Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) memegang mahkota sebagai raja manufaktur. Bayangkan, perusahaan ini memproduksi lebih dari 90 persen chip paling canggih di dunia. Dunia akan lumpuh seketika jika pabrik mereka di Taiwan berhenti beroperasi.

Baca Juga :  Israel Cegat Armada Bantuan Global Sumud Menuju Gaza

Di sisi lain, ada ASML dari Belanda. Perusahaan ini memonopoli pembuatan mesin litografi EUV (Extreme Ultraviolet). Mesin seharga triliunan rupiah ini adalah satu-satunya alat yang bisa mencetak sirkuit super kecil pada wafer silikon. Tanpa restu ASML, tidak ada negara yang bisa membuat chip mutakhir.

Strategi AS: Teknologi sebagai Senjata

Amerika Serikat (AS) menyadari kerentanan posisi mereka. Meskipun banyak desain chip lahir di Silicon Valley, pabriknya berada di Asia. Lantas, Washington meluncurkan strategi agresif bernama CHIPS Act.

AS menggelontorkan subsidi miliaran dolar untuk menarik pabrik chip kembali ke tanah Amerika. Namun, langkah mereka tidak berhenti di situ. Mereka menjadikan teknologi sebagai senjata keamanan nasional.

AS memblokir akses China terhadap chip canggih dan peralatan pembuatannya. Tujuannya jelas, mereka ingin mencekik kemajuan militer dan kecerdasan buatan (AI) Beijing. AS memaksa sekutunya, termasuk Belanda dan Jepang, untuk ikut serta dalam embargo teknologi ini.

Baca Juga :  DeepCool Assassin VC Elite Hadirkan Solusi Pendingin Vapor

Ambisi China Melawan Balik

China tentu tidak tinggal diam melihat leher teknologinya tercekik. Beijing merespons dengan investasi gila-gilaan. Mereka menanamkan modal triliunan yuan demi mencapai kemandirian semikonduktor.

Walaupun masih tertinggal dalam teknologi pembuatan chip paling ujung (cutting-edge), China menguasai pasar chip generasi lama (legacy chips). Chip jenis ini sangat vital untuk industri otomotif dan elektronik rumah tangga.

Akibatnya, China mencoba membangun rantai pasok alternatif yang bebas dari teknologi Amerika. Mereka merekrut talenta terbaik dan melakukan riset masif untuk mengejar ketertinggalan.

Pada akhirnya, persaingan ini membawa risiko besar bagi ekonomi global. Kita sedang menuju fragmentasi rantai pasok teknologi.

Dunia berpotensi terbelah menjadi dua blok ekosistem yang tidak saling terhubung: blok Barat pimpinan AS dan blok Timur pimpinan China. Imbasnya, inovasi akan melambat dan biaya produk teknologi akan melambung tinggi.

Globalisasi teknologi yang dulu menyatukan dunia kini mulai retak. Maka, bersiaplah menghadapi era baru di mana kepingan chip menjadi pemicu ketegangan geopolitik yang lebih panas daripada barel minyak.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI
Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan
Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol
Houthi Serang Situs di Riyadh dan Fasilitas Aramco di Yanbu
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang
AS Setujui Penjualan Jet Tempur F-35 ke Arab Saudi
Hakim AS Larang Pembongkaran Gedung Kennedy Center
Milisi Houthi Kuasai Jalur Maritim Utama Yaman

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 21:58 WIB

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI

Minggu, 20 September 2026 - 20:55 WIB

Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan

Minggu, 20 September 2026 - 20:30 WIB

Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol

Minggu, 20 September 2026 - 19:49 WIB

Houthi Serang Situs di Riyadh dan Fasilitas Aramco di Yanbu

Minggu, 20 September 2026 - 18:42 WIB

Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang

Berita Terbaru

KPK menemukan petunjuk dugaan aliran uang dalam kasus HGB Summarecon.

NASIONAL

KPK Temukan Jejak Aliran Uang Kasus HGB Summarecon

Senin, 21 Sep 2026 - 18:13 WIB