Asap Karhutla Kepung Singkawang, Masker Bukan Solusi Utama

Jumat, 21 Agustus 2026 - 07:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Siswa menggunakan masker saat beraktivitas di tengah ancaman kabut asap karhutla di Singkawang, Kalimantan Barat.

Siswa menggunakan masker saat beraktivitas di tengah ancaman kabut asap karhutla di Singkawang, Kalimantan Barat.

SINGKAWANG, POSNEWS.CO.ID – Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghadirkan kecemasan.

Ketika udara mulai tercemar, anak-anak sekolah di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, tetap harus masuk kelas dan menjalani pembelajaran tatap muka.

Kondisi ini menjadi ironi. Pendidikan harus terus berjalan, tetapi kesehatan anak juga tidak boleh dipertaruhkan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Singkawang akhirnya meminta siswa menggunakan masker, terutama ketika berada di luar ruangan.

Langkah tersebut menjadi bentuk pencegahan di tengah kualitas udara yang masih perlu diawasi.

Kepala Dikbud Singkawang Asmadi mengatakan masker diperlukan untuk memberikan rasa aman sekaligus mengurangi risiko paparan asap dan debu.

“Permintaan menggunakan masker ini dalam rangka memberikan rasa aman dan menjaga kesehatan seluruh warga sekolah,” ujar Asmadi di Singkawang, Jumat (21/8/2026).

Udara Masih Sedang, Tetapi Jangan Tunggu Sampai Memburuk

Berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Singkawang, kualitas udara masih berada pada kategori sedang.

Namun, angka tersebut tidak boleh membuat kewaspadaan turun. Sebab, kualitas udara dapat berubah mengikuti arah angin dan perkembangan titik api karhutla.

Masalahnya, asap tidak mengenal pagar sekolah.

Partikel dari udara tercemar dapat masuk ke lingkungan sekolah, terbawa angin ke permukiman, bahkan mengganggu perjalanan siswa saat berangkat maupun pulang.

Karena itu, langkah pencegahan harus dilakukan sebelum kondisi mencapai tingkat yang lebih buruk.

Anak-anak Jangan Dijadikan Penonton Risiko Karhutla

Anak-anak merupakan kelompok yang membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Baca Juga :  Cuaca Jabodetabek 27 April 2026: Jakarta Berawan - Bogor Diguyur Hujan Sedang

Aktivitas mereka juga tidak berhenti di ruang kelas. Mereka berjalan kaki, menggunakan kendaraan, bermain, mengikuti kegiatan sekolah dan berinteraksi di luar ruangan.

Karena itu, Dikbud meminta guru dan orang tua ikut mengawasi penggunaan masker.

Masker harus dibawa dari rumah dan digunakan ketika siswa berada di luar ruangan. Sekolah juga perlu mengurangi kegiatan luar kelas apabila kondisi udara semakin tidak aman.

“Kita ingin anak-anak tetap sehat dan nyaman dalam belajar sebagai bentuk antisipasi agar kesehatan mereka tetap terjaga,” kata Asmadi.

Sekolah Tetap Tatap Muka, Sampai Kapan?

Untuk sementara, Dikbud Singkawang belum meliburkan siswa. Proses belajar mengajar masih berlangsung secara tatap muka.

Keputusan itu diambil karena kualitas udara belum mencapai kondisi yang dinilai mengharuskan sekolah dihentikan.

Namun, pemerintah daerah memastikan kebijakan tersebut dapat berubah jika situasi memburuk.

“Kita tetap tatap muka. Tapi kita juga terus memantau. Jika nanti ada perkembangan, tentu akan kita evaluasi bersama demi keselamatan siswa,” ujar Asmadi.

Di sinilah pemerintah harus bergerak cepat.

Jangan sampai keputusan untuk mempertahankan sekolah tatap muka baru berubah setelah anak-anak mulai mengalami gangguan kesehatan.

Pemantauan kualitas udara harus dilakukan secara konsisten. Jika kondisi berubah menjadi tidak sehat, pembatasan aktivitas luar ruangan hingga perubahan sistem pembelajaran perlu dipertimbangkan berdasarkan data.

Kabut Asap Bukan Sekadar Pemandangan Kelabu

Ancaman karhutla tidak berhenti pada munculnya asap.

Kabut asap dapat mengganggu jarak pandang, aktivitas transportasi, kesehatan masyarakat dan kegiatan ekonomi.

Bahkan, pada 16 Agustus 2026, seluruh penerbangan di Bandara Singkawang dilaporkan dibatalkan karena kabut asap tebal membuat jarak pandang tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan.

Situasi tersebut menjadi peringatan bahwa dampak karhutla dapat meluas ketika pengendalian tidak dilakukan secara serius.

Karhutla Harus Dicegah, Bukan Sekadar Dipadamkan

Persoalan terbesar bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi mengapa kebakaran terus berulang.

Baca Juga :  Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini: Hujan Ringan Merata di Semua Wilayah

Penegakan hukum terhadap pembakar lahan harus berjalan. Pencegahan di kawasan rawan juga harus diperkuat.

Selain itu, masyarakat perlu mendapat edukasi mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar.

Pemerintah juga harus memastikan informasi kualitas udara dapat diterima masyarakat secara cepat dan mudah dipahami.

Sebab, masyarakat tidak cukup hanya diberi tahu bahwa udara berada dalam kategori tertentu. Mereka perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika kondisi udara berubah.

Masker Bukan Solusi Utama

Penggunaan masker memang menjadi langkah perlindungan sederhana. Namun, masker tidak boleh menjadi alasan untuk menganggap persoalan selesai.

Masker adalah tameng terakhir, bukan jawaban atas karhutla.

Sumber asap tetap harus dikendalikan. Titik api harus segera ditangani. Pelaku pembakaran harus diproses hukum. Sementara itu, masyarakat harus mendapat perlindungan ketika kualitas udara memburuk.

Jika sekolah masih dapat berjalan dengan aman, pendidikan tentu harus tetap berlangsung. Namun, ketika udara sudah membahayakan, keselamatan anak harus berada di urutan pertama.

Jangan Tunggu Anak Jatuh Sakit

Karhutla bukan bencana yang hanya merusak hutan.

Asapnya dapat masuk ke ruang hidup manusia. Anak-anak yang seharusnya belajar dan bermain justru harus memakai masker untuk menghindari udara yang tercemar.

Ini bukan kondisi yang boleh dianggap normal.

Pemerintah daerah, sekolah, orang tua dan masyarakat harus bergerak bersama.

Pantau kualitas udara, kurangi aktivitas luar ruangan saat kondisi memburuk dan segera mengambil langkah perlindungan jika muncul gejala gangguan kesehatan.

Pada akhirnya, anak-anak berhak mendapatkan dua hal sekaligus: pendidikan yang layak dan lingkungan yang aman untuk bernapas.

Jangan biarkan mereka tumbuh dengan anggapan bahwa memakai masker di tengah asap karhutla adalah sesuatu yang biasa. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KemenHAM Blusukan ke Flores, Bantuan Disalurkan ke Warga Terdampak Gempa
Gempa M7,7 NTT: 75 Orang Meninggal, 907 Luka dan 92.735 Mengungsi
Mengerikan! 9 Perempuan Diduga Disandera KKB di Jila Mimika, Ada Anak SD
Napi Asimilasi Lapas Warungkiara Kabur, Tinggal 2 Bulan Lagi Bebas
Cemburu Pacar, Mahasiswa Stikes Kendedes Malang Tewas Ditikam Teman
Gempa NTT: Korban Tewas Jadi 71 Orang, BMKG Catat 3.002 Gempa Susulan
Bocah 12 Tahun Meninggal di Rumah, Polisi Dalami Dugaan Pemicu Peristiwa
Hitadipa Jadi Kampung Papua Damai, TNI Dorong Warga Bangkit dan Sejahtera

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 07:59 WIB

Asap Karhutla Kepung Singkawang, Masker Bukan Solusi Utama

Kamis, 20 Agustus 2026 - 21:00 WIB

KemenHAM Blusukan ke Flores, Bantuan Disalurkan ke Warga Terdampak Gempa

Kamis, 20 Agustus 2026 - 20:44 WIB

Gempa M7,7 NTT: 75 Orang Meninggal, 907 Luka dan 92.735 Mengungsi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:56 WIB

Mengerikan! 9 Perempuan Diduga Disandera KKB di Jila Mimika, Ada Anak SD

Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Napi Asimilasi Lapas Warungkiara Kabur, Tinggal 2 Bulan Lagi Bebas

Berita Terbaru

Siswa menggunakan masker saat beraktivitas di tengah ancaman kabut asap karhutla di Singkawang, Kalimantan Barat.

DAERAH

Asap Karhutla Kepung Singkawang, Masker Bukan Solusi Utama

Jumat, 21 Agu 2026 - 07:59 WIB

Kebocoran video gameplay dan peta Leonida dari GTA 6 memicu tindakan takedown DMCA cepat dari Rockstar Games menjelang peluncuran trailer resmi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kebocoran Gameplay dan Peta GTA 6 Picu Langkah Hukum

Jumat, 21 Agu 2026 - 07:00 WIB

Bareskrim Polri memburu Yuwanky, bos Planet Batam yang masuk DPO kasus dugaan peredaran narkoba. (Posnews/Bareskrim)

JABODETABEK

Basri Sudah Ditangkap, Kini Bareskrim Kejar Yuwanky ke Singapura

Jumat, 21 Agu 2026 - 06:35 WIB