Era Post-Truth: Matinya Fakta dan Matinya Ruang Publik

Minggu, 14 Desember 2025 - 06:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Emosi kalahkan data? Selamat datang di era pasca-kebenaran. Simak bagaimana buzzer dan algoritma membunuh fakta dan memecah belah demokrasi kita. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Emosi kalahkan data? Selamat datang di era pasca-kebenaran. Simak bagaimana buzzer dan algoritma membunuh fakta dan memecah belah demokrasi kita. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID —  Kita sedang hidup di zaman yang sangat aneh. Data statistik yang valid sering kali kalah telak dalam perdebatan melawan emosi sesaat. Faktanya, kebenaran objektif tampaknya tidak lagi menjadi mata uang utama dalam percakapan publik.

Kamus Oxford mendefinisikan fenomena ini sebagai “Post-Truth” atau pasca-kebenaran. Istilah ini menggambarkan kondisi di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan daya tarik emosi dan keyakinan pribadi.

Akibatnya, masyarakat tidak lagi peduli apakah sebuah informasi itu benar atau salah. Yang terpenting, informasi tersebut harus sesuai dengan apa yang ingin mereka percayai.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mesin Propaganda: Buzzer dan Algoritma

Siapa dalang di balik kekacauan ini? Tentu saja, teknologi memegang peran sentral. Algoritma media sosial bekerja dengan cara yang licik.

Baca Juga :  Reformasi Hukum Tiongkok: NPC Sahkan 6 Undang-Undang Baru dan Revisi 14 Aturan Strategis

Sistem ini cenderung menyuguhkan konten yang memperkuat bias kita sendiri. Lantas, terciptalah ruang gema atau echo chamber. Kita hanya mendengar suara pantulan yang setuju dengan pendapat kita.

Selain itu, keberadaan pendengung bayaran atau buzzer memperkeruh suasana. Mereka memproduksi narasi palsu secara masif untuk memanipulasi sentimen. Seketika, kebohongan yang diulang seribu kali berubah menjadi “kebenaran” baru di mata pengikut fanatik.

Matinya Kepakaran dan Krisis Kepercayaan

Dampak paling menyedihkan adalah runtuhnya wibawa institusi tradisional. Dulu, masyarakat merujuk pada media massa, universitas, atau lembaga survei sebagai pemegang otoritas kebenaran.

Kini, kepercayaan itu telah luntur. Publik lebih percaya pada pesan berantai di grup WhatsApp keluarga daripada analisis profesor. Tom Nichols menyebut fenomena ini sebagai “Matinya Kepakaran” (The Death of Expertise).

Masyarakat memandang pakar dengan penuh curiga. Mereka menuduh ilmuwan atau jurnalis sebagai bagian dari elit korup yang memiliki agenda tersembunyi. Akhirnya, dialog rasional menjadi mustahil karena kita tidak lagi menyepakati fakta dasar yang sama.

Baca Juga :  Kasus Bocah SD di NTT, Menteri HAM Nilai Implementasi Daerah Bermasalah

Demokrasi Tanpa Konsensus

Bahaya terbesar mengintai sistem demokrasi kita. Demokrasi membutuhkan konsensus atau kesepakatan bersama untuk melahirkan kebijakan publik.

Namun, bagaimana kita bisa sepakat tentang solusi jika kita hidup dalam realitas fakta yang berbeda-beda? Satu kelompok meyakini bumi sedang memanas, sementara kelompok lain meyakini itu konspirasi elite global.

Oleh karena itu, polarisasi politik semakin tajam. Pemilu bukan lagi ajang adu gagasan, melainkan perang identitas yang brutal.

Menyelamatkan Nalar Publik

Pada akhirnya, kita harus segera bertindak sebelum nalar publik mati total. Literasi politik kritis menjadi vaksin utama.

Kita wajib memverifikasi setiap informasi sebelum membagikannya. Jangan biarkan emosi mengemudikan jempol kita. Ingatlah, demokrasi hanya bisa bertahan jika warganya masih menghargai kebenaran di atas fanatisme golongan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB