Trump Ulur Gencatan Senjata Iran atas Permintaan Pakistan

Rabu, 22 April 2026 - 08:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi di bawah bayang-bayang blokade. Presiden Donald Trump menyetujui perpanjangan gencatan senjata dengan Iran guna menunggu proposal perdamaian tunggal, namun militer AS tetap menutup rapat akses pelabuhan Teheran. Dok: Istimewa.

Diplomasi di bawah bayang-bayang blokade. Presiden Donald Trump menyetujui perpanjangan gencatan senjata dengan Iran guna menunggu proposal perdamaian tunggal, namun militer AS tetap menutup rapat akses pelabuhan Teheran. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat memberikan tambahan waktu bagi jalur diplomasi guna mengakhiri perang di Timur Tengah. Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa Washington memperpanjang masa gencatan senjata dengan Republik Islam Iran atas permintaan khusus dari pihak Pakistan.

Dalam konteks ini, Trump memilih menunda eskalasi militer lebih lanjut sembari menunggu dokumen “proposal terpadu” dari Teheran. Namun demikian, kesepakatan damai permanen masih jauh dari jangkauan karena posisi kedua belah pihak tetap keras di lapangan.

Syarat Perpanjangan dan Kelanjutan Blokade

Gencatan senjata yang seharusnya berakhir pada Rabu kini tetap berlaku hingga waktu yang tidak ditentukan. Trump menegaskan bahwa ia hanya akan mengakhiri jeda ini setelah proposal Iran diajukan dan diskusi selesai dilakukan.

“Saya telah memerintahkan militer kita untuk melanjutkan blokade,” tegas Trump. Oleh karena itu, meskipun bom berhenti berjatuhan, napas ekonomi Iran tetap tercekik. Militer AS secara aktif mencegah kapal komersial memasuki wilayah perairan Iran guna memaksa Teheran melepaskan cengkeramannya di Selat Hormuz. Jalur vital tersebut normalnya mengalirkan 20 persen energi dunia.

Baca Juga :  Donald Trump Ancam Putus Total Hubungan Dagang dengan Spanyol

Mediasi Pakistan dan Keraguan Teheran

Pemerintah Pakistan di bawah PM Shehbaz Sharif bekerja intensif selama 24 jam terakhir guna mencegah berakhirnya masa damai. Sebagai hasilnya, Islamabad berhasil meyakinkan Trump untuk tidak segera memulai kembali serangan udara.

Meskipun demikian, pihak Iran tampak masih enggan untuk kembali ke meja perundingan di Islamabad. Juru bicara Kemenlu Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa tindakan blokade Amerika Serikat merupakan hal yang “tidak dapat diterima”. Bahkan, komandan senior Garda Revolusi (IRGC) Majid Mousavi mengancam akan menghancurkan seluruh industri minyak di Timur Tengah jika perang pecah kembali. “Jika tetangga selatan membiarkan fasilitas mereka digunakan untuk menyerang Iran, katakan selamat tinggal pada produksi minyak regional,” ancam Mousavi.

Penangkapan Kapal M/T Tifani di Samudra Hindia

Di tengah ketidakpastian gencatan senjata, ketegangan maritim justru meluas hingga ke wilayah Asia. Pentagon mengonfirmasi bahwa pasukan AS berhasil menaiki dan mengamankan kapal tanker minyak M/T Tifani pada hari Selasa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam hal ini, kapal tersebut teridentifikasi sebagai kapal yang melanggar sanksi karena menyelundupkan minyak mentah Iran. Berdasarkan data pelacakan kapal, operasi pencegatan terjadi di perairan internasional antara Sri Lanka dan Indonesia. Oleh sebab itu, Washington menegaskan bahwa laut lepas bukanlah tempat perlindungan bagi kapal-kapal yang melanggar kebijakan sanksi Amerika Serikat.

Baca Juga :  Gunakan Jet Milik OSO, Menag Nasaruddin Umar Serahkan Laporan ke KPK

Progres Israel-Lebanon dan Biaya Manusia

Berbeda dengan kebuntuan AS-Iran, jalur diplomasi Israel dan Lebanon menunjukkan kemajuan positif. Delegasi kedua negara dijadwalkan melanjutkan pembicaraan langsung di Washington pada Kamis depan. Tujuannya adalah mencapai kesepakatan damai permanen dan pelucutan senjata Hezbollah pasca-gencatan senjata 10 hari di wilayah Lebanon.

Pada akhirnya, biaya manusia dari konflik tahun 2026 ini sudah terlalu besar. Data resmi mencatat sedikitnya 3.375 warga Iran dan 2.290 warga Lebanon telah tewas sejak awal pertempuran pada 28 Februari lalu. Dengan demikian, keberhasilan perundingan di Islamabad dan Washington menjadi satu-satunya cara untuk mencegah angka kematian ini terus membengkak dan menyelamatkan ekonomi dunia dari resesi energi yang parah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Buronan Narkoba 2 Wanita Diburu, Polisi Ungkap Peran Licin di Balik Layar
Tekanan Tiongkok Paksa Presiden Taiwan Batalkan Kunjungan ke Afrika
Aliansi Seoul-Washington: Komandan Militer AS Protes Dugaan Kebocoran Data Nuklir Korut
Kepentingan Bisnis di Atas Segalanya: Ceko Tolak Fasilitas Negara untuk Misi ke Taiwan
Gas Bocor Berujung Petaka, Ledakan Dahsyat Lukai Satu Keluarga di Pandeglang
Pulang Malam Berujung Maut, Dua Pelajar Diserang Air Keras di Bogor
Skandal Saham HYBE: Polisi Seoul Incar Penangkapan Bang Si-Hyuk atas Dugaan Penipuan $136 Juta
Pemerintah Incar Saham dan Dana $16 Juta Milik Jimmy Lai

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 19:10 WIB

Buronan Narkoba 2 Wanita Diburu, Polisi Ungkap Peran Licin di Balik Layar

Rabu, 22 April 2026 - 18:46 WIB

Tekanan Tiongkok Paksa Presiden Taiwan Batalkan Kunjungan ke Afrika

Rabu, 22 April 2026 - 17:38 WIB

Aliansi Seoul-Washington: Komandan Militer AS Protes Dugaan Kebocoran Data Nuklir Korut

Rabu, 22 April 2026 - 16:27 WIB

Kepentingan Bisnis di Atas Segalanya: Ceko Tolak Fasilitas Negara untuk Misi ke Taiwan

Rabu, 22 April 2026 - 15:52 WIB

Gas Bocor Berujung Petaka, Ledakan Dahsyat Lukai Satu Keluarga di Pandeglang

Berita Terbaru