Iran Siap Negosiasi, Trump Tetapkan Deadline Rahasia

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung Putih main rahasia. Trump akui ada dialog dengan Teheran, namun tolak bocorkan strategi ke Arab Saudi karena takut rencana itu

Gedung Putih main rahasia. Trump akui ada dialog dengan Teheran, namun tolak bocorkan strategi ke Arab Saudi karena takut rencana itu "lebih buruk" dari dugaan. Dok: VCG.

TEHERAN/WASHINGTON/ISTANBUL, POSNEWS.CO.ID – Di tengah kepungan armada militer Amerika Serikat yang kian mendekat, Iran mengirimkan sinyal diplomatik baru. Pada hari Jumat (30/1), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran tidak mencari perang dan terbuka untuk negosiasi, namun dengan syarat ketat: harus berbasis “martabat” dan rasa saling menghormati.

Pezeshkian menyampaikan pesan ini dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Uni Emirat Arab, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

“Pendekatan Iran berakar pada diplomasi berbasis martabat (dignity-based diplomacy), penghormatan terhadap hukum internasional, dan penolakan terhadap ancaman atau paksaan,” tegas Pezeshkian.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, ia tetap menyisipkan peringatan: Iran akan menyambut setiap agresi dengan respons segera dan tegas.

Deadline Misterius Trump

Di sisi lain samudra, Presiden AS Donald Trump terus menekan tombol eskalasi. Ia mengonfirmasi telah memberikan tenggat waktu (deadline) kepada Iran untuk mencapai kesepakatan. Uniknya, Trump merahasiakan kapan tenggat waktu itu berakhir.

“Hanya mereka yang tahu pasti,” ujar Trump kepada wartawan, membiarkan ketidakpastian menggantung di udara.

Baca Juga :  Transisi Kualitas Tinggi China Jadi Penyelamat Stabilitas Ekonomi

Trump menegaskan kembali bahwa kekuatan angkatan laut AS yang besar, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, sedang bergerak mendekat ke Iran. Washington berharap mencapai kesepakatan, namun siap untuk “hasil lain” jika pembicaraan gagal.

Jurang Pemisah: Uranium vs Rudal

Celah antara tuntutan kedua pihak masih menganga lebar. Washington menuntut paket lengkap: larangan pengayaan uranium, pemindahan material nuklir ke luar negeri, pembatasan rudal jarak jauh, dan penghentian dukungan untuk sekutu regional.

Teheran menolak mentah-mentah syarat tersebut.

Di Istanbul, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan mitranya dari Turki. Araghchi menegaskan bahwa kemampuan pertahanan dan rudal Iran tidak akan pernah menjadi subjek negosiasi. Ia menekankan kesiapan untuk pembicaraan yang “adil dan setara”, tetapi tidak di bawah bayang-bayang ancaman.

Tetangga Menutup Pintu untuk Perang

Ketakutan akan konflik yang meluas memicu manuver diplomatik regional. Kekuatan regional seperti Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Oman dilaporkan menekan Gedung Putih untuk mencegah eskalasi yang dapat mengganggu pasar energi global.

Baca Juga :  AS-Iran di Ambang Perang: Teheran Tuntut Perubahan

Negara-negara tetangga Iran juga mengambil langkah pengamanan diri. Azerbaijan pada hari Kamis menyatakan tidak akan pernah mengizinkan pihak mana pun menggunakan wilayah atau ruang udaranya untuk operasi militer melawan Iran. Sekutu dekat AS, Arab Saudi dan UAE, telah mengucapkan ikrar serupa.

Israel Siaga Satu

Sementara itu, Israel menempatkan aparat keamanannya dalam siaga tinggi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengadakan konsultasi keamanan darurat dengan penasihat senior dan pejabat pertahanan.

Laporan Channel 12 Israel menyebutkan bahwa pejabat Yerusalem meyakini serangan AS—jika terjadi—kemungkinan akan fokus pada aset fisik, terutama program nuklir dan rudal Iran, bukan untuk menggulingkan rezim. Israel bersiap menghadapi kemungkinan pembalasan signifikan dari Iran jika AS melaksanakan serangan itu.

Pejabat AS menyatakan Trump masih meninjau opsinya. Perintah serangan potensial bisa turun dalam beberapa hari mendatang, begitu militer AS menyelesaikan penyebarannya di kawasan sepenuhnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Xinhua News Agency

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia
Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang
Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik
Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel
WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global
Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas
Brimob Polda Metro Gagalkan Tawuran dan Balap Liar, Celurit hingga Narkoba Disita
SpaceX Uji Coba Roket Terkuat dalam Sejarah Jelang Misi Bulan

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:24 WIB

Sempat Ditangkap Israel, 9 WNI Relawan Gaza Akhirnya Tiba di Indonesia

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:00 WIB

Bareskrim Selidiki Blackout Sumatera, Kabel SUTET Putus di Jambi Diuji Forensik

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Berita Terbaru

Misi merajut kembali aliansi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi India untuk memulihkan hubungan yang sempat retak akibat sengketa tarif dan perbedaan pandangan strategis terkait kawasan Asia Selatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marco Rubio Lawat India guna Pulihkan Hubungan Dagang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:14 WIB

Sanksi diplomatik Paris. Pemerintah Prancis resmi melarang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memasuki wilayahnya sebagai respons atas sikap kontroversialnya terhadap aktivis bantuan Gaza. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Prancis Larang Masuk Menteri Keamanan Israel

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:11 WIB

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat internasional. Dok: (AP Photo/Moses Sawasawa)

KESEHATAN

WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:06 WIB