Keluarga Korban Bondi Tuntut Royal Commission: Desak Penyelidikan Nasional Antisemitisme

Selasa, 30 Desember 2025 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Mencari keadilan dan kohesi sosial. Sidang umum perdana Komisi Kerajaan Australia resmi berjalan untuk menyelidiki lonjakan antisemitisme dan mengevaluasi celah keamanan nasional setelah tragedi penembakan Hanukkah di Bondi Beach. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Mencari keadilan dan kohesi sosial. Sidang umum perdana Komisi Kerajaan Australia resmi berjalan untuk menyelidiki lonjakan antisemitisme dan mengevaluasi celah keamanan nasional setelah tragedi penembakan Hanukkah di Bondi Beach. Dok: Istimewa.

CANBERRA, POSNEWS.CO.ID – Duka mendalam di Australia kini berubah menjadi tuntutan keras. Keluarga para korban penembakan massal Pantai Bondi secara resmi mendesak pemerintah federal pada Senin (29/12/2025).

Sebanyak 17 keluarga bersatu mengirimkan surat terbuka kepada Perdana Menteri Anthony Albanese. Intinya, mereka menuntut pembentukan “Commonwealth Royal Commission” atau komisi penyelidikan kerajaan tingkat nasional.

Mereka bertujuan menyelidiki lonjakan antisemitisme yang cepat di Australia. Selain itu, keluarga korban meminta evaluasi menyeluruh. Mereka menyoroti dugaan kegagalan penegakan hukum, intelijen, dan kebijakan yang memicu pembantaian tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami menuntut jawaban dan solusi,” tegas keluarga korban dalam surat itu.

Tanda Peringatan yang Diabaikan?

Keluarga korban mempertanyakan kinerja aparat keamanan. Pasalnya, mereka menduga aparat mengabaikan tanda-tanda peringatan yang jelas.

Baca Juga :  Tambang Emas Ilegal Guncang Negara, Dana Haram Rp992 Triliun Dibongkar PPATK

Pelaku serangan adalah ayah dan anak, Sajid (50) dan Naveed Akram (24). Mereka menargetkan acara Hanukkah di pantai ikonik Sydney pada 14 Desember lalu. Akibatnya, serangan teror antisemit ini menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya.

“Kami perlu tahu alasan kebencian antisemit dan ekstremisme Islam tumbuh tanpa kendali,” tambah surat tersebut.

Menurut keluarga, respons pemerintah federal sejauh ini “belum cukup”. Mereka menegaskan bahwa pemerintah berutang kebenaran dan akuntabilitas kepada seluruh rakyat Australia.

Albanese Menolak: “Jangan Tunggu Bertahun-tahun”

Merespons desakan tersebut, PM Albanese mengambil sikap defensif. Ia menolak mentah-mentah seruan penyelidikan federal. Alasannya, Australia membutuhkan tindakan segera, bukan proses birokrasi yang memakan waktu lama.

“Kita perlu melanjutkan perubahan yang diperlukan,” ujar Albanese kepada wartawan.

Ia berdalih bahwa tugasnya adalah membangun persatuan dan kohesi sosial. Oleh karena itu, ia menilai komisi kerajaan tingkat negara bagian New South Wales (NSW) sudah cukup memadai. Ia pun menjanjikan dukungan penuh untuk itu.

Baca Juga :  Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Menteri Dalam Negeri Tony Burke menambahkan peringatan lain. Menurutnya, komisi nasional justru berisiko memberikan panggung bagi “suara-suara terburuk”. Ia khawatir forum tersebut akan menghidupkan kembali contoh antisemitisme yang merusak persatuan nasional.

Komunitas Yahudi: Pemerintah Tidak Mendengar

Sebaliknya, komunitas Yahudi dan pakar hukum mendukung penuh tuntutan keluarga. Alex Ryvchin, co-CEO Dewan Eksekutif Yahudi Australia, menilai pemerintah mengabaikan aspirasi korban.

“Hanya komisi kerajaan yang memiliki kekuatan koersif untuk mengungkap masalah sampai ke akarnya,” tegas Ryvchin kepada ABC.

Kini, nasib penanganan kasus ini masih menjadi perdebatan politik. Naveed Akram, warga negara kelahiran Australia, masih mendekam di tahanan. Ia menghadapi dakwaan terorisme dan 15 pembunuhan. Sementara itu, polisi menembak mati ayahnya, warga negara India, di lokasi kejadian.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara
Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Berita Terbaru

Samsung dikabarkan garap tablet lipat 17 inci yang bisa dilipat jadi 8 inci. Simak bocoran spesifikasi, konsep desain, dan persaingannya dengan Apple. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Samsung Garap Tablet Lipat Raksasa 17 Inci

Minggu, 1 Nov 2026 - 10:21 WIB

Funcom umumkan ekspansi gratis Blood and Ice untuk Dune: Awakening yang rilis 1 Desember 2026. Simak rincian peta es, mode offline. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Funcom Siapkan Ekspansi Gratis Blood and Ice untuk Dune

Minggu, 1 Nov 2026 - 09:09 WIB