WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Hubungan antara Gedung Putih dan Takhta Suci kini berada di titik nadir. Kondisi ini memburuk setelah Presiden Donald Trump memperbarui serangannya terhadap Paus Leo XIV. Selain itu, pernyataan tajam ini muncul menjelang rencana kunjungan Sekretaris Negara Marco Rubio ke Vatikan.
Dalam wawancara pada hari Senin, Trump menuduh pontifex kelahiran Amerika pertama itu membantu kepentingan Teheran. Akibatnya, Trump mengeklaim komentar Paus mengenai imigrasi dan perdamaian membuat dunia tidak aman.
Tuduhan Nuklir dan Respon Takhta Suci
Trump melontarkan tuduhan serius mengenai posisi Paus dalam konflik Timur Tengah. “Paus justru menganggap Iran boleh memiliki senjata nuklir,” ujar Trump. Oleh karena itu, ia memandang sikap tersebut membahayakan jutaan umat Katolik dan masyarakat dunia.
Namun, Paus Leo XIV segera memberikan klarifikasi tegas guna meluruskan fakta. Berbicara kepada wartawan pada Selasa, Paus mengingatkan prinsip lama Gereja Katolik. Ia menegaskan bahwa Gereja menentang semua senjata nuklir tanpa keraguan sedikit pun.
“Misi Gereja adalah mewartakan Injil dan perdamaian. Silakan kritik saya jika saya mewartakan Injil, tapi lakukanlah dengan kebenaran,” tegas Paus Leo. Meskipun demikian, ia tetap mendasarkan seruan dialog dalam perang Amerika-Israel di Iran pada ajaran Alkitab. Ia menolak anggapan bahwa sikapnya merupakan bentuk persaingan politik terhadap Trump.
Misi Sulit Marco Rubio di Roma
Di sisi lain, Marco Rubio menghadapi tugas berat untuk meredam keretakan ini. Ia akan bertemu dengan Paus pada hari Kamis mendatang. Sebagai umat Katolik taat, Rubio mengecilkan perselisihan tersebut. Ia menyebut kritik Trump berakar pada kekhawatiran terhadap ancaman nuklir Iran.
Walaupun demikian, banyak pihak memprediksi retorika keras Trump akan menyulitkan posisi tawar Rubio di Vatikan. Rubio sering menerima mandat untuk memperhalus bahasa diplomasi Trump terkait Eropa dan NATO. Terlebih lagi, perselisihan ini memiliki implikasi politik domestik menjelang pemilihan kongres paruh waktu di Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Spillover Politik: Meloni dan Tajani Angkat Bicara
Ketegangan ini ternyata juga merembet ke politik domestik Italia. Secara khusus, Perdana Menteri Giorgia Meloni menunjukkan keberatan atas komentar Trump terhadap Paus. Meloni sendiri selama ini menyandang status sebagai sekutu lama Trump di Eropa.
Sebagai balasan, Trump mengalihkan kemarahannya kepada Meloni dan sekutu NATO lainnya. Ia menuduh mereka kurang memberikan dukungan militer melawan Iran. Maka dari itu, rencana Pentagon menarik ribuan pasukan AS dari Jerman semakin memperuncing ketegangan ini.
Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, turut membela Vatikan melalui media sosial. Tajani menyatakan bahwa komentar Trump tidak membantu upaya perdamaian. “Kata-kata Paus Leo membuktikan komitmen pada dialog dan nilai kehidupan manusia,” tulis Tajani.
Diplomasi di Titik Kritis
Pada akhirnya, pertemuan Rubio dengan para pemimpin Italia pada hari Jumat akan menentukan arah hubungan transatlantik. Perselisihan dengan pemimpin agama paling berpengaruh di dunia ini menambah beban baru bagi Washington. Hal ini terjadi saat blokade Selat Hormuz sedang melumpuhkan ekonomi global.
Singkatnya, pertemuan ini akan menguji kemampuan Rubio dalam menjembatani visi agresif Trump dan prinsip kemanusiaan Vatikan. Masyarakat internasional kini menanti hasil diplomasi di Roma. Mereka ingin melihat apakah pertemuan tersebut mampu meredakan bara konflik antara Washington dan sekutu Eropanya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















