Krisis di Kruger: Perburuan Badak Melonjak Dua Kali Lipat

Rabu, 18 Februari 2026 - 17:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Prahara di habitat liar. Meskipun angka perburuan badak secara nasional di Afrika Selatan menurun, Taman Nasional Kruger justru mencatat lonjakan pembantaian yang mengkhawatirkan akibat keterlibatan oknum internal. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Prahara di habitat liar. Meskipun angka perburuan badak secara nasional di Afrika Selatan menurun, Taman Nasional Kruger justru mencatat lonjakan pembantaian yang mengkhawatirkan akibat keterlibatan oknum internal. Dok: Istimewa.

KRUGER, POSNEWS.CO.ID – Afrika Selatan menghadapi realitas pahit dalam upaya perlindungan satwa ikoniknya. Pemerintah melaporkan bahwa perburuan badak di Taman Nasional Kruger meningkat hampir 100 persen dalam satu tahun terakhir.

Taman Nasional Kruger merupakan salah satu taman nasional terbesar di Afrika. Wilayah ini kehilangan 175 badak sepanjang tahun 2025. Padahal, otoritas hanya mencatat 88 kasus perburuan di lokasi yang sama pada tahun sebelumnya. Perbedaan angka yang mencolok ini memicu tanda tanya besar mengenai efektivitas sistem pengamanan di garis depan.

Keberhasilan Nasional dan Pengkhianatan Internal

Meskipun situasi di Kruger memburuk, data nasional menunjukkan tren yang berbeda. Secara keseluruhan, para pemburu membunuh 352 badak di seluruh Afrika Selatan tahun lalu. Angka ini merupakan penurunan sebesar 16 persen dibandingkan tahun 2024.

Kementerian Lingkungan Hidup mengeklaim program dehorning (pemotongan cula) dan penggunaan kamera serta sensor canggih telah membuahkan hasil positif secara umum. Namun demikian, Taman Nasional Kruger menemukan fakta yang mengecewakan di dalam tubuh organisasi mereka. Otoritas menemukan hubungan antara lonjakan perburuan dengan kegagalan tes poligraf di kalangan jagawana. Alhasil, pengelola taman nasional memecat tujuh staf karena dugaan keterlibatan dengan jaringan kriminal perburuan liar.

Populasi Badak dan Status Kritis

Afrika Selatan tetap memegang peran krusial karena menjadi rumah bagi populasi badak terbesar di dunia. Berdasarkan data International Rhino Foundation, negara ini memiliki sekitar 14.390 ekor badak pada akhir 2024.

Lebih dari 80 persen dari populasi tersebut merupakan badak putih. Sebaliknya, kondisi badak hitam tetap sangat rentan. Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) masih mencantumkan spesies badak hitam ke dalam kategori sangat terancam punah. Pemerintah sendiri tidak memerinci apakah hewan yang menjadi korban perburuan tersebut merupakan spesies putih atau hitam.

Baca Juga :  Alfred Nobel: Raja Dinamit yang Mewariskan Perdamaian

Kontroversi Kuota Ekspor Trofi Berburu

Di tengah ancaman perburuan, Menteri Lingkungan Hidup Willie Aucamp mengajukan usulan yang memicu perdebatan. Ia berencana memperkenalkan kembali kuota ekspor terbatas untuk trofi berburu gajah, badak hitam, dan macan tutul. Langkah ini muncul setelah masa pembekuan kebijakan tersebut selama empat tahun.

Kuota yang pemerintah usulkan mencakup 150 gajah, 12 badak hitam, dan 11 macan tutul. Pemerintah berargumen bahwa populasi gajah liar telah tumbuh pesat sebesar 41 persen menjadi 43.680 ekor. Selain itu, kuota untuk badak hitam mengacu pada ketentuan CITES yang menetapkan batas ekspor trofi jantan dewasa tidak boleh melebihi 0,5 persen dari total populasi. Langkah ini bertujuan untuk memberikan insentif ekonomi bagi peternak margasatwa yang selama ini merasa frustrasi akibat pembatasan perdagangan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hakim AS Tunda Penyatuan Raksasa Paramount dan Warner Bros
Andy Burnham Resmi Mengambil Alih Kepemimpinan Inggris
Parlemen Jepang Gagal Sepakati Pemotongan Pajak Makanan
Menlu ASEAN Kumpul Bahas Tensi Hormuz dan South China Sea
9 Warga Sipil Gaza Tewas Akibat Gempuran Udara
Tensi Hormuz Membara: Gempuran Udara dan Rudal Iran
6 Warga Meninggal dan Puluhan Rumah Hancur di Chupaca
Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal Balistik: Zelenskyy Desak Sekutu

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:29 WIB

Hakim AS Tunda Penyatuan Raksasa Paramount dan Warner Bros

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:30 WIB

Andy Burnham Resmi Mengambil Alih Kepemimpinan Inggris

Senin, 20 Juli 2026 - 22:25 WIB

Parlemen Jepang Gagal Sepakati Pemotongan Pajak Makanan

Senin, 20 Juli 2026 - 21:17 WIB

Menlu ASEAN Kumpul Bahas Tensi Hormuz dan South China Sea

Senin, 20 Juli 2026 - 10:44 WIB

9 Warga Sipil Gaza Tewas Akibat Gempuran Udara

Berita Terbaru