Matinya Tulisan Sambung: Mengapa Otak Kita Lebih Cerdas Saat Memegang Pena?

Minggu, 18 Januari 2026 - 21:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Melampaui kata-kata. Ilmu semantik mengungkapkan bahwa makna sejati sebuah istilah tidak terletak pada deretan kalimat di kamus, melainkan pada reaksi manusia dan kesepakatan sosial di baliknya. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Melampaui kata-kata. Ilmu semantik mengungkapkan bahwa makna sejati sebuah istilah tidak terletak pada deretan kalimat di kamus, melainkan pada reaksi manusia dan kesepakatan sosial di baliknya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Tammy Chou masih ingat betul rapor sekolahnya di tahun 1970-an. Di sana, “Menulis Tangan” adalah mata pelajaran yang berdiri sejajar dengan Matematika. Namun, satu dekade kemudian, saat adiknya bersekolah, pelajaran itu lenyap, melebur ke dalam Bahasa Inggris.

Hari ini, pergeseran itu makin ekstrem. Kurikulum Common Core 2013 di Amerika Serikat hanya mewajibkan pengajaran menulis terbaca di dua tahun pertama sekolah. Setelah itu? Prioritas beralih total ke penguasaan papan ketik (keyboarding).

Tammy, yang kini bekerja di bidang rekrutmen, merasa ada yang hilang. “Saya masih menilai pelamar dari kerapian tulisan mereka saat mengisi formulir,” ujarnya. Baginya, tidak ada yang lebih mengecewakan daripada kartu ucapan dengan pesan yang dicakar ayam.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, kekhawatiran Tammy bukan sekadar nostalgia estetika. Para psikolog dan ahli saraf kini membunyikan alarm ilmiah: otak manusia bekerja berbeda saat tangan memegang pena.

Otak yang “Menyala”

Karin James, peneliti dari Universitas Indiana, melakukan eksperimen yang membuka mata. Ia meminta anak-anak yang belum bisa membaca untuk mereproduksi huruf dengan tiga cara: menjiplak, mengetik, atau menggambarnya secara bebas di kertas.

Baca Juga :  Kaset Fisik PlayStation Segera Punah Mulai 2028

Hasil pemindaian otak sungguh mencolok. Anak-anak yang menulis tangan (menggambar huruf bebas) menunjukkan lonjakan aktivitas saraf di fusiform gyrus kiri dan posterior parietal cortex.

“Ini adalah area yang aktif saat orang dewasa membaca atau menulis,” jelas James. Sebaliknya, otak anak-anak yang hanya mengetik atau menjiplak tampak jauh lebih redup.

James berspekulasi bahwa variasi dalam tulisan tangan—membuat huruf ‘F’ yang sedikit berbeda setiap kali—memaksa otak untuk belajar lebih keras. Pengenalan variasi ini menanamkan representasi huruf lebih permanen daripada sekadar memencet tombol seragam di komputer.

Mengetik: Cepat tapi Dangkal?

Victoria Berninger dari Universitas Washington memperdalam temuan ini. Ia membuktikan bahwa menulis halus (cursive), mencetak (printing), dan mengetik dikendalikan oleh pola otak yang terpisah.

Temuannya menohok bagi pendukung digitalisasi total. Anak-anak yang menulis tangan ternyata menghasilkan kata-kata lebih cepat daripada mereka yang mengetik (kecuali yang sudah ahli mengetik 10 jari). Lebih parah lagi, kualitas ide dari pengetik secara konsisten lebih rendah.

Di tingkat universitas, Pam Mueller dan Daniel Oppenheimer menemukan bahwa mahasiswa yang mencatat dengan tangan belajar lebih baik. Mengapa? Karena mengetik sering kali hanya menjadi transkripsi tanpa pikir panjang (mindless transcription). Sebaliknya, menulis tangan memaksa otak untuk merenung, memproses, dan meringkas informasi sebelum mencatatnya.

Baca Juga :  Ditpolairud Polda Metro Siaga, Evakuasi Warga Terdampak Banjir 70 Cm Pondok Karya

Ancaman Hilangnya Budaya

Selain aspek kognitif, ada kekhawatiran budaya. Valerie Hotchkiss, seorang pustakawan naskah kuno, cemas akan masa depan di mana generasi muda tidak bisa lagi membaca tulisan sambung.

Perpustakaannya menyimpan arsip raksasa sastra seperti Mark Twain dan Marcel Proust. “Jika generasi muda tidak belajar tulisan sambung, kemampuan mereka untuk memecahkan kode dokumen lama mungkin akan terganggu, dan budaya akan hilang,” peringatnya.

Bahkan, menulis sambung (cursive) kini diusulkan sebagai terapi untuk disleksia dan dysgraphia (kesulitan menulis), karena aliran huruf yang bersambung membantu penderita membedakan huruf yang mirip seperti ‘b’ dan ‘d’.

Namun, tidak semua setuju. Paul Bloom dari Yale University skeptis. Ia mengingatkan bahwa di masa lalu yang “indah”, anak-anak juga sering menyalin tanpa berpikir saat latihan menulis indah. Bagi Bloom, pendidikan di era digital yang kompleks harus terus bergerak maju, bukan terjebak romantisme pena dan tinta.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Dell resmi merilis trio laptop gaming Alienware terbaru yang mengusung chipset Intel Core Ultra 9 dan kartu grafis hingga Nvidia GeForce RTX 5090. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Dell Rilis Trio Alienware 16X Aurora, Area-51 16, dan Area-51

Minggu, 2 Agu 2026 - 15:12 WIB