Perang Asimetris: Saat yang Lemah Melawan yang Kuat

Kamis, 13 November 2025 - 17:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Perang Asimetris adalah strategi David vs. Goliath. Pihak yang lemah menghindari kekuatan militer, dan menyerang kelemahan politik dan psikologis pihak yang kuat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Perang Asimetris adalah strategi David vs. Goliath. Pihak yang lemah menghindari kekuatan militer, dan menyerang kelemahan politik dan psikologis pihak yang kuat. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dalam sejarah, kita sering membayangkan perang sebagai pertarungan simetris: dua tentara dengan kekuatan seimbang bertemu di medan perang. Namun, sebagian besar konflik modern tidak terlihat seperti itu. Sebaliknya, kita menyaksikan pertarungan “David vs. Goliath”.

Secara definisi, Perang Asimetris adalah konflik antara dua aktor yang memiliki perbedaan kekuatan militer, teknologi, dan sumber daya yang sangat signifikan. Pihak yang lemah menghadapi negara adidaya yang memiliki tank, jet tempur, dan satelit.

Oleh karena itu, pihak yang lemah tidak bisa menang dengan bertarung secara adil. Maka, mereka harus mengubah aturan main.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Taktik Pihak Lemah: Mengubah Kelemahan Menjadi Kekuatan

Karena mereka tidak bisa menghancurkan tank musuh dalam pertempuran terbuka, pihak yang lemah mengadopsi strategi yang menargetkan kelemahan terbesar musuh mereka: kemauan politik dan opini publik di negara asal.

Taktik mereka berfokus pada pertempuran jangka panjang untuk menguras sumber daya dan kesabaran musuh:

  1. Perang Gerilya: Alih-alih pertempuran besar, pejuang gerilya beroperasi dalam unit-unit kecil. Selanjutnya, mereka menyergap patroli, berbaur dengan penduduk sipil, dan menghilang. Tujuannya adalah menciptakan kondisi “berdarah” terus-menerus tanpa ada kemenangan yang jelas bagi musuh.
  2. Terorisme dan Sabotase: Selain itu, mereka menggunakan terorisme untuk menciptakan ketakutan dan menunjukkan bahwa pemerintah (atau kekuatan pendudukan) tidak mampu menjamin keamanan. Mereka juga mengandalkan sabotase, menargetkan infrastruktur seperti pipa minyak atau jembatan.
  3. IEDs (Improvised Explosive Devices): Bom rakitan pinggir jalan menjadi senjata pilihan. IED murah untuk dibuat namun sangat efektif untuk menghancurkan kendaraan lapis baja bernilai jutaan dolar. Lebih penting lagi, IED menciptakan stres psikologis yang konstan pada pasukan musuh.
  4. Perang Informasi: Pihak lemah menggunakan propaganda untuk menggambarkan pihak kuat sebagai “penjajah” brutal. Akibatnya, mereka berusaha memenangkan dukungan lokal dan mempengaruhi opini publik internasional.
Baca Juga :  Eksistensialisme di Abad 21: Menemukan Makna di Dunia yang Tampak Absurd

Strategi Pihak Kuat: ‘Memenangkan Hati dan Pikiran’

Di sisi lain, pihak yang kuat (Goliath) dengan cepat menyadari bahwa kekuatan militer superior mereka tidak cukup. Bahkan, mengebom sebuah desa untuk membunuh satu penembak jitu adalah kekalahan strategis, karena tindakan itu menciptakan 10 musuh baru dari keluarga korban.

Oleh karena itu, militer modern mengembangkan strategi Kontra-Pemberontakan (COIN / Counter-insurgency).

Fokus COIN bergeser dari “membunuh musuh” menjadi “melindungi rakyat”. Tujuannya adalah memisahkan pemberontak dari penduduk sipil yang menyembunyikan mereka. Ini adalah upaya “memenangkan hati dan pikiran” (winning hearts and minds) melalui pembangunan sekolah, jalan, dan pemerintahan lokal yang bersih.

Namun, strategi COIN sangat sulit, mahal, dan membutuhkan waktu puluhan tahun, sehingga seringkali melebihi kesabaran politik negara demokrasi.

Baca Juga :  Misteri Manusia Mungo: Jejak Kuno 40.000 Tahun

Studi Kasus Sejarah: Vietnam dan Afghanistan

Sejarah penuh dengan contoh kegagalan Goliath:

  • Perang Vietnam: Sebagai contoh, Amerika Serikat memenangkan setiap pertempuran besar melawan Viet Cong. Akan tetapi, Viet Cong memenangkan perang. Mereka menggunakan terowongan, perang gerilya, dan dukungan rakyat untuk bertahan lebih lama dari kemauan politik AS. Pada akhirnya, opini publik di AS menentang perang, dan AS terpaksa mundur.
  • Perang Afghanistan: Demikian pula, Afghanistan menjadi “kuburan negara adidaya”. Pertama, Uni Soviet gagal menaklukkan Mujahidin pada 1980-an. Kemudian, AS dan NATO menghabiskan 20 tahun (2001-2021) melawan Taliban. Meskipun AS memiliki drone dan teknologi superior, Taliban menggunakan IED, tempat perlindungan di Pakistan, dan kesabaran tanpa batas. Akhirnya, AS menarik diri, dan Taliban mengambil alih kembali negara itu.

Kesimpulan: Perang Politik Mengalahkan Perang Militer

Maka, Perang Asimetris mengajarkan kita satu pelajaran penting: kekuatan militer superior tidak menjamin kemenangan jika lawannya tidak mau bertarung dengan aturan yang sama.

Pihak yang lemah mengganti tank dengan kesabaran, mengganti jet tempur dengan dukungan ideologis, dan mengganti pertempuran terbuka dengan serangan psikologis.

Pada akhirnya, dalam perang asimetris, pihak yang memiliki kemauan politik lebih besar dan mampu bertahan paling lama adalah pihak yang akan menentukan hasil akhir, bukan pihak yang memiliki senjata paling canggih.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru

 Intel mengonfirmasi bahwa arsitektur CPU Nova Lake (Core Ultra 400) akan meluncur lebih dulu untuk desktop gaming sebelum hadir di lini server data center. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Intel Prioritaskan CPU Nova Lake untuk Desktop Gaming

Kamis, 20 Agu 2026 - 15:20 WIB

Xiaomi merilis Redmi M100 di Tiongkok dengan baterai jumbo 7.900 mAh, layar 6,9 inci 120Hz, dan chip Snapdragon 4 Gen 5. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Redmi M100 Meluncur di Tiongkok: Mengusung Baterai Jumbo

Kamis, 20 Agu 2026 - 13:15 WIB