Petani Jepang Ubah Jadwal Kerja Jadi Malam Hari

Kamis, 20 Agustus 2026 - 06:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Petani di Jepang mulai bekerja malam hari untuk menghindari terik matahari mematikan, seiring gelombang panas ekstrem. Dok: Istimewa.

Petani di Jepang mulai bekerja malam hari untuk menghindari terik matahari mematikan, seiring gelombang panas ekstrem. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, NIKKO — Lama setelah matahari terbenam, rumah kaca Motoaki Iijima di utara Tokyo bersinar bagaikan lentera. Petani bunga ini memanen gerbera merah muda dan oranye sambil menghindari terik siang yang cukup mematikan.

Gelombang Panas Ubah Ritme Kerja Petani

Gelombang panas yang semakin intens mengubah musim panas Jepang menjadi ujian bertahan hidup. Petani, mulai dari penanam bunga dan asparagus hingga peternak telur, kini menulis ulang jadwal kerja agraris mereka.

Jam siang yang dulu sibuk kini dihindari sebagai ancaman mematikan. Sebagai gantinya, mereka beralih ke kerja setelah gelap untuk melindungi tanaman, ternak, dan diri mereka sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perubahan Drastis Iijima Sejak Insiden Heatstroke

Iijima, 36 tahun, mengubah lahan sawah keluarganya yang berusia berabad-abad di Nikko menjadi kebun bunga sepuluh tahun lalu. Tiga tahun lalu, seorang pekerja paruh waktunya mengalami heatstroke saat memetik bunga matahari di rumah kaca, sehingga Iijima membuat perubahan drastis.

Baca Juga :  Korea Utara Luncurkan Rentetan Rudal saat Jepang-Korsel Perkuat Aliansi

Suhu luar di atas 35 derajat Celsius, yang kini semakin umum di wilayahnya, dapat mendorong suhu dalam rumah kaca melampaui 40 derajat Celsius. Kini, Iijima bekerja di luar ruangan sepanjang malam, dan hanya berhenti saat matahari pagi mulai menyengat kembali.

Iijima menyebut jam-jam senja sebagai waktu paling berharga, saat mereka bisa berada di luar ruangan. Ia mengaku dirinya dan pekerjanya perlahan menjadi nokturnal demi melindungi tubuh dan pada akhirnya, nyawa mereka.

Tren Global Petani Bekerja di Malam Hari

Dari petani padi di Vietnam hingga pekerja kilang anggur di Spanyol, petani di seluruh dunia mulai menggeser jam kerja ke waktu malam dan pagi yang lebih sejuk. Langkah ini mereka ambil untuk mengatasi gelombang panas yang semakin sering dan intens.

Jepang tergolong sangat rentan karena sekitar 70 persen petaninya berusia 65 tahun ke atas. Kelompok usia ini sangat rentan terhadap stres panas, dan kelembapan tinggi semakin memperbesar bahaya tersebut.

Korban Jiwa di Kalangan Petani Lanjut Usia

Sebanyak 59 pekerja pertanian meninggal akibat panas ekstrem pada 2024, angka rekor yang lebih dari dua kali lipat dibanding 2021. Survei Asosiasi Cuaca Jepang tahun lalu menemukan sekitar 60 persen petani berusia 20-50 tahun pernah mengalami heatstroke atau mengenal seseorang yang mengalaminya.

Baca Juga :  Kecemasan Iklim: Beban Psikologis Baru Generasi Muda

Hampir 60 persen petani juga menggeser jam kerja mereka menjadi lebih pagi atau lebih malam. Menurut Lancet Countdown, kolaborasi riset yang melacak dampak kesehatan perubahan iklim, paparan panas merugikan sektor pertanian Jepang sebanyak 926 juta jam kerja pada 2024 saja.

Di seluruh sektor, jam kerja yang hilang akibat panas hampir dua kali lipat dibanding rata-rata era 1990-an. Kerugian ini setara sekitar $46 miliar pendapatan yang hilang, atau sekitar 1 persen dari PDB Jepang.

Adaptasi Jadwal Kerja di Kebun Iijima

Untuk beradaptasi, pekerja di kebun Iijima kini memulai kerja hingga dua jam lebih awal. Miyoko Asada, pekerja veteran berusia 68 tahun, tiba di kebun tak lama setelah matahari terbit.

Asada menyebut mereka harus berpacu dengan waktu, sambil bergegas memotong aster ungu bersama delapan pekerja lain di ladang luas sebelum suhu melampaui batas aman. Beberapa kota lain juga menghadapi krisis serupa, termasuk peternak unggas Tetsuya Usuba yang menghadapi tantangan berbeda.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin
USS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand Usai Kunjungan
Takaichi Bantah Revisi UU Rumah Kekaisaran Halangi Suksesi
Petugas Imigrasi AS Didakwa Berbohong soal Penembakan Warga

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Minggu, 6 September 2026 - 15:00 WIB

Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition

Minggu, 6 September 2026 - 14:45 WIB

AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC

Minggu, 6 September 2026 - 14:14 WIB

Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Berita Terbaru

Penumpang di stasiun kereta api PT KAI.
(Posnews/Net)

JABODETABEK

Jangan Salah Naik, 12 Perjalanan KRL Dibatalkan 7-30 September

Senin, 7 Sep 2026 - 07:24 WIB

Polisi mengungkap korban  Mozza Axillia dibunuh MDVA setelah cekcok akibat cemburu lalu jasadnya dibuang ke jurang Tol Jangli. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Misteri Mozza Terbongkar, Pelaku Ditangkap Saat Nonton Voli

Senin, 7 Sep 2026 - 06:05 WIB

Ilustrasi, Commuter Line tetap beroperasi di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
(Posnews/KAI)

JABODETABEK

Gunung Anak Krakatau Erupsi, KAI Commuter Merak Tetap Jalan

Senin, 7 Sep 2026 - 05:51 WIB