POSNEWS.CO.ID, JENEWA — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat rekor serangan tertinggi terhadap pekerja kemanusiaan. Penggunaan drone bersenjata turut meningkatkan potensi ancaman bahaya di kawasan konflik. Akibatnya, PBB mengecam keras tren kekerasan yang kian memprihatinkan ini.
Data Aid Worker Security Database mencatat 907 pekerja bantuan menjadi korban serangan. Angka tersebut mencakup korban tewas, luka-luka, maupun penculikan sepanjang tahun lalu. Selanjutnya, jumlah insiden ini melampaui rekor 833 korban pada tahun sebelumnya.
Dari total insiden tersebut, 350 pekerja kemanusiaan tewas saat menjalankan tugas. Jumlah kematian ini mengalami penurunan tipis dari angka 387 korban. Namun, tingkat risiko bahaya bagi para relawan tetap berada pada level kritis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras lonjakan aksi kekerasan tersebut. Selain itu, ia mendesak seluruh pihak mematuhi hukum perang internasional. Ia juga menuntut penegakan hukum tegas terhadap para pelaku penyerangan relawan.
PBB mengibarkan bendera setengah tiang di markas New York dan Jenewa. Penghormatan ini menandai peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia bagi para korban gugur. Sementara itu, Kepala Bantuan PBB Tom Fletcher menyoroti ancaman dari drone bersenjata.
Serangan drone menghantam wilayah Goma di Republik Demokratik Kongo pada Maret lalu. Insiden mematikan tersebut menewaskan tiga orang termasuk seorang pekerja bantuan Prancis. Konvoi bantuan di Sudan serta Ukraina juga berulang kali menghadapi gempuran serupa.
Kawasan Gaza menjadi lokasi paling mematikan bagi pekerja kemanusiaan sepanjang 2025. Sebanyak 186 relawan kemanusiaan tewas di wilayah pertempuran tersebut. Selanjutnya, wilayah konflik Sudan menempati posisi kedua paling berbahaya bagi misi kemanusiaan.
Perwakilan Oxfam Bushra Khalidi mendesak penguatan sistem perlindungan bagi relawan kemanusiaan. Ia menilai gelombang serangan tersebut telah mengancam keberlangsungan aksi kemanusiaan global. Oleh karena itu, PBB terus mendorong penyelidikan independen atas kematian para relawan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














