LONDON, POSNEWS.CO.ID – Organisasi Maritim Internasional (IMO) menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz.
Keputusan ini menyusul laporan serangan terhadap kapal kargo Ever Lovely dekat perairan Oman hari Kamis.
Badan Keamanan Laut Inggris (UKMTO) mengonfirmasi hantaman proyektil pada kapal berbendera Singapura itu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dua pejabat Amerika Serikat menduga kuat militer Iran meluncurkan serangan pesawat tanpa awak (drone) ke kapal.
Insiden ini memicu kekhawatiran baru terhadap kelangsungan draf kesepakatan damai pengakhiran Perang Iran.
Penangguhan Evakuasi dan Nasib Ribuan Pelaut
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengumumkan penangguhan evakuasi guna memastikan jaminan keselamatan kapal.
Sebelumnya, ratusan kapal dan ribuan pelaut menghabiskan waktu berbulan-bulan di selat sejak perang pecah akhir Februari.
IMO menegaskan bahwa kapal Ever Lovely bukan bagian dari program penyelamatan sukarela milik mereka.
Klaim Kendali Sepihak Garda Revolusi Iran
Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa pelayaran aman hanya berlaku melalui rute resmi usulan pihak Tehran.
Mereka juga memaksa dua kapal berbendera Panama untuk mengubah arah pelayaran secara sepihak.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan Iran agar tidak mengganggu arus lalu lintas kapal dagang.
Lonjakan Harga Energi dan Beban Politik Donald Trump
Harga minyak mentah dunia langsung melonjak sebesar 1,9 persen setelah berita penyerangan kapal ini rilis.
Menteri Energi AS Chris Wright menyebut pengiriman minyak sempat mendekati level normal sebelum serangan ini berlangsung.
Data mencatat sekitar 20 juta barel minyak keluar dari jalur laut itu dalam sehari kemarin.
Krisis energi ini menjadi beban politik yang sangat berat bagi Presiden Donald Trump saat ini.
Hasil jajak pendapat menunjukkan hanya satu dari empat warga Amerika yang mendukung pendanaan perang itu.
Trump sebelumnya mengancam akan membom kembali wilayah Iran jika mereka melanggar kesepakatan draf damai sementara.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












