ZAPORIZHZHIA, POSNEWS.CO.ID – Harapan untuk penghentian permusuhan di Ukraina kembali hancur oleh gelombang ledakan mematikan. Militer Rusia meluncurkan serangan udara besar-besaran ke pusat-pusat populasi di bagian timur negara tersebut pada hari Selasa.
Otoritas keamanan mengonfirmasi sedikitnya 25 orang tewas dalam insiden tersebut. Peristiwa tragis ini terjadi saat masyarakat internasional sedang menanti respons Moskow terhadap usulan gencatan senjata terbuka dari Kyiv yang seharusnya dimulai pada tengah malam nanti.
Zaporizhzhia: Serangan Ganda di Kawasan Sipil
Gubernur Regional Ivan Fedorov melaporkan kondisi paling buruk terjadi di Zaporizhzhia. Empat bom udara berpemandu menghantam pemukiman warga, layanan perbaikan mobil, dan tempat pencucian kendaraan. Serangan tersebut menewaskan 12 orang dan melukai sedikitnya 20 lainnya.
Sekretaris Dewan Kota Zaporizhzhia, Rehina Kharchenko, menyebut taktik tersebut sangat keji. Setelah bom udara menghantam target, militer Rusia segera mengerahkan drone Shahed untuk menyerang lokasi yang sama. “Tindakan ini menghambat petugas darurat untuk mendekati lokasi guna menyelamatkan korban,” tegas Kharchenko kepada Reuters.
Korban di Kramatorsk, Dnipro, dan Poltava
Eskalasi serangan juga merembet ke wilayah lain:
- Kramatorsk: Tiga bom udara jatuh di pusat kota, menewaskan lima orang dan melukai 12 warga.
- Dnipro: Serangan udara menewaskan empat orang dan menyebabkan kebakaran besar di sebuah fasilitas bisnis lokal.
- Poltava: Fasilitas produksi gas nasional menjadi target serangan semalam. Otoritas mengonfirmasi empat orang tewas di lokasi tersebut.
Presiden Volodymyr Zelenskyy mengecam keras aksi militer ini melalui saluran Telegram. Ia menilai serangan tersebut sebagai tindakan terorisme murni yang tidak memiliki nilai militer apa pun. “Serangan Rusia terhadap kota dan desa kami tidak berhenti sedetik pun,” tulis Zelenskyy.
Diplomasi Gencatan Senjata: Perbedaan Visi
Dinamika pertempuran ini dibayangi oleh manuver diplomatik yang kontradiktif. Rusia secara sepihak mengumumkan gencatan senjata untuk tanggal 8 hingga 9 Mei mendatang. Langkah ini bertujuan untuk mengamankan peringatan Hari Kemenangan dan parade militer di Lapangan Merah, Moskow.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, Ukraina merespons dengan mengajukan proposal gencatan senjata terbuka yang dimulai pada Rabu tengah malam. Zelenskyy menegaskan bahwa Rusia tidak bisa hanya meminta jeda sehari demi seremoni militer mereka sendiri, sementara di saat yang sama terus membombardir warga sipil Ukraina secara brutal.
Menanti Kepastian Tengah Malam
Situasi di lapangan tetap tegang saat jarum jam mendekati tengah malam. Di pihak Rusia, kantor berita TASS melaporkan serangan drone Ukraina di wilayah Chuvashia yang menewaskan dua orang.
Singkatnya, keberhasilan gencatan senjata yang Kyiv usulkan akan menjadi penentu stabilitas Eropa Timur di bulan Mei 2026 ini. Masyarakat internasional kini memantau apakah serangan berdarah pada hari Selasa ini akan menjadi penutup konflik atau justru awal dari eskalasi yang lebih dahsyat jika dialog perdamaian kembali gagal.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















