Kebutaan Perubahan: Mengapa Mata Kita Sering Menipu Otak

Sabtu, 27 Desember 2025 - 07:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Rasionalitas vs Emosi. Membedah mekanisme psikologis di balik kotak suara, di mana identitas kelompok dan bias kognitif sering kali membuat pemilih mengabaikan substansi kebijakan demi citra pemimpin yang mereka sukai di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Rasionalitas vs Emosi. Membedah mekanisme psikologis di balik kotak suara, di mana identitas kelompok dan bias kognitif sering kali membuat pemilih mengabaikan substansi kebijakan demi citra pemimpin yang mereka sukai di tahun 2026. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan skenario ini. Anda sedang berjalan di kampus dan seseorang bertanya arah jalan. Saat Anda sedang menjelaskan, dua orang yang membawa pintu kayu besar melintas di antara Anda berdua, menghalangi pandangan sejenak.

Setelah mereka lewat, Anda melanjutkan percakapan tanpa curiga. Namun, tahukah Anda bahwa orang yang Anda ajak bicara tadi sudah berganti? Orang asing pertama pergi, dan rekannya yang memiliki tinggi serta pakaian berbeda menggantikannya.

Eksperimen klasik oleh Daniel Simons dari Universitas Harvard menunjukkan hasil mengejutkan: 50 persen partisipan tidak menyadari pergantian orang tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai “Kebutaan Perubahan” atau Change Blindness.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini bukan tanda kebodohan atau rabun mata. Justru, ini membuktikan bahwa otak manusia bekerja dengan cara yang sangat selektif dan efisien, meskipun sering kali menipu kita.

Mitos “Melihat Segalanya”

Selama ini, kita percaya bahwa mata bekerja seperti kamera video yang merekam setiap detail. Namun, filsuf Daniel Dennett dalam bukunya Consciousness Explained membantah keras anggapan itu.

Baca Juga :  Gerakan Tanah Guncang Jawa Tengah, 76 KK Mengungsi - Rumah Retak dan Roboh

Menurut Dennett, otak kita tidak menyimpan gambar rinci dunia luar. Alasannya, proses itu akan menghabiskan sumber daya kognitif yang terlalu besar.

Sebaliknya, otak hanya mencatat detail kunci yang dianggap penting. Untuk sisanya, otak melakukan “pengisian celah” (filling in the gaps) menggunakan ingatan atau asumsi bahwa semuanya tetap sama. Akibatnya, kita sering gagal mendeteksi perubahan, bahkan yang besar sekalipun, jika perhatian kita sedang teralihkan.

Eksperimen Gorila Tak Terlihat

Bukti paling terkenal dari keterbatasan atensi kita adalah eksperimen “Gorila Tak Terlihat” (Invisible Gorilla).

Daniel Simons meminta orang menonton video permainan basket dan menghitung jumlah operan bola. Setelah 45 detik, seseorang berkostum gorila berjalan santai di tengah pemain.

Hasilnya mencengangkan. Sekitar 40 persen penonton sama sekali tidak melihat gorila itu. Mereka begitu fokus menghitung bola sehingga otak mereka memfilter “gangguan” visual lain, termasuk gorila raksasa.

Fenomena ini juga disebut sebagai Inattentional Blindness (kebutaan akibat kurang perhatian). Bahayanya, hal ini menjelaskan mengapa pengemudi mobil sering kali “tidak melihat” pejalan kaki atau pengendara motor, meskipun mereka berada tepat di depan mata.

Baca Juga :  Xi Jinping dan To Lam Sahkan Kemitraan Strategis Tingkat Tinggi

Ilusi Kontrol Visual

Para ilmuwan seperti Stephen Kosslyn dan Ronald Rensink mencoba menjelaskan mekanisme ini. Kosslyn berpendapat bahwa kita menyerap informasi penting dan mengisi kekosongan detail dengan memori dan ekspektasi.

“Ilusi bahwa kita melihat ‘segalanya’ sebagian disebabkan oleh pengisian celah dengan memori,” ujar Kosslyn.

Sementara itu, Kevin O’Regan melangkah lebih jauh. Ia mengklaim bahwa kita tidak menyimpan gambar visual dunia di otak sama sekali. Kita hanya mengandalkan lingkungan luar sebagai “memori eksternal”.

Susan Blackmore mendukung pandangan ini. Menurutnya, rasa kontrol kita atas apa yang kita lihat hanyalah ilusi. “Mekanisme deteksi perubahan kitalah yang secara otomatis menyeret perhatian kita ke berbagai rangsangan,” jelasnya.

Pelajaran untuk Kehidupan Nyata

Pada akhirnya, fenomena ini mengajarkan kerendahan hati. Kita tidak boleh terlalu percaya diri dengan apa yang kita lihat (atau tidak kita lihat).

Kesadaran akan change blindness sangat vital, terutama dalam situasi berisiko tinggi seperti berkendara. Ingatlah, mata Anda mungkin terbuka lebar, tetapi otak Anda bisa saja sedang “buta” terhadap bahaya yang ada di depan mata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Kelompok pemberontak Houthi melancarkan serangan rudal dan drone di Marib serta Hadramaut yang menewaskan puluhan prajurit pemerintah Yaman. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agu 2026 - 11:07 WIB

PM Kanada Mark Carney menyebut perundingan dagang dengan AS semakin sengit usai Donald Trump mengancam kenaikan tarif 50 persen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agu 2026 - 09:01 WIB

Presiden Donald Trump menandatangani dua perintah eksekutif untuk membatasi hak kewarganegaraan berdasarkan tempat lahir usai Mahkamah Agung menolak kebijakan sebelumnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agu 2026 - 07:00 WIB