Revolusi Hidrogen: Menyelamatkan Hutan Lewat Knalpot Mobil

Minggu, 4 Januari 2026 - 20:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teknologi penjaga jalan. Sistem

Teknologi penjaga jalan. Sistem "Eagle Eye Guardian" kini dibekali kemampuan deteksi cuaca ekstrem dan pemantauan berbasis AI guna melindungi jutaan pemudik di jalur darat China. Dok: Istimewa.

DETROIT, POSNEWS.CO.ID – Sering kali kita tergoda untuk berpikir bahwa pelestarian terumbu karang dan hutan hujan adalah isu yang terpisah dari kemacetan lalu lintas dan polusi udara. Namun, anggapan itu keliru besar. Para ilmuwan kini yakin bahwa perubahan iklim yang cepat telah mengganggu dan mengubah banyak habitat satwa liar. Faktanya, polusi dari kendaraan bermotor adalah biang keladi utamanya.

Panel Perubahan Iklim PBB memperkirakan kenaikan suhu rata-rata global bisa mencapai 6°C pada tahun 2100. Angka ini adalah resep bencana yang memicu kebakaran hutan di darat dan pemutihan karang di lautan. Oleh karena itu, jika ingin menghindari katastrofi ini, dunia harus segera mengerem laju deforestasi dan—yang lebih krusial—mencari alternatif pengganti minyak dan gas.

Kebangkitan Teknologi Abad ke-19

Tenaga angin dan surya memang berkembang pesat, tetapi apa solusi untuk lalu lintas? Mobil listrik adalah satu opsi, namun jangkauan jarak tempuh dan waktu pengisian baterai yang lama masih menjadi kendala serius.

Di sinilah teknologi sel bahan bakar (fuel-cell) masuk sebagai “kuda hitam”. Sebenarnya, penemu telah menciptakan teknologi ini pada akhir abad ke-19. Sayangnya, dunia industri kala itu lebih memilih mesin pembakaran internal, sehingga sel bahan bakar tidak pernah dikembangkan untuk produksi massal.

Baca Juga :  Cuaca Jakarta Hari Ini: Hujan Ringan Tak Merata, BMKG Ingatkan Warga Waspada

Kini, Ford Motor Company telah membangun salah satu prototipe kendaraan bertenaga sel bahan bakar pertama. Mobil ini berakselerasi lebih baik dan melaju lebih halus. Bahkan, para insinyur Ford menargetkan produksi kendaraan yang nyaris tanpa suara di masa depan.

Knalpot yang Mengeluarkan Air

Lantas, bagaimana cara kerjanya? Secara sederhana, hidrogen masuk ke tangki bahan bakar dan menghasilkan listrik. Satu-satunya emisi yang keluar dari knalpot hanyalah air.

Sel bahan bakar mirip dengan baterai, bedanya, ia tidak akan pernah habis dayanya selama pasokan hidrogen dan oksigen terus mengalir. Selain itu, teknologinya sangat fleksibel; bisa dibuat sekecil komputer jinjing atau sebesar pembangkit listrik. Tanpa bagian yang bergerak, mesin ini tidak butuh oli, hanya butuh hidrogen.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dilema Sumber Hidrogen

Pertanyaan besarnya adalah: dari mana kita mendapatkan hidrogen? Sumber utamanya adalah air. Akan tetapi, memecah air butuh listrik. Jika listriknya berasal dari pembangkit batu bara, maka manfaat pengurangan karbonnya menjadi nihil.

Baca Juga :  Sekjen PBB Antonio Guterres Serukan Aksi Global Hapus Rasisme

Sementara itu, sumber energi terbarukan belum cukup ekonomis untuk memproduksi hidrogen massal. Sebagai solusi sementara, industri melirik gas alam (metana). Memecah metana memang menghasilkan karbon dioksida sampingan. Namun, perusahaan minyak seperti Statoil dari Norwegia sedang bereksperimen dengan “penyerapan geologis”—menyimpan kembali karbon dioksida tersebut di bawah tanah, di dalam sumur minyak dan gas tua.

Tantangan Infrastruktur

Mendesaknya kebutuhan akan kendaraan ramah lingkungan membuat teknologi ini tak bisa ditunda lagi. Saat ini, bus sel bahan bakar sudah beroperasi di AS, dan perusahaan kurir di Jerman berencana menggunakan van bertenaga serupa.

Kendati demikian, fakta bahwa armada yang dikelola terpusat menjadi pengguna pertama menunjukkan tantangan lain: distribusi bahan bakar. Fasilitas pengisian hidrogen masih sangat langka. Oleh sebab itu, transportasi umum dan perusahaan pengiriman menjadi titik awal yang logis karena mereka beroperasi dari depot pusat.

Investasi lebih lanjut sangat dibutuhkan agar industri ini—dan satwa liar dunia—memiliki masa depan jangka panjang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menantu Otak Pembunuhan Mertua di Pekanbaru, Korban Dipukul Balok hingga Tewas
Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor
PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam
Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon
Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri
Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap
Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS
Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:07 WIB

Menantu Otak Pembunuhan Mertua di Pekanbaru, Korban Dipukul Balok hingga Tewas

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:52 WIB

Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:35 WIB

Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Berita Terbaru

Menjaga stabilitas kawasan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan evolusi strategi Indo-Pasifik di Hanoi. Ia menjanjikan dukungan finansial besar untuk ketahanan energi dan keamanan maritim guna menghadapi agresivitas China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB