Bumi Mendidih: 2025 Tahun Terpanas Ketiga

Rabu, 14 Januari 2026 - 21:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Planet kita baru saja melewati periode tiga tahun terpanas sepanjang sejarah. Ilmuwan memperingatkan bahwa batas 1,5 derajat Celcius bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini. Dok: C3S/ECMWF.

Planet kita baru saja melewati periode tiga tahun terpanas sepanjang sejarah. Ilmuwan memperingatkan bahwa batas 1,5 derajat Celcius bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini. Dok: C3S/ECMWF.

BRUSSELS/LONDON, POSNEWS.CO.ID – Planet Bumi baru saja mencatatkan rekor suhu yang mengkhawatirkan. Para ilmuwan Uni Eropa pada hari Rabu mengonfirmasi bahwa tahun 2025 adalah tahun terpanas ketiga sepanjang sejarah pencatatan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, suhu rata-rata global telah melampaui ambang batas 1,5 derajat Celcius selama tiga tahun berturut-turut. Ini adalah periode terpanjang sejak pencatatan dimulai.

Pusat Prakiraan Cuaca Jarak Menengah Eropa (ECMWF) merilis data tersebut. Mereka menemukan bahwa tiga tahun terakhir adalah yang terpanas bagi planet ini. Tahun 2024 memegang rekor sebagai yang terpanas. Sementara itu, suhu tahun 2025 tercatat sedikit lebih sejuk, hanya selisih 0,01 derajat Celcius dibandingkan tahun 2023.

Layanan Cuaca Nasional Inggris, UK Met Office, juga mengonfirmasi temuan ini. Data mereka menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas ketiga dalam catatan yang dimulai sejak 1850.

Batas 1,5 Derajat Bukan Lagi “Tebing”

ECMWF mencatat sejarah baru. Planet ini baru saja mengalami periode tiga tahun pertama di mana suhu rata-rata global berada 1,5 derajat Celcius di atas era pra-industri. Para ilmuwan sebelumnya menetapkan angka ini sebagai batas aman untuk menghindari dampak bencana yang tidak dapat diubah.

Baca Juga :  Pindah Rumah Ternyata Lebih Berbahaya bagi Mental

Samantha Burgess, pemimpin strategis untuk iklim di ECMWF, memberikan peringatan.

“1,5 C bukanlah tepi tebing. Namun, kita tahu bahwa setiap pecahan derajat sangat berarti, terutama untuk memperburuk peristiwa cuaca ekstrem,” jelas Burgess.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemerintah dunia sebelumnya berjanji dalam Perjanjian Paris 2015. Mereka sepakat mencoba menghindari pemanasan global melebihi 1,5 derajat Celcius. Namun, kegagalan mengurangi emisi gas rumah kaca membuat target itu terancam gagal total sebelum 2030—satu dekade lebih cepat dari prediksi awal.

“Kita pasti akan melewatinya,” kata Carlo Buontempo, direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus UE. “Pilihan yang kita miliki sekarang adalah bagaimana mengelola pelampauan yang tak terelakkan ini dan konsekuensinya.”

Bencana Nyata di Depan Mata

Melampaui batas 1,5 C membawa dampak nyata. Dunia menghadapi gelombang panas yang lebih lama, badai yang lebih kuat, dan banjir yang lebih parah.

Baca Juga :  Di Balik Pukulan Andy Murray: Rahasia Kustomisasi Raket

Tahun 2025 menjadi saksi bisu amukan alam. Kebakaran hutan di Eropa menghasilkan total emisi tertinggi yang pernah tercatat. Studi ilmiah juga mengonfirmasi bahwa perubahan iklim memperburuk peristiwa cuaca tertentu.

Contoh nyatanya adalah Badai Melissa di Karibia. Selain itu, hujan monsun di Pakistan menyebabkan banjir dahsyat yang menewaskan lebih dari 1.000 orang.

Trump Tarik Mundur AS

Meskipun dampak iklim makin memburuk, sains justru menghadapi penolakan politik yang keras. Presiden AS Donald Trump kembali membuat langkah kontroversial. Ia menyebut perubahan iklim sebagai “penipuan terbesar”.

Pekan lalu, Trump menarik Amerika Serikat keluar dari puluhan entitas PBB. Salah satunya adalah Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang berisi para ilmuwan top dunia.

Padahal, konsensus ilmuwan dunia sudah bulat. Perubahan iklim adalah nyata, sebagian besar akibat ulah manusia, dan kondisinya makin memburuk. Penyebab utamanya jelas: emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menantu Otak Pembunuhan Mertua di Pekanbaru, Korban Dipukul Balok hingga Tewas
Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor
PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam
Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon
Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri
Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap
Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS
Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:07 WIB

Menantu Otak Pembunuhan Mertua di Pekanbaru, Korban Dipukul Balok hingga Tewas

Minggu, 3 Mei 2026 - 17:52 WIB

Tiga Geng Motor Ditangkap Usai Tawuran Bersenjata Tajam di Bogor

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:35 WIB

Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Berita Terbaru

Menjaga stabilitas kawasan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan evolusi strategi Indo-Pasifik di Hanoi. Ia menjanjikan dukungan finansial besar untuk ketahanan energi dan keamanan maritim guna menghadapi agresivitas China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB