Sejarah Pengukuran Kecerdasan: Dari Alat Diagnostik Alfred Binet hingga Lahirnya Skor IQ

Minggu, 8 Maret 2026 - 13:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Menulis ulang kode kehidupan. Kemajuan dalam pemetaan genom dan teknologi penyuntingan CRISPR membawa harapan baru bagi penyembuhan penyakit bawaan, sembari memicu perdebatan etika terdalam dalam sejarah peradaban manusia. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Menulis ulang kode kehidupan. Kemajuan dalam pemetaan genom dan teknologi penyuntingan CRISPR membawa harapan baru bagi penyembuhan penyakit bawaan, sembari memicu perdebatan etika terdalam dalam sejarah peradaban manusia. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tahun 1904, Menteri Pendidikan Prancis menghadapi tantangan besar terkait keterbatasan sumber daya sekolah. Pemerintah membutuhkan cara guna memisahkan anak-anak yang memiliki keterbatasan kemampuan dengan mereka yang sekadar malas belajar.

Tugas tersebut jatuh ke tangan Alfred Binet. Solusi cemerlang yang ia ciptakan kemudian menjadi fondasi bagi studi kecerdasan modern. Pada 1905, Binet mengembangkan tes berisi 30 masalah yang menguji berbagai kemampuan intelektual, seperti penilaian dan penalaran.

Konsep Usia Mental dan Standarisasi Binet

Binet memperkenalkan konsep “usia mental” melalui tes tersebut. Secara teknis, tes ini membandingkan kemampuan seorang anak dengan norma rata-rata dari anak-anak sebayanya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai contoh, jika seorang anak berusia lima tahun berhasil menjawab sepuluh soal dengan benar (rata-rata skor usia tersebut), maka ia memiliki usia mental lima tahun. Namun demikian, Binet secara tegas menolak anggapan bahwa tesnya mengukur kecerdasan absolut. Ia menekankan bahwa tujuan tes tersebut murni bersifat diagnostik untuk kepentingan seleksi sekolah. Sayangnya, pesan asli Binet ini sering kali terabaikan dalam penerapan praktis di masa depan.

Baca Juga :  Astronot Artemis II Pecahkan Rekor Jarak Terjauh Manusia dari Bumi

Stern, Terman, dan Kelahiran Angka IQ

Meskipun tes Binet sangat populer, penggunaan variasi usia mental dan fisik petugas nilai kurang praktis. Oleh karena itu, pada tahun 1912, Wilhelm Stern menyederhanakan metode tersebut menjadi satu angka tunggal.

Stern membagi usia mental dengan usia fisik, lalu mengalikan hasilnya dengan 100. Rumus ini dapat kita tuliskan sebagai berikut:

(Usia Mental / Usia Fisik/Kronologis) x  100

Melalui perhitungan ini, seorang anak dengan kemampuan rata-rata akan selalu mendapatkan skor 100. Selanjutnya, profesor Universitas Stanford, Lewis M. Terman, menyempurnakan revisi tes Binet pada 1916 dan memperkenalkan istilah Intelligence Quotient (IQ). Versi Stanford-Binet ini kemudian menjadi instrumen yang dunia gunakan secara ekstensif hingga hari ini.

Era Psikometrika dan Ujian Medan Perang

Studi mengenai kecerdasan akhirnya berkembang menjadi sub-bidang psikologi yang warga sebut sebagai psikometrika. Penggunaan tes berskala masif mulai terjadi pada tahun 1917, bertepatan dengan keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia I.

Militer AS harus menyaring dua juta calon prajurit dengan cepat guna menentukan siapa yang layak menjadi perwira atau prajurit biasa. Akibatnya, para ahli psikometrika mengembangkan dua tes kecerdasan untuk membantu proses seleksi tersebut. Ini merupakan kali pertama dalam sejarah di mana sebuah tes menentukan nasib hidup dan mati seseorang, mengingat posisi perwira jauh lebih aman di medan perang. Namun, pengujian tersebut sering kali berlangsung dalam kondisi yang sangat buruk, sehingga memunculkan kesimpulan keliru bahwa rata-rata kecerdasan orang dewasa Amerika setara dengan anak berusia 13 tahun.

Baca Juga :  RKUHAP Disahkan Pekan Depan, Habiburokhman Ungkap Poin Krusial dan Kompromi Panjang

Kontroversi, Prasangka, dan Kritik Modern

Psikometrika tidak lepas dari sejarah kelam penyalahgunaan data. Di masa lalu, hasil tes intelegensi sering kali petugas gunakan untuk mendukung prasangka politik dan sosial.

Lembaga-lembaga tertentu menggunakan skor tes guna membenarkan diskriminasi rasial dan pembatasan imigrasi terhadap kelompok tertentu. Oleh sebab itu, kontroversi mengenai bias tes terus menghantui bidang ini. Puncaknya pada tahun 1970-an, muncul berbagai tuntutan hukum untuk menghentikan pengambilan keputusan penting berdasarkan skor IQ semata. Para kritikus berargumen bahwa tes saat ini belum benar-benar mampu mengukur kecerdasan secara utuh.

Pada akhirnya, pengukuran tetap menjadi fondasi penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Psikometrika terus berupaya mengembangkan cara guna mengukur kualitas psikologis lainnya, seperti kecemasan dan stabilitas emosional. Perdebatan apakah kecerdasan dapat petugas ukur secara kuantitatif tetap menjadi salah satu topik paling hangat di dunia psikologi tahun 2026 ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru

Lini tayangan terlengkap bulan Agustus. Disney+ menyajikan konten bervariasi mulai dari Pokemon, tayangan spin-off Star Wars, hingga siaran langsung e-sports. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Disney+ Merilis Lini Konten Agustus 2026 Mulai Pokemon

Minggu, 2 Agu 2026 - 11:00 WIB

Siasat baru pertahanan udara Ukraina. Zelenskyy mendesak Trump memediasi izin penggunaan jaringan Starlink untuk menggempur target di dalam wilayah Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Minggu, 2 Agu 2026 - 10:00 WIB

Eskalasi gempuran udara di ibu kota. Rusia menembakkan gelombang rudal balistik dan drone ke Kyiv, menewaskan tiga warga serta memicu ketidakpastian lisensi Patriot dari AS. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agu 2026 - 09:00 WIB

Krisis imigrasi terbesar Afrika-Eropa. Spanyol berhasil memulangkan puluhan ribu migran dari Ceuta di tengah ketegangan diplomatik Uni Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agu 2026 - 08:00 WIB