Serangan Udara Pakistan Tewaskan 400 Orang, Islamabad Bantah Target Sipil

Selasa, 17 Maret 2026 - 18:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Tren yang mengkhawatirkan di Afrika. Saat dunia mencatat penurunan angka kematian akibat terorisme ke level terendah dalam satu dekade, Nigeria justru mengalami lonjakan fatalitas hingga 46 persen akibat serangan kelompok militan yang kian canggih. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Tren yang mengkhawatirkan di Afrika. Saat dunia mencatat penurunan angka kematian akibat terorisme ke level terendah dalam satu dekade, Nigeria justru mengalami lonjakan fatalitas hingga 46 persen akibat serangan kelompok militan yang kian canggih. Dok: Istimewa.

KABUL, POSNEWS.CO.ID – Sebuah serangan udara mematikan oleh militer Pakistan menghantam jantung ibu kota Afghanistan, Kabul, pada Senin malam. Otoritas Taliban mengeklaim serangan tersebut menewaskan sedikitnya 400 orang dan melukai 250 lainnya di sebuah rumah sakit rehabilitasi narkoba.

Eskalasi ini menandai babak paling berdarah dalam konflik perbatasan sepanjang 2.600 km antara kedua negara bertetangga tersebut. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah China menyatakan kesiapannya untuk memediasi kedua negara Islam tersebut guna menghindari perang yang lebih luas.

Kesaksian Penyintas: “Seperti Hari Kiamat”

Saksi mata di lokasi kejadian menggambarkan pemandangan yang mengerikan di Rumah Sakit Omid. Bangunan satu lantai tersebut hangus terbakar dan menyisakan tumpukan kayu serta logam yang bengkok. “Seluruh tempat terbakar. Rasanya seperti hari kiamat,” ujar Ahmad (50), seorang pasien yang sedang menjalani perawatan di fasilitas tersebut.

Baca Juga :  Penangkapan Dramatis Empat Aktor Intelektual Kasus Penculikan MIP di Jakarta dan Solo

Ahmad menceritakan bahwa tiga bom meledak tepat saat para pasien menyelesaikan salat Isya. Dua bom di antaranya menghantam langsung area perawatan pasien. Haji Fahim, seorang sopir ambulans, melihat orang-orang terbakar hidup-hidup saat tiba di lokasi. Tim penyelamat hingga Selasa pagi masih terus berupaya mengevakuasi jenazah dari bawah reruntuhan bangunan yang runtuh.

Bantahan Keras Pakistan: Menargetkan Gudang Amunisi

Pemerintah Pakistan menolak mentah-mentah klaim bahwa mereka menargetkan fasilitas medis. Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, menyebut laporan tersebut sebagai informasi yang menyesatkan. Ia mengeklaim militer Pakistan melakukan operasi kontra-terorisme yang sangat presisi terhadap instalasi militer dan infrastruktur pendukung teroris.

Tarar mengunggah pernyataan melalui platform X yang menyebut adanya ledakan sekunder yang terlihat jelas setelah serangan udara. Menurutnya, hal ini menjadi bukti kuat keberadaan depo amunisi besar di lokasi tersebut. Islamabad menuduh Kabul menggunakan narasi rumah sakit rehabilitasi untuk membangkitkan sentimen publik dan menutupi dukungan mereka terhadap terorisme lintas batas.

Baca Juga :  200 Pasukan dan Drone MQ-9 Reaper Dikerahkan Lawan Militan

Kegagalan Mediasi dan Ketegangan Regional

Serangan ini menghancurkan harapan gencatan senjata yang sempat muncul melalui upaya diplomasi China. Beijing sebelumnya mendesak kedua negara untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Namun, perselisihan mengenai perlindungan kelompok militan di wilayah perbatasan justru memicu kembali pertempuran hebat tepat sebelum festival Idulfitri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konflik ini meletus di tengah ketidakstabilan regional yang lebih luas, terutama akibat serangan AS-Israel terhadap Iran. Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia di Afghanistan, Richard Bennett, mengaku sangat terpukul oleh laporan kematian sipil ini. Ia mendesak kedua belah pihak untuk segera melakukan de-eskalasi dan menghormati hukum internasional terkait perlindungan objek sipil seperti rumah sakit.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam
Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?
Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer
Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global
Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21
Mengapa Isu Perubahan Iklim Menjadi Alat Tawar Politik Baru?
Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam
ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 15:11 WIB

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

Senin, 23 Maret 2026 - 14:22 WIB

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Maret 2026 - 13:23 WIB

Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer

Senin, 23 Maret 2026 - 12:20 WIB

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Maret 2026 - 11:12 WIB

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Berita Terbaru

Lebih dari sekadar emisi. Perspektif Teori Kritis memandang krisis iklim sebagai manifestasi ketidakadilan sejarah, di mana negara berkembang menanggung beban bencana atas kemakmuran yang dinikmati negara maju. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Mar 2026 - 14:22 WIB

Ilustrasi, Wajah baru kolonialisme? Perspektif Marxisme memandang agenda lingkungan global sebagai alat tawar negara maju (Utara) untuk menghambat industrialisasi dan memperpanjang ketergantungan negara berkembang (Selatan). Dok: Istimerwa.

INTERNASIONAL

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Mar 2026 - 12:20 WIB

Perebutan urat nadi kehidupan. Geopolitik air kini menjadi medan tempur baru bagi negara-negara yang bersaing memperebutkan kedaulatan sumber daya di tengah ancaman kekeringan global 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Senin, 23 Mar 2026 - 11:12 WIB