Trump Sebut Angkatan Laut AS Bertindak Seperti Bajak Laut

Minggu, 3 Mei 2026 - 06:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Retorika agresif di Washington. Presiden Donald Trump menggambarkan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran sebagai aksi

Retorika agresif di Washington. Presiden Donald Trump menggambarkan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran sebagai aksi "bajak laut" yang menguntungkan, memicu kecaman internasional terkait potensi pelanggaran hukum perang. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump kembali memicu kegaduhan diplomatik melalui pernyataannya mengenai strategi militer Amerika Serikat. Ia menggambarkan operasi Angkatan Laut AS di perairan Iran menyerupai aksi “bajak laut” karena menyita berbagai komoditas bernilai tinggi.

Komentar tersebut muncul saat Trump menjelaskan rincian penyitaan sebuah kapal milik Teheran beberapa hari lalu. Dalam keterangan resminya pada Jumat malam, Trump secara terbuka mengakui bahwa pasukan AS telah mengambil alih kapal beserta kargo minyak di dalamnya.

Pengakuan Terbuka: “Bisnis yang Menguntungkan”

Trump tidak ragu memuji keberhasilan pasukannya dalam menyita aset-aset maritim Iran. Menurutnya, pengambilalihan kargo minyak tersebut merupakan sebuah langkah bisnis yang sangat memberikan keuntungan bagi pihak Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami mengambil alih kapalnya, kami mengambil kargonya, dan kami mengambil minyaknya. Ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan,” ujar Trump di hadapan media. Selain itu, ia secara eksplisit menyamakan taktik militer tersebut dengan perilaku perompak. “Kami seperti bajak laut. Kami semacam bajak laut, tetapi kami tidak sedang bermain-main,” tambahnya.

Baca Juga :  Parasocial Relationship: Mengapa Kita Merasa Kenal Dekat dengan Influencer yang Tak Pernah Ditemui?

Perang Blokade: Selat Hormuz vs Pelabuhan Iran

Aksi penyitaan ini merupakan bagian dari perang blokade yang saling mengunci antara kedua negara sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026. Iran telah memblokade hampir seluruh kapal yang melewati Selat Hormuz, jalur nadi bagi 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Sebagai respons, Trump memberlakukan blokade terpisah terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Iran. Pasukan AS telah menyita beberapa kapal kontainer yang terkena sanksi serta kapal tanker Iran di perairan Asia. Langkah ini bertujuan untuk memutus total jalur kehidupan ekonomi Teheran. Namun, kebijakan ini juga berdampak pada lonjakan harga minyak global yang memicu inflasi di berbagai negara.

Ancaman Kejahatan Perang dan Kecaman Publik

Pernyataan Trump tersebut segera memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak. Masyarakat internasional meragukan legalitas tindakan AS yang menargetkan properti sipil dan komersial sebagai rampasan perang. Oleh karena itu, banyak pakar hukum di Amerika Serikat memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

Baca Juga :  Pemerasan Sadis di Tangerang, Pria Dihadang dan Ditodong Celurit - Motor Raib Sekejap

Bulan lalu, Trump bahkan sempat mengancam akan menghancurkan seluruh peradaban Iran jika Teheran tidak segera menyerah. Meskipun demikian, popularitas perang ini terus menurun di dalam negeri Amerika Serikat. Warga mulai jenuh dengan ketidakpastian tujuan perang dan dampak ekonomi yang semakin berat di tahun 2026 ini.

Diplomasi di Ambang Kehancuran

Pernyataan “bajak laut” dari Trump memberikan citra negatif terhadap norma-norma militer internasional. Singkatnya, pengakuan mengenai profitabilitas dari penyitaan minyak Iran semakin menyulitkan posisi diplomatik AS di mata sekutu-sekutunya yang menjunjung tinggi hukum laut internasional.

Dengan demikian, dunia kini memantau apakah retorika agresif ini akan memaksa Iran ke meja perundingan atau justru memicu eskalasi militer yang lebih merusak di kawasan Teluk. Selama garis antara operasi militer sah dan tindakan ilegal terus kabur, stabilitas geopolitik global akan tetap berada dalam bahaya besar.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang
Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi
Donald Trump Desak Rusia Akhiri Perang Pasca-Pertemuan
Taiwan Luncurkan Situs Pelaporan Intelijen
Pelacakan Kontak Ebola di Kamp Pengungsian Kongo

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Rabu, 17 Juni 2026 - 10:01 WIB

Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America

Rabu, 17 Juni 2026 - 09:54 WIB

Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:49 WIB

Bos Nvidia Jensen Huang Desak Masyarakat Cepat Adaptasi

Berita Terbaru

Hubungan sekutu yang retak. Presiden Donald Trump mengecam keras Benjamin Netanyahu karena rencana pengeboman Beirut mengancam kelangsungan rencana damai dengan Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Jun 2026 - 12:21 WIB

Sisi jenaka diplomasi global. Rekaman mikrofon bocor menangkap obrolan santai para pemimpin G7 mengenai kebiasaan merokok, sepak bola, hingga teka-teki Greenland. Dok: (Christian Hartmann/Pool Photo via AP)

INTERNASIONAL

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Rabu, 17 Jun 2026 - 11:12 WIB

Menghalau senapan mesin siber. SoftBank dan OpenAI meluncurkan layanan keamanan berbasis kecerdasan buatan (AI) guna melindungi sistem infrastruktur vital Jepang. Dok: (AP Photo/Hiro Komae)

TEKNOLOGI

Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Rabu, 17 Jun 2026 - 09:54 WIB