WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara dua raksasa Belahan Bumi Barat, Brasil dan Amerika Serikat, kini memasuki babak baru. Presiden Luiz Inácio Lula da Silva tiba di Washington pada Rabu malam. Kunjungan ini bertujuan mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Donald Trump.
Menteri Keuangan Brasil, Dario Durigan, menyatakan misi utama kunjungan ini adalah melindungi rakyat. Ia ingin memprioritaskan kepentingan nasional melalui dialog konstruktif. Perjumpaan ini menjadi upaya memperbaiki hubungan yang sempat retak akibat kebijakan ekonomi Washington tahun lalu.
Memperbaiki Retakan Akibat Krisis Tarif
Tahun 2025 menjadi periode sulit bagi hubungan bilateral kedua negara. Saat itu, administrasi Trump memberlakukan tarif sebesar 50 persen terhadap barang-barang Brasil. Kebijakan tersebut berkaitan dengan proses hukum mantan Presiden Jair Bolsonaro. Hal ini menyangkut dugaan keterlibatannya dalam rencana kudeta.
Presiden Lula merespons keras tindakan tersebut dengan membela kedaulatan Brasil. Trump kemudian melonggarkan tarif guna menekan biaya hidup konsumen Amerika. Namun, ketegangan masih menyisakan sisa-sisa ketidakpercayaan. Pemulihan hubungan terlihat sejak Majelis Umum PBB pada September lalu. Keduanya juga sempat bertemu secara pribadi di Malaysia sebulan kemudian.
Pertarungan Status: Isu Terorisme Faksi Kriminal
AS berencana menetapkan faksi kriminal terbesar Brasil sebagai organisasi teroris asing. Kelompok tersebut adalah Comando Vermelho (CV) dan Primeiro Comando da Capital (PCC). Brasil memandang langkah ini sebagai upaya Washington memperluas pengaruh. Mereka khawatir pengaruh politik dan ekonomi AS akan masuk ke wilayah kedaulatan Brasil.
“Ini masalah defensif bagi Brasil. Hal tersebut tidak melayani kepentingan nasional,” ujar pakar hubungan internasional Leonardo Paz Neves. Namun, sumber internal pemerintah menyebut kedua pemimpin memilih kerja sama kolaboratif. Mereka ingin memperdalam penegakan hukum daripada mengambil tindakan sepihak yang memicu gesekan.
Mineral Kritis: Antara Investasi dan Kedaulatan Industri
Agenda ekonomi yang tak kalah penting adalah akses terhadap deposit tanah jarang (rare earth) milik Brasil. Negara ini memiliki cadangan terbesar kedua di dunia. Brasil memegang kunci industri teknologi, mulai dari ponsel pintar hingga mesin jet.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dario Durigan menegaskan bahwa Brasil menolak sekadar menjadi eksportir bahan baku. “Negara-negara di Utara sangat haus akan bahan mentah ini,” tegas Durigan. Pemerintah Brasil menyambut investasi asing namun menuntut pengembangan industri domestik. Langkah ini harus melibatkan universitas guna menciptakan lapangan kerja bagi rakyat.
Tekanan Politik Domestik Menjelang Pemilu
Kunjungan ke Amerika Serikat ini terjadi saat Lula menghadapi turbulensi politik di dalam negeri. Pekan lalu, Lula menderita dua kekalahan telak di Kongres. DPR membatalkan vetonya terkait undang-undang masa penjara Bolsonaro. Senat juga menolak calon hakim agung pilihannya, sebuah peristiwa penolakan pertama dalam seabad.
Lula yang kini berusia 80 tahun bersiap mencalonkan diri kembali. Pemilihan presiden tersebut akan berlangsung pada Oktober mendatang. Jajak pendapat terbaru menunjukkan persaingan yang sangat sengit. Lula bersaing ketat dengan putra Bolsonaro, Senator Flávio Bolsonaro.
Diplomasi di Titik Balik
Pertemuan ini akan menentukan posisi Brasil di hadapan Amerika Serikat. Mereka ingin memposisikan diri sebagai mitra sejajar pada tahun 2026. Singkatnya, keberhasilan Lula mengamankan ekonomi tanpa mengorbankan kedaulatan adalah kunci. Hal ini menjadi modal politik berharga untuk kampanyenya nanti.
Masyarakat internasional kini memantau apakah dialog ini mampu menghasilkan stabilitas. Fokus utamanya adalah sektor ekonomi dan keamanan di kawasan Amerika Latin.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












