Netanyahu Bersumpah Tingkatkan Serangan Saat Gencatan Senjata

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berjanji untuk meningkatkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon. Langkah ini mengancam perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang tengah berjalan di Doha. Dok: Istimewa.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berjanji untuk meningkatkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon. Langkah ini mengancam perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang tengah berjalan di Doha. Dok: Istimewa.

YERUSALEM, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah untuk meningkatkan serangan militer terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon. Ia menyampaikan janji tersebut pada hari Senin. Sebelumnya, pejabat Amerika Serikat melaporkan bahwa kelompok militan itu telah mengabaikan peringatan untuk berhenti menyerang Israel.

Meskipun gencatan senjata berlaku sejak 16 April, Israel dan Hezbollah terus saling serang. Konflik ini mengancam eskalasi perang antara AS dan Iran yang lebih luas. Teheran sebelumnya menuntut penghentian serangan Israel di Lebanon sebagai syarat mutlak dalam perundingan dengan Washington.

Netanyahu: “Kami Akan Menginjak Gas Lebih Dalam”

Netanyahu menegaskan sikapnya melalui sebuah video di Telegram pada Senin malam. Ia menyatakan komitmen untuk terus melawan Hezbollah. “Kami sedang berperang melawan Hezbollah, dan kami akan meningkatkan serangan,” ujar Netanyahu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menambahkan bahwa militer Israel tidak akan mengendurkan serangan. “Sebaliknya, saya memerintahkan militer untuk menginjak gas lebih dalam,” tegasnya. Hingga saat ini, pihak Hezbollah maupun pejabat pemerintah Lebanon belum memberikan komentar resmi mengenai pernyataan tersebut.

Baca Juga :  Xi Jinping Ucapkan Selamat pada To Lam, Tegaskan Komitmen

Ketakutan Warga Beirut dan Evakuasi Massal

Militer Israel terus menyiagakan pasukannya di wilayah selatan Lebanon sejak gencatan senjata April lalu. Angkatan udara Israel rutin menargetkan posisi Hezbollah, sementara pasukan darat terus menghancurkan desa-desa yang menjadi basis milisi tersebut.

Hezbollah merespons dengan menembakkan drone peledak ke arah pasukan Israel dan kota-kota di utara Israel. Militer Israel mencatat sedikitnya 11 tentara mereka gugur sejak gencatan senjata dimulai. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan setidaknya 608 orang tewas akibat serangan Israel di Lebanon selama periode yang sama.

Akibatnya, ketakutan akan serangan udara kembali menyelimuti warga Beirut. Penduduk mulai meninggalkan pinggiran selatan kota pada Senin malam segera setelah video Netanyahu tersebar. Wilayah tersebut merupakan benteng kuat Hezbollah yang sempat mengalami pengeboman intensif sebelum gencatan senjata berlaku.

Tekanan Politik dan Tuntutan Menteri Sayap Kanan

Pernyataan Netanyahu muncul di tengah tekanan politik internal yang hebat. Dua menteri sayap kanan dalam kabinetnya mendesak Netanyahu untuk membom Beirut sebagai balasan atas serangan drone kamikaze.

Baca Juga :  Pengisian Daya Kendaraan Listrik Kini Diawasi Kemendag, Ini Tujuannya

Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mengeluarkan pernyataan keras. “Setiap satu drone peledak harus dibalas dengan sepuluh bangunan yang hancur di Beirut,” ujarnya. Selain itu, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir menuntut langkah serupa. Ia mendesak Perdana Menteri untuk kembali menyatakan perang penuh di Lebanon.

Di sisi lain, pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, meningkatkan retorikanya terhadap negara Lebanon. Ia menyatakan bahwa rakyat memiliki hak untuk turun ke jalan dan menggulingkan pemerintah Lebanon saat ini.

Diplomasi yang Terancam Runtuh

Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS pada pertengahan April lalu kini berada di ujung tanduk. Meskipun diskusi di Washington telah berhasil memperpanjang masa jeda tersebut hingga Mei, janji Netanyahu untuk meningkatkan serangan menciptakan ketidakpastian baru.

Singkatnya, masa depan Lebanon kini bergantung pada seberapa jauh eskalasi ini akan berlanjut. Jika serangan terus terjadi, perundingan damai yang dimediasi AS kemungkinan akan gagal total. Masyarakat internasional kini menanti langkah selanjutnya dari pihak-pihak yang bertikai di tengah ketidakpastian situasi di lapangan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kem Sokha Bebas: Raja Kamboja Berikan Pengampunan
KPK Fasilitasi 52 Tahanan Korupsi Salat Idul Adha dan Kunjungan Keluarga
Selebgram Brunei Jadi Tersangka Penganiayaan Maut di Blok M Jakarta Selatan
Relawan Ebola Hadapi Ancaman Virus dan Kemarahan Warga
Paus Leo XIV Rilis Manifesto AI: Desak Regulasi Ketat
AS dan Iran Negosiasikan Akhir Perang di Tengah Krisis
Moskow Ancam Serangan Masif ke Kyiv Jelang Peringatan
Pyongyang Luncurkan Rudal Balistik ke Perairan Barat

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:00 WIB

Kem Sokha Bebas: Raja Kamboja Berikan Pengampunan

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:43 WIB

KPK Fasilitasi 52 Tahanan Korupsi Salat Idul Adha dan Kunjungan Keluarga

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:31 WIB

Selebgram Brunei Jadi Tersangka Penganiayaan Maut di Blok M Jakarta Selatan

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:21 WIB

Relawan Ebola Hadapi Ancaman Virus dan Kemarahan Warga

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:30 WIB

Paus Leo XIV Rilis Manifesto AI: Desak Regulasi Ketat

Berita Terbaru

Akhir dari penahanan politik. Pemimpin oposisi Kamboja, Kem Sokha, akhirnya menghirup udara bebas setelah menerima pengampunan kerajaan. Meski demikian, pemerintah tetap melarangnya beraktivitas di dunia politik. Dok: (AP Photo/Heng Sinith, File)

INTERNASIONAL

Kem Sokha Bebas: Raja Kamboja Berikan Pengampunan

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:00 WIB

Ketegangan di zona wabah. Vanny Birungi dan para relawan kemanusiaan di Kongo Timur berjuang melawan penyebaran virus Ebola di tengah ketidakpercayaan penduduk lokal dan ancaman kelompok bersenjata. Dok: (AP Photo/Moses Sawasawa)

INTERNASIONAL

Relawan Ebola Hadapi Ancaman Virus dan Kemarahan Warga

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:21 WIB

Ilustrasi, Peringatan dari Takhta Suci. Paus Leo XIV mengeluarkan ensiklik pertamanya,

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Rilis Manifesto AI: Desak Regulasi Ketat

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:30 WIB