TEHRAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran saat ini tengah mengkaji draf kesepakatan damai sementara dengan Amerika Serikat guna mengakhiri perang. Meskipun demikian, beberapa media lokal melaporkan bahwa Tehran telah menghentikan komunikasi langsung dengan Washington selama beberapa hari terakhir.
Bantahan Keras Donald Trump
Presiden AS Donald Trump langsung membantah keras laporan mengenai kemacetan komunikasi diplomatik tersebut. Sebab, ia mengeklaim kedua belah pihak terus berkomunikasi secara intensif tanpa ada jeda sama sekali.
“Pembicaraan kami terus berjalan secara berkelanjutan setiap harinya,” ujar Trump melalui unggahan media sosialnya pada Selasa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Trump bahkan sangat optimis bahwa kedua negara akan menyepakati draf gencatan senjata baru minggu depan. Dengan demikian, kesepakatan tersebut dapat segera membuka kembali jalur pelayaran penting di Selat Hormuz.
Syarat Alot dari Tehran
Di sisi lain, pihak Iran bersikap sangat hati-hati akibat sejarah ketidakpatuhan hukum oleh pihak AS. Oleh karena itu, Tehran mengajukan beberapa syarat ketat sebelum menyetujui perjanjian damai sementara tersebut.
Sumber internal menyebut Iran menuntut penghentian total serangan militer di seluruh front, termasuk wilayah Lebanon. Selain itu, mereka juga mendesak pencairan dana minyak senilai miliaran dolar serta pembebasan blokade pelabuhan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan pihaknya tidak akan memberikan pelonggaran sanksi secara cuma-cuma. Sebab, Iran harus terlebih dahulu memenuhi komitmen penghentian program pengayaan uranium mereka.
Dampak Buruk Perang Energi
Perang yang meletus sejak 28 Februari 2026 ini telah memicu krisis energi dan pangan global yang sangat parah. Akibatnya, harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik ke level tertinggi dalam sepekan terakhir.
Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia kini masih berada di bawah pengawasan ketat militer Iran. Hingga saat ini, hanya kapal dengan izin khusus dari Garda Revolusi yang dapat melintasi jalur laut tersebut.
Kerusakan rantai pasok global ini juga mulai mengganggu pengiriman bantuan kemanusiaan darurat PBB ke berbagai negara berkembang. Maka dari itu, dunia internasional terus mendesak kedua negara agar segera menyelesaikan perselisihan secara damai.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












