NANYUKI, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Amerika Serikat mengabaikan keputusan hukum dengan terus mengirimkan pesawat militer ke wilayah Kenya. Saat ini, setidaknya 20 penerbangan kargo militer telah mendarat di pangkalan udara Nanyuki secara berturut-turut.
Data Penerbangan dan Pengabaian Hukum
Sistem pelacak penerbangan Flightradar24 mendeteksi pergerakan aktif pesawat angkut raksasa C-130 dan C-17 milik AS. Sebelumnya, hakim mengeluarkan perintah penangguhan pertama pada tanggal 28 Mei lalu. Namun, warga melihat tiga pesawat militer tetap mendarat setelah terbitnya perintah pembekuan tersebut.
Pesawat-pesawat tersebut membawa puluhan dokter, insinyur, ahli laboratorium, hingga peralatan medis canggih. Meskipun begitu, pihak militer memastikan belum ada satu pun pasien terinfeksi yang masuk ke fasilitas tersebut. Oleh karena itu, militer kini telah mengisi penuh pangkalan udara tersebut dengan logistik kesehatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ruto Remehkan Gelombang Penolakan Publik
Kedutaan Besar AS di Nairobi mengirimkan kabel diplomatik rahasia ke Washington pada tanggal 2 Juni kemarin. Di dalam dokumen tersebut, diplomat AS menilai Presiden William Ruto telah meremehkan kekuatan oposisi domestik. Sebab, proyek bio-isolasi ini memicu kemarahan hebat dari warga lokal. Mereka merasa wilayahnya hanya menjadi tempat pembuangan risiko medis.
Sementara itu, kemarahan publik ini menumpuk di atas beban ekonomi lain berupa lonjakan harga bahan bakar nasional. Akibatnya, situasi ini berisiko memicu gelombang unjuk rasa besar berdarah seperti tahun 2024 lalu. Padahal, bentrokan awal di sekitar pangkalan udara Nanyuki telah merenggut dua korban jiwa warga sipil.
Aturan Karantina dan Penolakan di AS
Departemen Luar Negeri AS menjelaskan bahwa fasilitas ini murni untuk menampung warga Amerika tanpa gejala. Selanjutnya, mereka akan menjalani masa karantina wajib selama 21 hari di pangkalan tersebut. Namun, kebijakan penolakan pasien masuk ke daratan AS ini juga menuai kritik tajam di dalam negeri Amerika.
Para pakar kesehatan dari CDC memperingatkan dampak buruk kebijakan pengasingan pasien di luar negeri tersebut. Sebab, aturan ekstrem ini berpotensi menurunkan minat para relawan medis untuk terjun ke zona wabah global. Dengan demikian, para pakar menganggap langkah unilateral ini dapat memperlemah penanganan krisis kesehatan internasional.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












