DOHA, POSNEWS.CO.ID – Utusan Amerika Serikat dan Iran menyelesaikan perundingan tidak langsung pada hari Rabu kemarin. Pertemuan tersebut berakhir tanpa tanda-tanda adanya kesepakatan damai yang langgeng.
Debat Kusir Isu Lama di Doha
Para negosiator menghabiskan waktu dua hari di Doha. Namun, mereka justru membahas kembali kesepakatan dua minggu lalu.
Mereka mendiskusikan lalu lintas Selat Hormuz dan insentif finansial untuk Iran. Padahal, kedua negara seharusnya membahas topik-topik baru yang lebih krusial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedua delegasi juga menolak bertemu secara langsung di meja perundingan. Mereka berkomunikasi secara terpisah melalui mediator Qatar dan Pakistan.
Menariknya, utusan khusus AS Jared Kushner dan Steve Witkoff tidak menghadiri sesi teknis tersebut. Padahal, Gedung Putih sebelumnya menjanjikan perundingan tingkat tinggi.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memimpin delegasi Teheran hingga perundingan selesai.
Klaim Sepihak Donald Trump
Presiden AS Donald Trump mengeklaim adanya kemajuan besar dalam membatasi program nuklir Iran. Isu nuklir ini merupakan alasan utama Trump memulai perang pada Februari lalu.
“Proses denuklirisasi Iran berjalan sangat baik,” ujar Trump kepada wartawan di Washington.
Namun, sumber internal membantah klaim sepihak presiden Amerika Serikat tersebut. Mereka menegaskan bahwa kedua pihak sama sekali tidak membahas masalah nuklir.
Perundingan Doha murni membicarakan masalah teknis logistik. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan pemerintah akan membahas isu nuklir pada masa mendatang.
Vance mengakui Washington masih mengkhawatirkan ambisi nuklir Teheran tersebut.
Saling Sikut Kendali Selat Hormuz
Kesepakatan awal mewajibkan kedua negara membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz. Selat ini mengalirkan seperlima minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang pecah.
Meski kapal mulai melintas, status jalur air strategis ini masih sangat tidak menentu. Akhir pekan lalu, kedua militer saling serang setelah aksi penyerangan kapal kargo.
Dua sumber penting Iran menegaskan Teheran berambisi menguasai penuh selat tersebut. Mereka siap menggunakan kekuatan militer demi mendapatkan pengakuan internasional.
Iran juga berencana menarik biaya pelayaran bagi kapal komersial mulai pertengahan Agustus. Keputusan ini berlaku setelah masa bebas tarif dari kesepakatan awal berakhir.
Sementara itu, sebuah kapal kontainer asing kandas di luar rute pelayaran resmi Iran pada hari Rabu. Pendiri Vanda Insights Vandana Hari menilai pembukaan Selat Hormuz masih berjalan lambat dan tidak transparan.
Dampak Ekonomi dan Penolakan Jerman
Pernyataan Trump yang meremehkan potensi perang penuh berhasil menenangkan pasar keuangan. Harga minyak mentah dunia langsung merosot ke level terendah dalam empat bulan terakhir.
Para analis ekonomi juga memangkas proyeksi harga minyak untuk pertama kali sejak perang berkecamuk.
Di sisi lain, beberapa negara Eropa menawarkan bantuan untuk membersihkan ranjau di Selat Hormuz. Namun, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius memastikan negaranya tidak akan bergabung dalam misi tersebut.
Pistorius menyebut keengganan Iran bekerja sama dengan dunia internasional sebagai alasan utama penolakan Jerman.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












