Kontrak Sosial di Era Digital: Meninjau Ulang Pemikiran Hobbes dan Locke

Selasa, 16 Desember 2025 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Rela data pribadimu diambil demi keamanan? Inilah wajah baru

Ilustrasi, Rela data pribadimu diambil demi keamanan? Inilah wajah baru "Kontrak Sosial" di era digital. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Ratusan tahun lalu, filsuf Thomas Hobbes dan John Locke merumuskan sebuah ide brilian bernama “Kontrak Sosial”. Intinya, manusia sepakat untuk menyerahkan sebagian kebebasan alaminya kepada Negara.

Sebagai gantinya, Negara wajib memberikan keamanan dan ketertiban. Hobbes menyebut negara sebagai “Leviathan”, monster raksasa yang kita butuhkan agar manusia tidak saling memangsa.

Namun, hari ini kita hidup di dunia yang tidak pernah mereka bayangkan. Ruang publik telah pindah ke server digital. Seketika, isi kontrak lama itu menjadi usang dan perlu kita tinjau ulang. Siapa yang memegang kendali saat “wilayah” negara kini berbentuk data dan algoritma?

Leviathan Baru: Negara dan Korporasi

Dalam konteks baru ini, definisi penguasa telah bergeser. Kita tidak hanya berurusan dengan pemerintah, tetapi juga dengan raksasa teknologi (Big Tech).

Setiap kali kita menekan tombol “Saya Setuju” pada syarat dan ketentuan aplikasi, kita sedang menandatangani kontrak sosial mikro. Kita menyerahkan data pribadi—yang merupakan ekstensi dari diri kita—demi kenyamanan layanan gratis.

Baca Juga :  Teori Hijau: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Udara?

Pasalnya, data adalah mata uang baru. Korporasi mengambilnya sebagai bayaran atas konektivitas yang mereka sediakan. Kita menukar privasi dengan efisiensi. Locke mungkin akan berteriak protes karena hak milik pribadi (data) kita terampas begitu mudah.

Dilema Abadi: Privasi vs Keamanan

Isu paling panas adalah benturan antara privasi dan keamanan. Hobbes berpendapat bahwa keamanan adalah prioritas mutlak. Oleh karena itu, warga harus rela diawasi agar terhindar dari bahaya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Argumen ini sering pemerintah gunakan untuk membenarkan pengawasan massal (surveillance). Mereka menyadap komunikasi atau memasang kamera pengenal wajah demi menangkap teroris.

Akan tetapi, pertanyaan kritis muncul. Apakah kita rela menelanjangi privasi kita sepenuhnya demi rasa aman? Jika Negara tahu segala hal tentang kita, mulai dari riwayat pencarian hingga lokasi terkini, apakah kita masih manusia yang merdeka?

Risiko Otoritarianisme Digital

Bahaya terbesar mengintai dalam bentuk otoritarianisme digital. Teknologi memberikan kekuasaan yang nyaris Tuhan kepada Negara untuk mengontrol warganya.

Baca Juga :  Epidemi Sunyi: Mengapa Generasi Z Menjadi Generasi Paling Kesepian?

Negara bisa menggunakan algoritma untuk memprediksi perilaku, memanipulasi opini, atau bahkan menghukum pembangkang melalui sistem skor sosial. Akibatnya, keseimbangan kekuatan rusak total.

Negara menjadi terlalu kuat, sementara warga menjadi transparan dan tak berdaya. Hal ini melanggar prinsip Locke tentang pemerintahan yang terbatas (limited government). Mandat awal kontrak sosial adalah perlindungan, bukan penindasan totaliter.

Memperbarui Definisi Hak

Pada akhirnya, kita membutuhkan kontrak sosial baru yang relevan dengan abad ke-21. Kita mendesak adanya “Piagam Hak Asasi Digital”.

Definisi hak dan kewajiban warga negara di dunia maya harus tertulis jelas. Privasi data harus menjadi hak asasi manusia, bukan komoditas dagang.

Maka, kita harus berani menuntut transparansi dari Negara dan korporasi. Ingatlah, teknologi seharusnya menjadi alat yang membebaskan manusia, bukan rantai digital yang membelenggu kita dalam penjara panoptikon modern.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump
101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis
Iran Ancam Serangan Panjang dan Menyakitkan Terhadap Posisi AS
He Lifeng Serukan Penguatan Kerja Sama China-Belgia
Bocah 4 Tahun di Rokan Hilir Meninggal Diduga Diperkosa, Polisi Usut Tuntas
Pakistan Resmikan Kapal Selam Kelas Hangor Pertama di China

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:04 WIB

Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:58 WIB

Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump

Sabtu, 2 Mei 2026 - 12:29 WIB

101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:54 WIB

Iran Ancam Serangan Panjang dan Menyakitkan Terhadap Posisi AS

Berita Terbaru

Ilustrasi, Eskalasi kekerasan di perbatasan. Pembunuhan seorang tetua suku yang anti-militan memicu baku tembak sengit antara komite perdamaian lokal dan kelompok bersenjata di wilayah Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Menepis spekulasi. Pejabat senior Iran menegaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei dalam kondisi kesehatan yang prima dan tetap menjalankan tugas negara secara aktif, membantah laporan mengenai cedera akibat serangan udara. Dok: Xinhua.

INTERNASIONAL

Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:04 WIB

Ilustrasi, Ambang perang terbuka. Teheran memperingatkan balasan mematikan jika Washington melancarkan serangan baru, sementara penutupan Selat Hormuz terus mencekik 20% pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Ancam Serangan Panjang dan Menyakitkan Terhadap Posisi AS

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:54 WIB