Teori Perdamaian Demokratis: Mitos atau Fakta

Sabtu, 20 Desember 2025 - 08:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kekuatan kotak suara melawan peluru. Menelaah bagaimana akuntabilitas publik dan nilai-nilai bersama menciptakan zona perdamaian antar-negara demokrasi di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Kekuatan kotak suara melawan peluru. Menelaah bagaimana akuntabilitas publik dan nilai-nilai bersama menciptakan zona perdamaian antar-negara demokrasi di tahun 2026. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda menyadari sebuah pola unik dalam sejarah perang modern? Negara demokrasi sering berperang melawan negara otoriter. Namun, sangat jarang kita melihat dua negara demokrasi saling mengangkat senjata secara terbuka.

Fenomena empiris ini melahirkan sebuah tesis besar dalam Hubungan Internasional yang bernama “Teori Perdamaian Demokratis” (Democratic Peace Theory).

Para pendukung teori ini percaya bahwa demokrasi adalah kunci perdamaian dunia. Oleh karena itu, jika seluruh dunia menganut demokrasi, perang akan punah dari muka bumi. Terdengar indah, bukan? Akan tetapi, realitas politik tidak sesederhana itu.

Rem Pakem Bernama “Akuntabilitas”

Mengapa demokrasi cenderung lebih damai? Logika pertamanya bersifat institusional. Pemimpin negara demokrasi tidak memiliki kekuasaan mutlak.

Mereka harus menjawab kepada rakyat dan parlemen. Pasalnya, mereka membutuhkan persetujuan publik sebelum menyatakan perang. Mekanisme pengawasan dan keseimbangan (check and balances) ini bertindak sebagai rem pakem.

Akibatnya, pemimpin akan berpikir seribu kali sebelum mengirim tentara. Mereka takut kalah dalam pemilu berikutnya jika perang tersebut tidak populer atau memakan banyak korban jiwa. Sebaliknya, seorang diktator bisa mengobarkan perang kapan saja tanpa takut kehilangan jabatan.

Baca Juga :  Menguji Efektivitas PBB di Tengah Pelanggaran Hukum Global

Budaya Negosiasi

Logika kedua bersifat normatif atau budaya. Negara demokrasi terbiasa menyelesaikan konflik internal mereka melalui dialog, debat, dan hukum, bukan kekerasan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lantas, kebiasaan ini terbawa ke panggung internasional. Saat berselisih dengan sesama negara demokrasi, mereka akan mengedepankan negosiasi diplomatik. Mereka memandang negara lain sebagai mitra yang setara dan memiliki legitimasi yang sama.

Dengan begitu, kepercayaan terbangun lebih mudah. Mereka berasumsi bahwa negara demokrasi lain juga akan bertindak rasional dan tidak agresif.

Sisi Gelap: Operasi Intelijen

Meskipun demikian, teori ini memiliki lubang besar yang menganga. Kritikus menunjuk pada sejarah kelam intervensi terselubung. Negara demokrasi mungkin jarang berperang secara terbuka (open warfare), tetapi mereka sering melakukan penggulingan rezim lewat pintu belakang.

Baca Juga :  Zelenskyy Semprot Pemimpin Eropa di Davos: Jangan Terjebak Mode Greenland

Amerika Serikat (AS) adalah contoh paling nyata. Faktanya, CIA terlibat aktif dalam penggulingan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh di Iran pada 1953. Padahal, Mossadegh adalah pemimpin yang terpilih secara demokratis.

Hal serupa terjadi di Chile pada 1973. AS mendukung kudeta militer untuk menjatuhkan Presiden Salvador Allende yang juga terpilih lewat pemilu sah. Alasannya murni kepentingan ekonomi dan ideologi anti-komunis, mengabaikan prinsip demokrasi itu sendiri.

Alat Politik Barat?

Pada akhirnya, banyak pengamat menilai teori ini sering menjadi alat justifikasi politik. Negara-negara Barat menggunakannya untuk membagi dunia menjadi dua blok: “Demokrasi vs Otokrasi”.

Narasi ini memberikan legitimasi moral bagi kebijakan luar negeri mereka. Jika musuh adalah negara otoriter, maka perang dianggap sah demi menyebarkan demokrasi dan perdamaian.

Maka, kita harus kritis. Demokrasi memang menawarkan mekanisme damai yang lebih baik. Akan tetapi, label “demokrasi” tidak serta-merta menyucikan sebuah negara dari dosa ambisi kekuasaan dan intervensi militer.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026
Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit
Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman
10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres
AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman Setelah Perselisihan Trump-Merz
Viral Dosen UIN Jambi Digerebek Istri di Kos Bersama Mahasiswi, Jabatan Dicopot
Pria di Pool Bus MGI Sukabumi Tewas Ditusuk dan Dikeroyok, Polisi Buru Pelaku

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:40 WIB

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:08 WIB

Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:59 WIB

10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Berita Terbaru

Transformasi di garis depan. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan reformasi sistemik militer Ukraina mulai Juni 2026 guna mengatasi kekurangan personel dan meningkatkan kesejahteraan pasukan infanteri. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:08 WIB

Ketegangan agama dan politik. Satuan Tugas Penghapusan Bias Anti-Kristen merilis laporan 200 halaman yang menuduh pemerintahan Joe Biden melakukan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen melalui kebijakan pendidikan, hukum, dan simbol negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:57 WIB