Behavioral Economics: Mengapa Kita Sering Tidak Rasional tentang Uang?

Minggu, 9 November 2025 - 17:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kita mungkin berpikir kita logis soal uang, tapi Ekonomi Perilaku membuktikan sebaliknya. Bias psikologis sering membajak keputusan finansial kita.Kita mungkin berpikir kita logis soal uang, tapi Ekonomi Perilaku membuktikan sebaliknya. Bias psikologis sering membajak keputusan finansial kita. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Kita mungkin berpikir kita logis soal uang, tapi Ekonomi Perilaku membuktikan sebaliknya. Bias psikologis sering membajak keputusan finansial kita.Kita mungkin berpikir kita logis soal uang, tapi Ekonomi Perilaku membuktikan sebaliknya. Bias psikologis sering membajak keputusan finansial kita. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Selama berabad-abad, ekonomi klasik berdiri di atas satu asumsi dasar: manusia adalah Homo Economicus. Ini adalah gambaran manusia sebagai makhluk yang murni rasional, selalu logis, memiliki informasi sempurna, dan bertindak hanya untuk memaksimalkan keuntungan pribadinya.

Namun, jika Anda pernah membeli barang saat diskon padahal tidak butuh, menabung di rekening yang salah, atau enggan menjual saham yang merugi, Anda tahu bahwa asumsi itu salah.

Ekonomi Perilaku (Behavioral Economics) hadir untuk menjembatani kesenjangan ini. Disiplin ilmu ini menggabungkan wawasan dari psikologi dan ekonomi untuk menjelaskan mengapa kita sering membuat keputusan yang tampaknya “irasional”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perangkap Pikiran Kita

Ekonomi Perilaku menunjukkan bahwa kita tidak selalu logis karena otak kita menggunakan jalan pintas mental (heuristik) yang dapat mengarah pada kesalahan sistematis atau bias kognitif.

Tiga bias yang paling umum adalah:

  1. Loss Aversion (Keengganan Rugi): Secara psikologis, rasa sakit akibat kehilangan (misalnya, kehilangan Rp 100.000) terasa jauh lebih kuat daripada kesenangan dari keuntungan yang setara (misalnya, menemukan Rp 100.000). Ini menjelaskan mengapa kita rela memegang saham yang merugi terlalu lama, berharap harganya kembali naik, alih-alih segera menjualnya (cut loss).
  2. Anchoring (Jangkar Psikologis): Kita sangat bergantung pada informasi pertama yang kita terima. Dalam pemasaran, ini adalah “harga coret”. Sebuah baju yang diberi harga Rp 500.000 lalu didiskon 50% menjadi Rp 250.000 terasa lebih “murah” daripada baju yang sama yang dari awal diberi harga Rp 250.000. Harga Rp 500.000 bertindak sebagai “jangkar” yang memengaruhi persepsi nilai kita.
  3. Confirmation Bias (Bias Konfirmasi): Kita cenderung mencari informasi yang hanya mendukung keyakinan kita yang sudah ada dan mengabaikan data yang menentangnya. Seorang investor mungkin hanya akan membaca berita baik tentang saham yang ia miliki dan mengabaikan semua peringatan tentang risiko.
Baca Juga :  Menlu China Wang Yi Mulai Tur Afrika, 70 Tahun Persahabatan

Pemasaran, Kebijakan, dan Keuangan

Memahami irasionalitas ini memiliki dampak besar di dunia nyata:

  • Pemasaran: Perusahaan menggunakan anchoring (harga diskon), scarcity (stok terbatas!), dan social proof (orang lain juga membeli ini) untuk mendorong penjualan.
  • Kebijakan Publik (Nudging): Pemerintah menggunakan “dorongan” (Nudge) untuk memengaruhi perilaku warga secara positif tanpa paksaan. Contohnya, membuat keikutsertaan program dana pensiun menjadi otomatis (opt-out) alih-alih manual (opt-in). Tingkat partisipasi melonjak karena memanfaatkan bias default (pilihan standar).
  • Keuangan Pribadi: Mengetahui bias ini dapat membantu kita. Misalnya, dengan mengotomatiskan tabungan atau investasi setiap bulan, kita menghindari bias present bias (lebih menghargai kesenangan saat ini daripada masa depan).
Baca Juga :  Geger! Mayat Remaja Tewas Terkubur di Rembang, Pelaku Ditangkap Saat Kabur

Kahneman dan Thaler

Dua nama paling dominan di bidang ini adalah Daniel Kahneman dan Richard Thaler.

Daniel Kahneman, seorang psikolog, memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2002 atas karyanya (bersama Amos Tversky) tentang “Teori Prospek”, yang menjelaskan konsep loss aversion. Bukunya, Thinking, Fast and Slow, merangkum temuan-temuan utamanya.

Richard Thaler, yang memenangkan Nobel Ekonomi pada 2017, adalah bapak dari konsep “Nudge”. Ia menunjukkan bagaimana perusahaan dan pemerintah dapat merancang pilihan untuk membantu orang membuat keputusan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri.

Ekonomi Perilaku tidak mengatakan bahwa manusia itu bodoh. Ia hanya mengatakan bahwa kita adalah manusia—yang bisa diprediksi irasionalitasnya.

Dengan memahami faktor-faktor psikologis yang memengaruhi keputusan kita—bahwa kita lebih takut rugi, mudah terjebak pada informasi pertama, dan sulit berubah pikiran—kita bisa mulai merancang sistem yang lebih baik. Baik itu untuk diri kita sendiri (keuangan pribadi yang lebih cerdas) maupun untuk masyarakat (kebijakan publik yang lebih efektif).

Pada akhirnya, Ekonomi Perilaku membantu kita beralih dari bertanya, “Bagaimana seharusnya orang bertindak?” menjadi bertanya, “Bagaimana orang sebenarnya bertindak?”

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru

Rampungnya proses syuting Elden Ring. Sutradara Alex Garland dan studio A24 menyelesaikan tahapan pengambilan gambar film adaptasi game bernilai 100 juta dolar AS. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Adaptasi Game Raksasa: A24 Selesaikan Syuting Film Elden Ring

Sabtu, 1 Agu 2026 - 13:24 WIB