JAYAPURA, POSNEWS.CO.ID – Ledakan dahsyat bom mortir peninggalan Perang Dunia II yang merenggut sembilan nyawa di Kabupaten Biak Numfor, Papua, akhirnya mulai menemui titik terang.
Hasil investigasi Laboratorium Forensik Polda Papua mengungkap, lima warga diduga menggergaji mortir yang masih berisi bahan peledak aktif hingga memicu ledakan mematikan.
Kabid Laboratorium Forensik Polda Papua AKBP I Gede Suhartawan mengatakan hasil uji laboratorium memastikan mortir tersebut mengandung Trinitrotoluene (TNT), bahan peledak berkekuatan tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Berdasarkan hasil analisis ilmiah, ledakan dipicu oleh aktivitas pemotongan mortir menggunakan gergaji besi,” kata Gede, Kamis (16/7/2026).
Ia menjelaskan, panas akibat gesekan gergaji mengaktifkan fuse dan booster hingga memicu detonasi TNT.
Tim Forensik Temukan Kawah dan Sita 111 Barang Bukti
Tim Laboratorium Forensik menemukan pusat ledakan di kolong rumah warga di Kompleks Perikanan, Kampung Yenures, Distrik Biak Kota.
Ledakan itu membentuk kawah berdiameter sekitar 3,6 meter dengan kedalaman 80 sentimeter.
Penyidik juga menyita 111 barang bukti, termasuk 88 serpihan mortir, mata gergaji, mesin gerinda, proyektil logam, sampel material, dan pakaian korban.
Hasil pemeriksaan memastikan seluruh serpihan berasal dari jenis mortir yang sama.
Penyidik Periksa 25 Saksi
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Papua Kombes Pol Parasian Herman Gultom mengatakan penyidik telah memeriksa 25 saksi.
Penyidik menduga lima warga memotong atau membongkar mortir hingga memicu ledakan.
“Hasil penyidikan menunjukkan lima warga diduga memotong mortir yang masih aktif hingga memicu ledakan,” kata Parasian.
Ledakan terjadi di Kompleks Perikanan, Kampung Yenures, Distrik Biak Kota, pada Minggu (31/5/2026) sekitar pukul 14.45 WIT.
Polda Papua masih menyelidiki kasus tersebut dan mengimbau warga tidak menyentuh sisa amunisi perang karena masih berpotensi meledak. **
Editor : Hadwan













