Mengapa Remaja Terobsesi dengan Kehancuran Dunia?

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Bukan sekadar fiksi. Bagi remaja, kekejaman arena pertarungan

Ilustrasi, Bukan sekadar fiksi. Bagi remaja, kekejaman arena pertarungan "Hunger Games" terasa sangat mirip dengan lorong-lorong sekolah mereka sendiri. Dok: Istimewa.

LONDON, POSNEWS.CO.ID – Dalam beberapa tahun terakhir, rak toko buku dunia kebanjiran satu tema spesifik: Distopia. Judul-judul seperti The Hunger Games, The Maze Runner, hingga Divergent meledak nyaris dalam semalam.

Penulis mengambil latar dunia pasca-kiamat yang brutal, totaliter, dan tidak manusiawi untuk kisah-kisah ini. Tren ini begitu kuat hingga merambah ke layar lebar, mencetak laba jutaan dolar. Namun, pertanyaan besarnya tetap muncul: mengapa cerita tentang “tempat yang buruk” (makna harfiah dystopia) begitu memikat hati pembaca?

Sebenarnya, masyarakat sudah mengenal distopia sejak lama. Istilah ini muncul sejak abad ke-19. Huxley menerbitkan novel klasik Brave New World (1932) dan Orwell merilis 1984 (1949) lebih dari 75 tahun lalu. Namun, baru belakangan ini genre Young Adult (YA) distopia mendominasi pasar secara masif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekolah Menengah: Arena Gladiator Modern

Kritikus film Dana Stevens menawarkan teori menarik. Menurutnya, genre ini memikat pembaca karena kemiripan antara latar distopia dengan kehidupan sehari-hari remaja di sekolah menengah.

Baca Juga :  Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan

Pengalaman SMA, dengan segala hierarki sosialnya, memiliki struktur yang mirip dengan arena Hunger Games atau dunia faksi di Divergent. Tentu saja, remaja tidak saling membunuh secara harfiah. Namun, mereka menghadapi “pertarungan” yang tak kalah sengit: persaingan popularitas yang kejam dan tekanan untuk memilih kelompok (clique).

Pilihan faksi Tris dalam Divergent, misalnya, menggambarkan tekanan nyata saat siswa berjuang menyesuaikan diri dengan kelompok sosial tertentu di sekolah. Pembaca merasakan koneksi emosional yang kuat antara penderitaan karakter fiksi dengan realitas sosial mereka.

Cermin Kecemasan Iklim

Namun, penulis laris Naomi Klein melihat lapisan yang lebih gelap di balik tren ini. Ia menganggap ledakan distopia sebagai “tanda yang mengkhawatirkan”.

Hampir semua cerita ini membawa premis yang sama: kita tidak hanya akan menghadapi bencana lingkungan, tetapi bencana itu pasti terjadi dan mustahil kita hindari. Penulis menanamkan prinsip-prinsip moral dalam fiksi ini karena anak mudalah yang akan menanggung beban terberat dari perubahan iklim.

Penulis YA Todd Mitchell setuju. Ia berpendapat bahwa literatur modern memotret masa depan suram sebagai respons langsung terhadap “kecemasan sosial” akibat polusi dan konsumsi berlebih. Remaja membaca ketakutan masa depan mereka sendiri di halaman-halaman buku itu.

Baca Juga :  Adaptasi Game Raksasa: A24 Selesaikan Syuting Film Elden Ring

Memberontak Melawan Cetakan

Selain faktor lingkungan, penulis Claudia Gray menyoroti perubahan pendekatan manusia terhadap identitas pribadi. Sistem pendidikan dan sosial makin sering memaksa remaja modern masuk ke dalam “cetakan kaku”.

Ujian standar yang meningkat dan beban pekerjaan rumah yang menumpuk memicu perasaan kehilangan kendali pada diri siswa. Novel distopia hadir sebagai pelarian sekaligus inspirasi. Novel-novel ini menampilkan protagonis yang menolak definisi orang lain dan berani bertarung melawan status quo.

Apakah Tren Sudah Berakhir?

Pertanyaannya kini, sampai kapan tren ini bertahan? The Guardian mencatat pergeseran pasar ke arah realisme “kelam” (gritty realism) seperti The Fault in Our Stars karya John Green. Keuntungan waralaba film seperti Divergent pun mulai menyusut.

Pasar mungkin mulai mengalami kejenuhan. Namun, satu hal yang pasti: gelombang distopia ini telah mengubah wajah sastra remaja selamanya. Fenomena ini membuktikan bahwa pembaca muda tidak butuh cerita yang manis; mereka siap menghadapi realitas yang pahit dan jujur.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru