Joki Strava: Ketika Keringat Orang Lain Menjadi Ajang Pamer Kita

Sabtu, 22 November 2025 - 18:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ingin terlihat atletis tanpa perlu capek lari? Fenomena

Ilustrasi, Ingin terlihat atletis tanpa perlu capek lari? Fenomena "Joki Strava" hadir sebagai solusi instan kaum FOMO. Dok: Istimewa

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Gelora Bung Karno (GBK) atau area Car Free Day selalu penuh sesak setiap akhir pekan. Ribuan orang berlari dengan perlengkapan olahraga mutakhir. Mereka tampak bugar, aktif, dan sangat produktif.

Namun, tidak semua catatan lari yang beredar di media sosial adalah hasil keringat sendiri. Sebuah fenomena baru yang menggelitik muncul ke permukaan. Netizen menyebutnya sebagai “Joki Strava”.

Jasa ini menawarkan solusi bagi mereka yang malas berolahraga tetapi haus pengakuan. Singkatnya, orang lain yang berlari, tetapi akun Strava klien yang mencatat hasilnya. Klien tinggal duduk manis, membayar jasa, lalu mengunggah grafik lari yang memukau ke Instagram Story.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lari Sebagai Mata Uang Sosial

Olahraga lari telah mengalami pergeseran makna yang drastis. Dulu, orang berlari murni demi kesehatan jantung dan paru-paru. Kini, lari berubah menjadi mata uang sosial atau social currency.

Tangkapan layar aplikasi Strava dengan rute jauh dan pace kencang menjadi simbol status baru. Bahkan, hal itu kini setara dengan memamerkan tas mewah atau mobil baru.

Baca Juga :  Pria Tewas Tertutup Kardus di Jalan Hankam Bekasi, Polisi Pastikan Korban Dibunuh

Akibatnya, orang berlomba-lomba memoles citra diri mereka sebagai individu yang “sehat” dan “disiplin”. Mereka ingin terlihat sebagai bagian dari kaum urban yang sukses menyeimbangkan karier dan kebugaran.

Membeli Pujian Semu

Analisis psikologis di balik fenomena ini cukup memprihatinkan. Mengapa seseorang butuh pengakuan atas keringat yang tidak pernah mereka keluarkan?

Jawabannya terletak pada kecanduan validasi. Pasalnya, unggahan aktivitas lari selalu memancing respons positif. Teman-teman akan memberikan komentar “Keren!”, “Panutan!”, atau “Konsisten banget!”.

Pujian-pujian ini memberikan suntikan dopamin instan ke otak. Padahal, pujian itu salah alamat. Pengguna jasa joki rela menipu diri sendiri demi mempertahankan citra sempurna di mata publik. Mereka membeli rasa bangga yang palsu.

Tekanan FOMO dan Citra Produktif

Selain itu, tekanan sosial atau FOMO (Fear of Missing Out) memegang peran besar. Media sosial menciptakan standar bahwa orang sukses harus bangun pukul 5 pagi dan berolahraga.

Baca Juga :  Meski Dana Transfer Pusat Dipotong, KJP dan KJMU di Jakarta Tetap Berlanjut

Oleh karena itu, mereka yang memilih tidur atau bersantai sering merasa bersalah. Mereka takut mendapat label pemalas atau tidak produktif.

Lantas, Joki Strava hadir sebagai jalan pintas. Mereka bisa tetap tidur nyenyak sambil mempertahankan ilusi produktivitas di dunia maya. Sayangnya, kebohongan ini justru memperparah rasa tidak aman (insecurity) mereka di dunia nyata.

Puncak Budaya Pencitraan

Pada akhirnya, fenomena Joki Strava adalah puncak dari budaya pencitraan yang kebablasan. Kita hidup di era yang sangat aneh. Kesehatan pun kini bisa kita palsukan demi likes dan views.

Kita mungkin bisa menipu pengikut di media sosial dengan data palsu. Akan tetapi, kita tidak akan pernah bisa menipu tubuh sendiri. Jantung dan otot tidak mengenal kebohongan.

Maka, berhentilah mengejar validasi semu. Lari lah untuk dirimu sendiri, seberapa pun pelan atau pendek jaraknya. Keringat asli jauh lebih berharga daripada ribuan kilometer data palsu.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark
Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya
Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna
Marinir AS Uji HIMARS untuk Tangkal Agresi China
Sopir Diduga Mengantuk, Innova Rombongan DPR RI Hantam Dump Truk

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:55 WIB

Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Berita Terbaru

Taylor Swift hingga Matthew McConaughey kini menggunakan hukum merek dagang untuk melindungi wajah dan suara mereka dari kloning kecerdasan buatan. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pemerintahan Donald Trump mewajibkan warga asing yang mencari izin tinggal tetap (green card) untuk meninggalkan Amerika Serikat dan mengajukan aplikasi dari negara asal mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB