Kapitalisme Bencana: Mengeruk Cuan di Tengah Krisis

Sabtu, 8 November 2025 - 21:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Saat pandemi atau bencana alam terjadi, ada pihak yang tidak hanya melihat tragedi, tapi juga peluang. Inilah

Ilustrasi, Saat pandemi atau bencana alam terjadi, ada pihak yang tidak hanya melihat tragedi, tapi juga peluang. Inilah "Kapitalisme Bencana", atau "Shock Doctrine". Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Saat sebuah krisis besar melanda—entah itu pandemi global, bencana alam dahsyat, atau perang—fokus utama publik adalah bertahan hidup dan solidaritas. Namun, di balik layar kepanikan kolektif itu, ada agenda lain yang seringkali berjalan senyap.

Bagi sebagian pihak, krisis bukanlah tragedi, melainkan peluang bisnis. Inilah inti dari teori “Kapitalisme Bencana” (Disaster Capitalism). Jurnalis Naomi Klein mempopulerkan konsep ini dalam bukunya, “The Shock Doctrine” (Doktrin Kejut).

Shock Doctrine

Menurut Klein, “Shock Doctrine” adalah sebuah strategi politik. Strategi ini memanfaatkan disorientasi publik setelah terjadinya “kejutan” (bencana, perang, krisis ekonomi). Tujuannya adalah untuk meloloskan kebijakan ekonomi radikal. Dalam kondisi normal, publik pasti akan menolak mentah-mentah kebijakan tersebut.

Selain itu, kebijakan ini hampir selalu sama: privatisasi aset negara (menjual BUMN), deregulasi besar-besaran (menghapus aturan perlindungan buruh), dan pemotongan belanja publik (memangkas anggaran kesehatan).

Memanfaatkan Keterkejutan Publik

Bagaimana strategi ini bekerja? Ternyata, mekanismenya mengandalkan kelelahan dan ketakutan publik. Saat masyarakat sedang panik memikirkan kesehatan (saat pandemi), pengawasan mereka terhadap kebijakan pemerintah melemah drastis.

Keterkejutan kolektif ini adalah “jendela peluang” emas bagi kepentingan khusus. Saat inilah waktu untuk mengesahkan undang-undang yang sulit. Saat inilah waktu untuk memberikan kontrak darurat bernilai triliunan rupiah tanpa tender, dengan dalih “kecepatan penanganan krisis”.

Siapa Untung dari Pandemi?

Kita tidak perlu melihat jauh. Respon ekonomi global terhadap pandemi COVID-19 adalah studi kasus “Shock Doctrine” terbesar dalam sejarah modern.

Di banyak negara, pemerintah menggelontorkan dana stimulus raksasa untuk “menyelamatkan ekonomi”. Akan tetapi, siapa yang paling diuntungkan? Seringkali, dana talangan terbesar mengalir lebih dulu ke korporasi-korporasi raksasa, seperti maskapai penerbangan atau bank. Sementara itu, UMKM harus berjuang mengisi birokrasi rumit untuk bantuan yang jauh lebih kecil.

Baca Juga :  Gangguan Operasional KRL di Stasiun Bekasi Picu Keterlambatan dan Penumpukan Parah

Saat semua orang teralihkan oleh berita jumlah kasus harian, para pembuat kebijakan mengesahkan regulasi yang menguntungkan industri farmasi besar atau perusahaan teknologi pengawasan dengan cepat.

Krisis sebagai Peluang Bisnis

“Kapitalisme Bencana” mengajarkan kita untuk waspada. Sebuah krisis bukan hanya tragedi kemanusiaan yang harus kita atasi dengan solidaritas. Faktanya, bagi sebagian elit politik dan korporasi, krisis juga merupakan peluang bisnis dan politik yang paling menguntungkan.

Mereka tahu bahwa saat publik terguncang, itulah waktu terbaik untuk memaksakan agenda yang telah mereka siapkan jauh-jauh hari.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
AntĂłnio Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

AntĂłnio Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB