WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Ancaman kekerasan terhadap para anggota parlemen Amerika Serikat di Facebook melonjak sangat tajam. Sebab, raksasa teknologi Meta sengaja melonggarkan aturan pengawasan konten mereka sejak tahun lalu.
Akibatnya, para pengguna radikal kini semakin berani mengirimkan ancaman pembunuhan hingga pelecehan seksual secara terbuka. Lembaga nirlaba Center for Countering Digital Hate (CCDH) merilis laporan mengejutkan ini pada hari Selasa.
Temuan Mengejutkan tentang Lonjakan Ancaman
Lembaga CCDH menganalisis hampir delapan juta komentar yang menyasar 100 anggota Kongres Amerika Serikat. Peneliti membandingkan data selama enam bulan sebelum dan sesudah pelonggaran aturan keamanan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, hasil analisis menunjukkan ancaman pembunuhan terhadap para politisi melonjak hingga empat kali lipat. Selain itu, aksi pelecehan juga meningkat hingga lebih dari dua kali lipat di platform tersebut.
CCDH bahkan menemukan banyak komentar yang menghasut kekerasan fisik secara langsung terhadap Presiden Donald Trump. Sebagai contoh, seorang pengguna menulis pesan yang menganjurkan penembakan kepala Trump secara keji.
Sikap Keras CCDH dan Bantahan dari Pihak Meta
Direktur Eksekutif CCDH, Imran Ahmed, menilai Meta sengaja membiarkan penyebaran konten kebencian tersebut. Oleh karena itu, ia menganggap perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg ini ikut mendukung aksi intimidasi terhadap pejabat negara.
“Ketika platform membiarkan ancaman berkembang, mereka membantu menormalisasi kekerasan terhadap pejabat terpilih,” tegas Ahmed.
Sebaliknya, juru bicara Meta membantah keras seluruh tuduhan buruk di dalam laporan tersebut. Ia mengeklaim prevalensi ujaran kebencian di Facebook tidak mengalami kenaikan sepanjang tahun lalu.
Meta juga enggan memberikan tanggapan mendetail mengenai metodologi penelitian CCDH secara langsung. Sebab, pihak peneliti tidak memberikan salinan draf laporan tersebut sebelum rilis resmi ke publik.
Nyawa Politisi Terancam di Dunia Nyata
Namun, situasi di lapangan justru membuktikan adanya peningkatan nyata ancaman fisik terhadap para politisi. Sebagai contoh, seorang penyerang menembak mati legislator Minnesota Melissa Hortman beserta suaminya tahun lalu.
Sebuah insiden penembakan juga mengacaukan acara makan malam jurnalis Gedung Putih pada April kemarin. Pertunjukan kekerasan ini memaksa petugas keamanan mengawal evakuasi darurat bagi Presiden Donald Trump.
Senator Republik asal Utah, John Curtis, menyuarakan keprihatinan mendalam atas lonjakan konten kasar tersebut. Oleh sebab itu, ia mendesak perusahaan media sosial untuk segera memulihkan sistem keamanan demi melindungi keselamatan publik.
Motif Politik di Balik Pelonggaran Moderasi
Pelonggaran aturan ini terjadi setelah Meta menghentikan kerja sama dengan lembaga pemeriksa fakta independen. Meta kini menyerahkan tugas verifikasi informasi kepada para pengguna biasa melalui fitur Catatan Komunitas.
Dengan demikian, para pengamat menilai langkah Meta bertujuan untuk meredam kritik dari kubu konservatif. Sebab, para pendukung Donald Trump sering menuduh media sosial melakukan sensor sepihak terhadap opini mereka.
Meta juga mencabut pembatasan pidato terkait isu sensitif seperti identitas gender dan orientasi seksual. Pada akhirnya, keputusan kontroversial ini memicu kekhawatiran besar mengenai potensi meluasnya informasi bohong secara global.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












