KUALA LUMPUR, POSNEWS.CO.ID – Penurunan harga minyak bumi belum menekan pasar minyak nabati secara signifikan. Permintaan aktif dan pasokan musiman menjaga stabilitas harga sebagian besar minyak nabati.
Harga minyak mentah Brent untuk kontrak Agustus turun 2,6 persen dalam sepekan lalu. Kini, harga komoditas itu bertahan pada level 77 dolar AS per barel. Nilai itu hanya 11 persen lebih tinggi daripada level sebelum perang Amerika Serikat-Iran.
Namun, pelaku pasar tidak memproyeksikan penurunan harga yang tajam berikutnya. Banyak negara dan perusahaan tetap memperkuat cadangan minyak strategis mereka. Langkah ini mengantisipasi risiko kegagalan gencatan senjata yang rapuh antara Washington dan Tehran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penguatan Konsisten Pasar Minyak Sawit
Pasar minyak sawit terus mempertahankan momentum kenaikan harga saat ini. Kontrak berjangka minyak sawit Agustus pada Bursa Malaysia naik 1,9 persen pekan ini. Harga komoditas itu kini menyentuh level 4.658 ringgit atau sekitar 1.126 dolar AS per ton.
Mata uang ringgit Malaysia yang menguat sukses menstabilkan kuotasi dolar AS secara efektif. Asosiasi mencatat kenaikan ekspor minyak sawit Malaysia sebesar 19 hingga 25 persen. Peningkatan pengiriman itu berlangsung sepanjang periode tanggal 1 hingga 20 Juni lalu.
Pasar mengabaikan penurunan harga minyak mentah dunia karena permintaan domestik yang sangat kokoh.
Tekanan Harga pada Pasar Minyak Kedelai
Sebaliknya, pasar minyak kedelai masih menghadapi tekanan harga yang cukup berat. Kontrak berjangka minyak kedelai Juli pada bursa Chicago merosot 3,5 persen pekan ini. Nilai komoditas itu telah kehilangan 12 persen sejak awal Juni lalu.
Koreksi pasar minyak mentah mengurangi daya tarik sektor bahan bakar nabati dunia. Meskipun begitu, harga minyak kedelai Amerika Serikat masih 15,6 persen lebih tinggi. Angka ini mengacu pada harga sebelum konflik senjata di Timur Tengah meletus.
Pasokan bahan baku yang sedikit di Amerika Serikat menyokong harga lokal itu. Sementara itu, pasokan melimpah asal Amerika Selatan membatasi potensi pemulihan harga global.
Pasar Asia mempertahankan stabilitas harga minyak kedelai secara konsisten pekan ini. Bursa Dalian di Tiongkok mencatat transaksi stabil pada kisaran 1.225 hingga 1.230 dolar AS per ton. Kondisi serupa berlangsung pada pasar spot Brasil dengan harga kisaran 1.210 hingga 1.230 dolar AS per ton.
Ketegangan Pasokan Minyak Bunga Matahari
Pasar minyak bunga matahari menyajikan situasi yang lebih tegang akhir-akhir ini. Penyusutan pasokan musiman dari wilayah Laut Hitam memicu ketegangan pasar.
Harga permintaan di India melonjak 10 dolar AS menjadi 1.425 hingga 1.435 dolar AS per ton. Sebaliknya, harga minyak bunga matahari Rusia merosot 10 hingga 15 dolar AS per ton. Kini harga komoditas Rusia berada pada kisaran 1.280 hingga 1.290 dolar AS per ton.
Peningkatan pasokan minyak kanola panen baru menekan pergerakan harga minyak Rusia. Di Ukraina, harga minyak bunga matahari naik 10 hingga 15 dolar AS per ton dalam sepekan. Harga pelabuhan Laut Hitam kini menyentuh kisaran 1.325 hingga 1.330 dolar AS per ton. Rendahnya pasokan biji bunga matahari di pasar domestik menyokong kenaikan harga itu.
Penurunan Bertahap Harga Minyak Kanola
Pasar minyak kanola terus melanjutkan tren penurunan harga secara bertahap. Di Uni Eropa, harga minyak kanola turun menjadi 1.450 dolar AS per ton. Mata uang euro yang melemah menghadapi dolar AS menambah tekanan bagi pasar.
Petani bersiap menyambut musim pengolahan kanola baru pada bulan Juli hingga Agustus mendatang. Pasokan kanola baru akan mengompensasi penyusutan musiman pasokan minyak bunga matahari.
Analis memproyeksikan peningkatan hasil panen bunga matahari pada musim mendatang. Proyeksi panen melimpah ini menekan pasar kontrak berjangka secara nyata.
Penjual menawarkan minyak bunga matahari panen baru seharga 1.200 dolar AS per ton di pelabuhan Laut Hitam. Angka ini mencerminkan ekspektasi pasokan yang lebih aman untuk musim mendatang.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












