Validasi Eksternal: Mengapa Like dan View Menentukan Harga Diri?

Kamis, 20 November 2025 - 20:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Saat notifikasi

Ilustrasi, Saat notifikasi "Like" menjadi penentu kebahagiaan, apakah kita sedang kehilangan jati diri? Simak bahaya menggantungkan harga diri pada angka digital. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kita semua tentu pernah merasakan momen mendebarkan itu. Jantung berdegup kencang sesaat setelah kita mengunggah foto di Instagram. Mata kita lantas menatap layar ponsel dengan penuh harap.

Kita menunggu notifikasi pertama muncul di layar. Satu “Like”, dua “View”, lalu puluhan komentar pujian membanjiri kolom komentar. Alhasil, perasaan lega dan bahagia langsung menyelimuti hati.

Akan tetapi, apa yang terjadi jika respons tersebut tak kunjung datang? Kebahagiaan itu lantas berubah menjadi kecemasan. Akibatnya, banyak anak muda kini menggantungkan harga diri mereka pada metrik digital yang semu.

Candu Bernama Dopamin

Mekanisme ini sebenarnya berakar pada biologi otak manusia. Notifikasi ponsel bekerja layaknya mesin slot di kasino. Setiap kali layar menyala, otak kita melepaskan zat kimia bernama dopamin.

Zat ini memberikan sensasi kenikmatan sesaat bagi tubuh. Kita pun menjadi ketagihan terhadap validasi instan tersebut. Imbasnya, siklus “dopamine loop” ini mengurung kita tanpa henti.

Kita terus-menerus mengecek ponsel hanya untuk mendapatkan suntikan rasa senang. Padahal, kebahagiaan jenis ini sangat rapuh dan tidak bertahan lama. Akhirnya, kita menjadi budak dari algoritma yang mendikte perasaan kita hari itu.

Baca Juga :  Pengacara Ditembak di Tanah Abang, Polisi Sita Puluhan Sajam dan Senapan Angin

Hapus Postingan hingga Beli Followers

Dampak dari ketergantungan ini sangat nyata dan meresahkan. Biasanya, seseorang merasa gelisah luar biasa saat postingan mereka sepi respons. Mereka lantas mulai mempertanyakan kualitas diri sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Apakah aku kurang cantik?”, “Apakah hidupku membosankan?”. Pertanyaan-pertanyaan racun ini terus menghantui pikiran. Oleh sebab itu, kebiasaan menghapus postingan yang kurang “laku” menjadi hal lumrah.

Malahan, sebagian orang rela mengambil jalan pintas ekstrem. Mereka membeli followers atau likes palsu demi terlihat populer. Angka-angka fiktif tersebut menjadi tameng rapuh untuk menutupi rasa tidak aman (insecurity) mereka.

Panggung Sandiwara: Budaya “Flexing”

Tekanan untuk selalu terlihat sempurna melahirkan identitas kurasi. Kita membangun citra diri palsu demi konsumsi publik. Selanjutnya, budaya pamer atau flexing culture pun muncul ke permukaan.

Baca Juga :  Pria di Depok Diserang Mendadak, Pelaku Cekik dan Bacok Korban di Jalan Raya Krukut

Orang berlomba-lomba memamerkan pencapaian, kemewahan, atau kebahagiaan secara berlebihan. Di sisi lain, kita justru menyembunyikan sisi gelap dan kegagalan hidup rapat-rapat.

Kita memerankan peran ganda sebagai sutradara sekaligus aktor dalam film kehidupan sendiri. Sayangnya, kita sering lupa satu hal penting. Penonton di media sosial tidak benar-benar peduli pada kita. Mereka hanya peduli pada hiburan yang kita sajikan.

Membangun Benteng Percaya Diri

Pada akhirnya, kita wajib memutus rantai validasi eksternal ini. Harga diri manusia terlalu mahal jika kita menukarnya hanya dengan tombol “Like”. Kita harus mulai membangun kepercayaan diri dari dalam (internal validation).

Fokuslah pada pencapaian nyata di dunia nyata. Ingatlah, angka di media sosial hanyalah data statistik, bukan tolak ukur kualitas jiwa.

Jadilah diri sendiri tanpa perlu filter berlebihan. Kebahagiaan sejati muncul saat kita mampu menerima diri sendiri apa adanya, terlepas dari jumlah orang yang “menonton” hidup kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

May Day 2026 di Monas, 200 Ribu Buruh Hadir – Prabowo Dijadwalkan Pidato
Keamanan JPO Diperketat, Pemprov DKI Pasang CCTV di Titik Rawan
Jakbar Buka 1.000 Lowongan Pramudi Mikrotrans, Prioritas Warga Lokal dan Perempuan
Mulai 15 April 2026, Jalur 6-8 Stasiun Bogor Ditutup – Ini Dampaknya ke Jadwal KRL
Transformasi Ancol Dimulai, Fokus pada Experience dan Ekosistem Hiburan
Cuaca Hari Ini, Jabodetabek Cerah Pagi – Siang Berpotensi Hujan
KPK Sita 6 Barang Elektronik Faisal Assegaf, Terkait Kasus Suap Bea Cukai
16 Mahasiswa FH UI Diduga Terlibat Pelecehan, BEM Minta Menteri Turun Tangan

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 09:56 WIB

May Day 2026 di Monas, 200 Ribu Buruh Hadir – Prabowo Dijadwalkan Pidato

Rabu, 15 April 2026 - 09:36 WIB

Keamanan JPO Diperketat, Pemprov DKI Pasang CCTV di Titik Rawan

Rabu, 15 April 2026 - 08:51 WIB

Jakbar Buka 1.000 Lowongan Pramudi Mikrotrans, Prioritas Warga Lokal dan Perempuan

Rabu, 15 April 2026 - 08:37 WIB

Mulai 15 April 2026, Jalur 6-8 Stasiun Bogor Ditutup – Ini Dampaknya ke Jadwal KRL

Rabu, 15 April 2026 - 08:23 WIB

Transformasi Ancol Dimulai, Fokus pada Experience dan Ekosistem Hiburan

Berita Terbaru