Iran Membara: Mahasiswa dan Pedagang Turun ke Jalan

Rabu, 31 Desember 2025 - 05:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pecahnya garis pertahanan dalam. Di tengah bombardir udara, Amerika Serikat dan Israel mulai menggerakkan kelompok militan Kurdi dan Baloch di perbatasan guna melumpuhkan kontrol militer Teheran dari wilayah darat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Pecahnya garis pertahanan dalam. Di tengah bombardir udara, Amerika Serikat dan Israel mulai menggerakkan kelompok militan Kurdi dan Baloch di perbatasan guna melumpuhkan kontrol militer Teheran dari wilayah darat. Dok: Istimewa.

TEHERAN – Jalanan Teheran kembali memanas. Mahasiswa dari berbagai universitas bergabung dengan pedagang pasar dan pemilik toko dalam demonstrasi besar-besaran pada Selasa (30/12/2025).

Pemicu utama kemarahan publik adalah lonjakan biaya hidup yang tak terkendali. Tercatat, mata uang Rial Iran telah kehilangan hampir separuh nilainya terhadap dolar AS sepanjang tahun 2025. Akibatnya, inflasi meroket hingga angka 42,5 persen pada bulan Desember.

Merespons hal ini, Presiden Masoud Pezeshkian mengambil langkah persuasif. Ia menginstruksikan Menteri Dalam Negeri untuk mendengarkan “tuntutan sah” para pengunjuk rasa.

Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, mengonfirmasi rencana pembentukan mekanisme dialog. “Kami secara resmi mengakui protes tersebut. Kami mendengar suara mereka,” ujarnya melalui media pemerintah.

Teriakan “Reza Shah” di Jalanan

Situasi di lapangan menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam terhadap sistem. Video yang terverifikasi Reuters memperlihatkan massa berbaris di jalanan sambil meneriakkan slogan kontroversial: “Rest in peace Reza Shah”.

Baca Juga :  Starmer Minta Maaf Soal Mandelson dan Pertahankan Kepala Staf

Faktanya, slogan ini merujuk pada pendiri dinasti kerajaan yang terguling dalam Revolusi Islam 1979. Hal ini menandakan kritik tajam terhadap penguasa ulama saat ini.

Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan bahwa ratusan mahasiswa menggelar protes di empat universitas utama di Teheran. Sementara itu, media sosial dibanjiri dukungan. Warga menyebut korupsi dan harga tinggi telah membawa rakyat ke “titik ledakan”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sanksi AS dan Rekor Terendah Rial

Akar masalah ekonomi ini sangat kompleks. Ekonomi Iran telah terpuruk sejak AS memberlakukan kembali sanksi pada 2018 di bawah pemerintahan Donald Trump. Parahnya lagi, sanksi PBB juga kembali aktif pada September lalu.

Dampaknya langsung terasa di dompet rakyat. Nilai tukar Rial menyentuh rekor terendah baru, yakni 1,4 juta rial per dolar AS di pasar gelap pada hari Selasa. Padahal, awal tahun ini nilainya masih berada di kisaran 817.500 rial.

Baca Juga :  Rusia Peringatkan Tindakan Balasan Atas Rencana Finlandia Izinkan Senjata Nuklir

Inflasi tahunan juga tidak pernah turun di bawah 36,4 persen sejak Maret. Imbasnya, Kepala Bank Sentral Iran mengundurkan diri pada hari Senin. Kebijakan liberalisasi ekonomi pemerintah dituding justru menekan pasar mata uang rakyat.

Ancaman Serangan Israel dan Trump

Ketidakstabilan domestik ini terjadi di tengah ancaman eksternal yang nyata. Presiden AS Donald Trump baru saja melontarkan ancaman pada hari Senin.

Ia menyatakan mungkin akan mendukung putaran baru serangan udara Israel jika Teheran melanjutkan program rudal balistik atau nuklirnya.

Sebelumnya, AS dan Israel telah melakukan serangan udara selama 12 hari pada bulan Juni lalu. Serangan itu menargetkan instalasi militer dan nuklir Iran. Kini, pemerintah Iran harus menghadapi dua front sekaligus: tekanan sanksi dari luar dan amarah rakyat yang kelaparan dari dalam.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Reuters

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diplomasi di Bawah Hujan Drone: Zelenskyy Matangkan Jaminan Keamanan AS
Patroli Taktis di Ilaga Puncak, Aparat Pastikan Keamanan Warga Tetap Kondusif
Pemakaman Panglima AL Warnai Peringatan 47 Tahun Revolusi
Tatanan Barat Terguncang: Trump Pertimbangkan Keluar dari NATO
Gempa M7,6 Bitung Picu Ancaman Tsunami 3 Meter, Warga Diminta Menjauh dari Pantai
Bareskrim Bongkar Transaksi Sabu Hampir 1 Kg di Morowali, Pelaku Dibekuk Turun dari Bus
Benteng di Bawah Ballroom: Proyek East Wing White House Senilai $400 Juta
Trump Janjikan Perang Iran Berakhir Segera di Tengah Merosotnya Dukungan Publik

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 12:27 WIB

Diplomasi di Bawah Hujan Drone: Zelenskyy Matangkan Jaminan Keamanan AS

Kamis, 2 April 2026 - 11:59 WIB

Patroli Taktis di Ilaga Puncak, Aparat Pastikan Keamanan Warga Tetap Kondusif

Kamis, 2 April 2026 - 11:22 WIB

Pemakaman Panglima AL Warnai Peringatan 47 Tahun Revolusi

Kamis, 2 April 2026 - 10:10 WIB

Tatanan Barat Terguncang: Trump Pertimbangkan Keluar dari NATO

Kamis, 2 April 2026 - 09:51 WIB

Gempa M7,6 Bitung Picu Ancaman Tsunami 3 Meter, Warga Diminta Menjauh dari Pantai

Berita Terbaru

Sumpah perlawanan di Enghelab Square. Ribuan warga Teheran melepas kepergian arsitek penutupan Selat Hormuz, Alireza Tangsiri, bertepatan dengan hari jadi Republik Islam ke-47 di bawah bayang-bayang bombardir udara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pemakaman Panglima AL Warnai Peringatan 47 Tahun Revolusi

Kamis, 2 Apr 2026 - 11:22 WIB

Ilustrasi, Aliansi di ambang kehancuran. Presiden Donald Trump secara terbuka mengancam akan menarik Amerika Serikat keluar dari NATO setelah sekutu Eropa menolak pengerahan militer ke Selat Hormuz, memicu krisis keamanan terbesar sejak 1949. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tatanan Barat Terguncang: Trump Pertimbangkan Keluar dari NATO

Kamis, 2 Apr 2026 - 10:10 WIB