Dilema Pentagon: AS Pertimbangkan Alihkan Pasokan Senjata Ukraina ke Timur Tengah

Jumat, 27 Maret 2026 - 13:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prioritas yang terbelah. Militer Amerika Serikat mulai mengkaji pengalihan rudal pertahanan udara yang awalnya untuk Ukraina guna memenuhi kebutuhan mendesak di perang Iran yang kian intensif. Dok: Istimewa.

Prioritas yang terbelah. Militer Amerika Serikat mulai mengkaji pengalihan rudal pertahanan udara yang awalnya untuk Ukraina guna memenuhi kebutuhan mendesak di perang Iran yang kian intensif. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) kini menghadapi dilema besar dalam manajemen stok persenjataan globalnya. Washington mulai mempertimbangkan untuk mengalihkan senjata yang awalnya untuk Ukraina menuju zona perang di Timur Tengah pada hari Kamis.

Laporan Washington Post menyebutkan bahwa perang melawan Iran telah menguras persediaan amunisi paling kritis milik militer AS. Tiga sumber yang memahami masalah tersebut mengonfirmasi bahwa evaluasi ulang pengiriman senjata ini sedang berlangsung di tingkat tertinggi.

Amunisi Pertahanan Udara Jadi Prioritas Utama

Jenis persenjataan yang kemungkinan besar akan dialihkan adalah rudal pencegat pertahanan udara. Senjata ini merupakan komponen krusial yang sebelumnya dibeli melalui inisiatif NATO untuk mendukung Kyiv. Oleh karena itu, penarikan dukungan ini berisiko melemahkan perlindungan wilayah udara Ukraina dari serangan Rusia.

Namun, intensitas operasi militer AS di Iran menuntut pasokan logistik yang lebih cepat. Admiral Brad Cooper, komandan pasukan AS di Timur Tengah, menyatakan bahwa pihaknya telah menghantam lebih dari 10.000 target di dalam wilayah Iran. Sebagai hasilnya, AS berupaya keras untuk terus membatasi kemampuan Iran dalam memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya.

Baca Juga :  Vince Zampella, Sang Bapak Call of Duty, Tewas Tragis di Usia 55

Pentagon: “Memastikan Pasukan Menang”

Seorang juru bicara Pentagon menegaskan komitmen departemen untuk mendukung seluruh pasukan di lapangan. Pemerintah akan memastikan tentara AS beserta sekutu memiliki apa yang mereka butuhkan untuk bertempur dan menang. Meskipun demikian, keterbatasan kapasitas produksi industri pertahanan menjadi tantangan nyata bagi Washington.

Sebaliknya, pihak NATO melalui juru bicara Allison Hart memberikan pernyataan yang menenangkan bagi pihak Ukraina. Hart menegaskan bahwa senjata yang telah dibayar melalui mekanisme Prioritised Ukraine Requirements List (PURL) tetap mengalir ke Kyiv. Dalam hal ini, NATO berupaya meyakinkan bahwa dukungan untuk Eropa Timur tidak akan terhenti sepenuhnya akibat krisis di Teluk.

Baca Juga :  Tambang Emas Ilegal di Way Kanan Dibongkar, Polisi Ciduk 14 Tersangka - Kerugian Negara Rp1,3 T

Tekanan Operasional dan Risiko Global

Keputusan untuk mengalihkan senjata mencerminkan betapa beratnya beban logistik yang AS tanggung saat ini. Terlebih lagi, pengerahan ribuan Marinir dan pasukan lintas udara ke Timur Tengah memerlukan payung pertahanan udara yang sangat rapat. Secara simultan, ancaman serangan rudal balistik Iran menuntut kesiagaan sistem pencegat yang selalu terisi penuh.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada akhirnya, strategi pertahanan Amerika Serikat di tahun 2026 sedang diuji pada dua front yang berbeda. Keberhasilan dalam menyeimbangkan kebutuhan amunisi di Ukraina dan Iran akan menentukan kredibilitas militer Washington di mata dunia. Dengan demikian, pergerakan logistik amunisi dalam beberapa hari ke depan akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan keamanan global Donald Trump.

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Bongkar Gudang Bawang Ilegal, Perputaran Uang Tembus Rp24,96 Miliar
Dugaan Cabul Pelatih Sepatu Roda di Tangsel Terungkap dari Chat Korban
AS Dakwa Mantan Presiden Kuba Raul Castro Atas Penembakan Pesawat Sipil
Trump Luncurkan Dana Kompensasi $1,7 Miliar: Pendukung Beraksi
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Trump Ancam Serangan
Pengadilan Australia Denda X Corp: Kegagalan Transparansi
Kejagung Musnahkan Jam Rolex KW Sitaan Koruptor Asabri Jimmy Sutopo
Densus 88 Soroti Ancaman Digital terhadap Anak, Literasi dan Deteksi Dini Diperkuat

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:23 WIB

Polisi Bongkar Gudang Bawang Ilegal, Perputaran Uang Tembus Rp24,96 Miliar

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:06 WIB

Dugaan Cabul Pelatih Sepatu Roda di Tangsel Terungkap dari Chat Korban

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:53 WIB

AS Dakwa Mantan Presiden Kuba Raul Castro Atas Penembakan Pesawat Sipil

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:47 WIB

Trump Luncurkan Dana Kompensasi $1,7 Miliar: Pendukung Beraksi

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:43 WIB

Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Trump Ancam Serangan

Berita Terbaru

Kompensasi bagi

INTERNASIONAL

Trump Luncurkan Dana Kompensasi $1,7 Miliar: Pendukung Beraksi

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:47 WIB

Diplomasi penuh ancaman. Presiden Donald Trump mengeklaim negosiasi damai dengan Iran berada di tahap akhir, namun tetap memberikan ultimatum serangan militer. Kebuntuan ini terus memicu volatilitas harga minyak global. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Trump Ancam Serangan

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:43 WIB