Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Trump Ancam Serangan

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi penuh ancaman. Presiden Donald Trump mengeklaim negosiasi damai dengan Iran berada di tahap akhir, namun tetap memberikan ultimatum serangan militer. Kebuntuan ini terus memicu volatilitas harga minyak global. Dok: Istimewa.

Diplomasi penuh ancaman. Presiden Donald Trump mengeklaim negosiasi damai dengan Iran berada di tahap akhir, namun tetap memberikan ultimatum serangan militer. Kebuntuan ini terus memicu volatilitas harga minyak global. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Harapan untuk mengakhiri konflik Timur Tengah kembali menemui jalan buntu. Presiden Donald Trump mengeklaim negosiasi dengan Iran berada di tahap akhir. Namun, ia tetap mengeluarkan ancaman militer jika kedua pihak gagal mencapai kata sepakat.

Trump memberikan pernyataan tersebut kepada wartawan di Ruang Oval pada hari Rabu. Ia meyakini kedua negara akan segera mencapai kesepakatan. Oleh karena itu, ia berharap tidak perlu lagi ada pertumpahan darah lebih lanjut.

Ancaman “Serangan Menyakitkan” dan Skeptisisme Teheran

Sebelumnya, Trump sempat terdengar pesimistis mengenai peluang damai. Melalui unggahan di Truth Social, ia mengancam akan memulai kembali kampanye pengeboman di Iran. Ia juga menyebut kemungkinan Teheran menyetujui proposal terbaru AS sebagai “asumsi besar”.

Di sisi lain, Teheran memberikan respons yang sangat tegas. Pemerintah Iran menuduh Trump merancang rencana untuk memulai kembali perang. Mereka memperingatkan bahwa serangan baru akan memicu perang regional yang meluas ke luar Timur Tengah. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, Teheran tetap menempuh jalur negosiasi dengan itikad baik. Namun, mereka memiliki kecurigaan yang kuat terhadap langkah politik Amerika Serikat.

Baca Juga :  Paus Leo Tutup Tur Afrika dengan Kecaman Ketimpangan Ekonomi

Gejolak Pasar Energi: Harga Minyak Berguncang

Kebuntuan diplomatik ini memicu volatilitas hebat di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent berjangka sempat anjlok sekitar 4,95% ke level USD 98 per barel pada Rabu malam. Namun, optimisme pasar memudar dengan cepat, mendorong harga kembali naik di atas angka USD 100 per barel.

Para investor terus memantau apakah Washington dan Teheran mampu menemukan titik temu. Ketidakpastian ini membuat banyak perusahaan pelayaran besar memilih untuk menunda pengiriman melalui Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi seperlima pasokan energi dunia.

Upaya Mediasi: Peran Pakistan dan Jalur Beijing

Dalam upaya meredam eskalasi, pemerintah Pakistan terus menjembatani komunikasi antara kedua belah pihak. Seorang pejabat Pakistan yang terlibat dalam pembicaraan tersebut menyatakan bahwa kedua pihak telah mulai mempersempit perbedaan. Oleh sebab itu, dunia kini menunggu respons resmi Iran terhadap draf terbaru yang Washington ajukan.

Baca Juga :  Busa Putih Menumpuk di Kanal Banjir Timur, DLH DKI Kerahkan ‘Pasukan Mikroba’

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selanjutnya, isu Iran dipastikan menjadi topik utama dalam agenda kunjungan Presiden Trump ke Beijing. Ia akan menemui Presiden Xi Jinping pada hari Rabu. Maka dari itu, Washington sangat mengharapkan China menggunakan pengaruh ekonominya untuk menekan Teheran agar bersedia menyetujui kesepakatan damai.

Menatap Masa Depan Konflik

Masa depan stabilitas global kini bergantung pada hasil perundingan intensif dalam beberapa hari mendatang. Jika kedua belah pihak gagal menemukan titik temu, ancaman militer akan terus menghantui kawasan tersebut.

Singkatnya, masyarakat internasional kini memantau apakah diplomasi melalui mediator Pakistan dan China mampu memberikan hasil konkret. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, kemampuan Trump untuk menyeimbangkan tekanan politik domestik dengan ambisi keamanan nasional menjadi pertaruhan terbesar bagi pemerintahannya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pengadilan Australia Denda X Corp: Kegagalan Transparansi
Kejagung Musnahkan Jam Rolex KW Sitaan Koruptor Asabri Jimmy Sutopo
Densus 88 Soroti Ancaman Digital terhadap Anak, Literasi dan Deteksi Dini Diperkuat
Marinir AS Uji Sistem HIMARS untuk Deteksi Ancaman China
Pigai Kritik Media Dipenuhi Berita Negatif, Minta Jurnalis Lebih Objektif
Pramono Anung Warning Jual Beli Kartu Layanan Gratis, Pemprov DKI Siap Tindak Tegas
Prediksi Cuaca Jabodetabek Hari Ini: BMKG Waspadai Hujan, Petir, dan Angin Kencang
Rubio: Rangkul Sekutu NATO dan Cairkan Hubungan dengan India

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:43 WIB

Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Trump Ancam Serangan

Kamis, 21 Mei 2026 - 11:40 WIB

Pengadilan Australia Denda X Corp: Kegagalan Transparansi

Kamis, 21 Mei 2026 - 11:23 WIB

Kejagung Musnahkan Jam Rolex KW Sitaan Koruptor Asabri Jimmy Sutopo

Kamis, 21 Mei 2026 - 11:01 WIB

Densus 88 Soroti Ancaman Digital terhadap Anak, Literasi dan Deteksi Dini Diperkuat

Kamis, 21 Mei 2026 - 10:38 WIB

Marinir AS Uji Sistem HIMARS untuk Deteksi Ancaman China

Berita Terbaru

Diplomasi penuh ancaman. Presiden Donald Trump mengeklaim negosiasi damai dengan Iran berada di tahap akhir, namun tetap memberikan ultimatum serangan militer. Kebuntuan ini terus memicu volatilitas harga minyak global. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Trump Ancam Serangan

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:43 WIB

Ilustrasi, Kepatuhan digital menjadi pertaruhan. Pengadilan Federal Australia menjatuhkan denda A$650.000 kepada X Corp karena gagal memberikan informasi mengenai penanganan konten eksploitasi seksual anak kepada otoritas keamanan daring. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pengadilan Australia Denda X Corp: Kegagalan Transparansi

Kamis, 21 Mei 2026 - 11:40 WIB

Latihan tempur lintas negara. Korps Marinir Amerika Serikat dan pasukan Jepang melakukan uji coba peluncur roket HIMARS di kaki Gunung Fuji guna memperkuat pertahanan maritim terhadap potensi agresi di Laut China Selatan dan Selat Taiwan. Dok: (AP Photo/Hiro Komae)

INTERNASIONAL

Marinir AS Uji Sistem HIMARS untuk Deteksi Ancaman China

Kamis, 21 Mei 2026 - 10:38 WIB