WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Angkatan Udara Amerika Serikat sedang mengejar target waktu yang ambisius untuk menghadirkan pesawat kepresidenan baru. Militer menargetkan penyerahan sebuah Boeing 747 hadiah dari Qatar pada hari kemerdekaan AS, 4 Juli 2026 mendatang.
Pesawat tersebut akan bergabung dengan armada Air Force One bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat. Oleh karena itu, otoritas militer memberikan prioritas tinggi pada proses renovasi jet mewah ini agar siap mendukung mobilitas udara kepresidenan tepat pada waktunya.
Percepatan Pengerjaan: Target Kado Ulang Tahun
Gedung Putih secara resmi menerima jet mewah tersebut dari keluarga kerajaan Qatar tahun lalu. Setelah itu, Presiden Donald Trump meminta Angkatan Udara untuk melakukan pembaruan cepat agar pesawat memenuhi standar kepresidenan yang ketat.
Militer menunjuk perusahaan L3Harris untuk memimpin perombakan total tersebut. Sumber internal menyebutkan bahwa terdapat upaya untuk menyelesaikan pesawat tiga minggu lebih awal. Tujuannya agar jet tersebut dapat dikirimkan pada 14 Juni, bertepatan dengan ulang tahun Presiden Trump. Saat ini, pesawat telah menyelesaikan modifikasi dan uji terbang, serta sedang memasuki tahap pengecatan akhir.
Kontroversi Diplomatik dan Konflik Kepentingan
Penerimaan hadiah senilai USD 400 juta ini memicu gelombang kritik dari faksi Demokrat dan pendukung tata kelola pemerintahan yang baik. Mereka memperingatkan bahwa hadiah sebesar itu dapat menciptakan konflik kepentingan yang memengaruhi keputusan presiden terhadap negara donor.
Namun demikian, Presiden Trump menepis segala tuduhan tersebut. Ia menilai penolakan terhadap pesawat berusia 13 tahun itu sebagai tindakan yang “bodoh”. Selain itu, para ahli menekankan bahwa merombak pesawat mewah ini memerlukan peningkatan keamanan tingkat tinggi. Pesawat harus memiliki sistem komunikasi anti-sadap dan kemampuan untuk menghalau serangan rudal guna melindungi nyawa pemimpin negara.
Keterlambatan Boeing dan Masalah Anggaran
Langkah menerima hadiah Qatar ini muncul di tengah krisis keterlambatan program penggantian resmi Air Force One. Proyek Boeing untuk mengubah dua pesawat 747-8 menjadi jet kepresidenan generasi berikutnya (VC-25B) kini terlambat empat tahun dari jadwal semula.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengiriman pesawat utama tersebut diprediksi baru akan terjadi pada pertengahan 2028. Kondisi ini berisiko membuat Trump tidak dapat menggunakan pesawat barunya sebelum masa jabatannya berakhir pada Januari 2029. Meskipun Boeing memiliki kontrak harga tetap sebesar USD 3,9 miliar, biaya proyek kini membengkak melampaui USD 5 miliar. Sebagai dampaknya, perusahaan harus mencatatkan kerugian sebesar USD 2,4 miliar dari proyek tersebut.
Desain Livery Baru ala Donald Trump
Angkatan Udara baru-baru ini meluncurkan skema warna baru untuk armada angkut eksekutifnya. Desain tersebut menggunakan kombinasi warna merah, putih, biru tua, dan emas. Secara khusus, skema ini menghidupkan kembali palet warna yang telah lama Trump usulkan sejak masa jabatan pertamanya.
Warna baru ini akan menggantikan skema putih dan dua nada biru yang telah digunakan sejak era Presiden Kennedy. Selanjutnya, livery baru ini juga akan diterapkan pada empat pesawat Boeing 757-200 yang digunakan oleh wakil presiden dan anggota kabinet. Sebagai langkah antisipasi pensiunnya armada lama, militer juga telah membeli dua pesawat bekas Lufthansa 747-8i untuk keperluan suku cadang dan pelatihan kru.
Menuju Perayaan Nasional 2026
Pengoperasian jet hadiah Qatar ini menjadi solusi sementara yang krusial bagi ketersediaan armada udara Gedung Putih. Singkatnya, keberhasilan L3Harris memenuhi tenggat waktu musim panas ini akan menjadi kemenangan simbolis bagi administrasi Trump di tengah berbagai kendala produksi pesawat nasional.
Dengan demikian, masyarakat kini menanti penampakan perdana jet dengan livery emas tersebut di langit Washington pada Juli mendatang. Di tahun 2026 yang bersejarah ini, peremajaan armada Air Force One tetap menjadi fokus utama dalam menunjukkan kekuatan dan kedaulatan Amerika Serikat di panggung dunia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












