AS Dakwa Mantan Presiden Kuba Raul Castro Atas Penembakan Pesawat Sipil

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jaksa federal Amerika Serikat mendakwa mantan Presiden Kuba Raul Castro (94) atas keterlibatannya dalam penembakan pesawat sipil pada tahun 1996. Dok: Istimewa.

Jaksa federal Amerika Serikat mendakwa mantan Presiden Kuba Raul Castro (94) atas keterlibatannya dalam penembakan pesawat sipil pada tahun 1996. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Jaksa federal Amerika Serikat mendakwa mantan Presiden Kuba, Raul Castro, pada hari Rabu. Jaksa menuduh Castro terlibat dalam penembakan dua pesawat sipil pada tahun 1996. Saat itu, Castro menjabat sebagai Menteri Pertahanan Kuba.

Militer Kuba menembak jatuh dua pesawat kecil milik kelompok eksil Brothers to the Rescue. Oleh karena itu, jaksa menjerat Castro dengan dakwaan pembunuhan dan penghancuran pesawat terbang. Jaksa Agung sementara, Todd Blanche, mengumumkan dakwaan tersebut di Miami saat upacara penghormatan bagi para korban.

Penantian Keadilan Selama Tiga Dekade

Pemerintah AS menerbitkan surat perintah penangkapan untuk pria berusia 94 tahun tersebut. Selanjutnya, jaksa menargetkan lima orang lainnya dalam dakwaan yang sama, termasuk tiga pilot militer Kuba. Blanche menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen membawa mereka ke meja hijau. “Kami mengharapkan Castro hadir di sini, baik atas kemauannya sendiri atau dengan cara lain,” tegas Blanche.

Baca Juga :  New Week, New Skill: Ide Keterampilan Mikro

Menurutnya, pemerintah Amerika Serikat sering mendakwa individu di luar negeri. Jaksa menggunakan berbagai metode hukum guna memastikan mereka menghadapi pengadilan.

Tanggapan Keras Havana: “Aksi Politis”

Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, mengecam keras dakwaan tersebut. Bahkan, ia menuduh Amerika Serikat telah berbohong dan memanipulasi peristiwa tahun 1996. Diaz-Canel menyebut tindakan Washington sebagai “aksi politis tanpa dasar hukum.”

Ia berargumen bahwa militer Kuba melakukan pembelaan diri yang sah. Selain itu, ia mengeklaim adanya pelanggaran wilayah udara secara berulang oleh kelompok teroris sebelum insiden itu terjadi. Menurutnya, tindakan ini hanya upaya AS untuk membenarkan agresi militer terhadap Kuba.

Tekanan Trump dan Efek “Maduro”

Presiden Donald Trump memantau perkembangan ini dengan saksama. Saat wartawan bertanya mengenai nasib Kuba, Trump hanya menjawab, “Kita lihat saja nanti.” Selanjutnya, ia menegaskan bahwa pemerintah siap memberikan bantuan kemanusiaan jika bangsa tersebut mengalami keruntuhan ekonomi.

Baca Juga :  Parasocial Relationship: Mengapa Kita Merasa Kenal Dekat dengan Influencer yang Tak Pernah Ditemui?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah ini menciptakan ancaman nyata bagi kepemimpinan Kuba. Sebab, mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, juga menghadapi dakwaan serupa sebelum pasukan khusus AS menangkapnya di Caracas pada Januari lalu. Oleh karena itu, analis memperingatkan Raul Castro untuk sangat berhati-hati dalam pergerakannya sejak saat ini.

Menanti Akhir dari Sebuah Era

Keluarga korban menyambut dakwaan ini sebagai langkah yang sangat terlambat. Marlene Alejandre-Triana, putri dari salah satu pilot yang gugur, menyebut dakwaan ini sebagai keadilan yang telah lama mereka nantikan.

Singkatnya, ancaman hukum ini menunjukkan bahwa administrasi Trump telah beralih ke taktik yang jauh lebih agresif di Amerika Latin. Masyarakat internasional kini mengamati apakah Washington akan terus menekan Havana melalui jalur hukum dan blokade ekonomi hingga mengubah lanskap politik di pulau tersebut secara permanen.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menteri HAM Dorong Penghapusan Jejak Digital bagi Terdakwa Tak Bersalah
Solidaritas di Beijing: China dan Rusia Kecam Kebijakan Rudal Trump
Senator Republik Ragu Dukung Dana Keamanan $1 Miliar
Polisi Bongkar Gudang Bawang Ilegal, Perputaran Uang Tembus Rp24,96 Miliar
Dugaan Cabul Pelatih Sepatu Roda di Tangsel Terungkap dari Chat Korban
Trump Luncurkan Dana Kompensasi $1,7 Miliar: Pendukung Beraksi
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk: Trump Ancam Serangan
Pengadilan Australia Denda X Corp: Kegagalan Transparansi

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 17:10 WIB

Menteri HAM Dorong Penghapusan Jejak Digital bagi Terdakwa Tak Bersalah

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:30 WIB

Solidaritas di Beijing: China dan Rusia Kecam Kebijakan Rudal Trump

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:57 WIB

Senator Republik Ragu Dukung Dana Keamanan $1 Miliar

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:23 WIB

Polisi Bongkar Gudang Bawang Ilegal, Perputaran Uang Tembus Rp24,96 Miliar

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:06 WIB

Dugaan Cabul Pelatih Sepatu Roda di Tangsel Terungkap dari Chat Korban

Berita Terbaru

Penyelarasan kekuatan baru. Presiden Vladimir Putin dan Presiden Xi Jinping bertemu di Beijing untuk mengecam rencana perisai rudal

INTERNASIONAL

Solidaritas di Beijing: China dan Rusia Kecam Kebijakan Rudal Trump

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:30 WIB

Ketegangan di Senat. Anggota parlemen dari Partai Republik menunda proposal dana keamanan $1 miliar untuk Gedung Putih, sementara faksi Demokrat berupaya menjegal rencana kompensasi bagi sekutu politik Presiden Donald Trump. Dok: Reuters/Jonathan Ernst.

INTERNASIONAL

Senator Republik Ragu Dukung Dana Keamanan $1 Miliar

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:57 WIB