AS Dakwa Mantan Presiden Kuba Raul Castro Atas Penembakan Pesawat Sipil

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan diplomatik di Karibia. Kuba menolak keras sanksi baru AS dan dakwaan Raúl Castro, serta menuduhnya sebagai dalih Donald Trump untuk meluncurkan invasi militer. Dok: Istimewa.

Ketegangan diplomatik di Karibia. Kuba menolak keras sanksi baru AS dan dakwaan Raúl Castro, serta menuduhnya sebagai dalih Donald Trump untuk meluncurkan invasi militer. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Jaksa federal Amerika Serikat mendakwa mantan Presiden Kuba, Raul Castro, pada hari Rabu. Jaksa menuduh Castro terlibat dalam penembakan dua pesawat sipil pada tahun 1996. Saat itu, Castro menjabat sebagai Menteri Pertahanan Kuba.

Militer Kuba menembak jatuh dua pesawat kecil milik kelompok eksil Brothers to the Rescue. Oleh karena itu, jaksa menjerat Castro dengan dakwaan pembunuhan dan penghancuran pesawat terbang. Jaksa Agung sementara, Todd Blanche, mengumumkan dakwaan tersebut di Miami saat upacara penghormatan bagi para korban.

Penantian Keadilan Selama Tiga Dekade

Pemerintah AS menerbitkan surat perintah penangkapan untuk pria berusia 94 tahun tersebut. Selanjutnya, jaksa menargetkan lima orang lainnya dalam dakwaan yang sama, termasuk tiga pilot militer Kuba. Blanche menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen membawa mereka ke meja hijau. “Kami mengharapkan Castro hadir di sini, baik atas kemauannya sendiri atau dengan cara lain,” tegas Blanche.

Menurutnya, pemerintah Amerika Serikat sering mendakwa individu di luar negeri. Jaksa menggunakan berbagai metode hukum guna memastikan mereka menghadapi pengadilan.

Tanggapan Keras Havana: “Aksi Politis”

Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, mengecam keras dakwaan tersebut. Bahkan, ia menuduh Amerika Serikat telah berbohong dan memanipulasi peristiwa tahun 1996. Diaz-Canel menyebut tindakan Washington sebagai “aksi politis tanpa dasar hukum.”

Ia berargumen bahwa militer Kuba melakukan pembelaan diri yang sah. Selain itu, ia mengeklaim adanya pelanggaran wilayah udara secara berulang oleh kelompok teroris sebelum insiden itu terjadi. Menurutnya, tindakan ini hanya upaya AS untuk membenarkan agresi militer terhadap Kuba.

Tekanan Trump dan Efek “Maduro”

Presiden Donald Trump memantau perkembangan ini dengan saksama. Saat wartawan bertanya mengenai nasib Kuba, Trump hanya menjawab, “Kita lihat saja nanti.” Selanjutnya, ia menegaskan bahwa pemerintah siap memberikan bantuan kemanusiaan jika bangsa tersebut mengalami keruntuhan ekonomi.

Baca Juga :  Pra-Pemesanan GTA VI Kabarnya Tembus US$1 Miliar

Langkah ini menciptakan ancaman nyata bagi kepemimpinan Kuba. Sebab, mantan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, juga menghadapi dakwaan serupa sebelum pasukan khusus AS menangkapnya di Caracas pada Januari lalu. Oleh karena itu, analis memperingatkan Raul Castro untuk sangat berhati-hati dalam pergerakannya sejak saat ini.

Menanti Akhir dari Sebuah Era

Keluarga korban menyambut dakwaan ini sebagai langkah yang sangat terlambat. Marlene Alejandre-Triana, putri dari salah satu pilot yang gugur, menyebut dakwaan ini sebagai keadilan yang telah lama mereka nantikan.

Singkatnya, ancaman hukum ini menunjukkan bahwa administrasi Trump telah beralih ke taktik yang jauh lebih agresif di Amerika Latin. Masyarakat internasional kini mengamati apakah Washington akan terus menekan Havana melalui jalur hukum dan blokade ekonomi hingga mengubah lanskap politik di pulau tersebut secara permanen.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya
Anthropic Raih Skor Tertinggi di Tengah Ancaman Eksistensial
Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop
Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris
AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker
Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki
Korban Gempa Venezuela Bertahan Hidup di Bawah Reruntuhan
Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal Balistik

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 18:48 WIB

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Juli 2026 - 17:30 WIB

Anthropic Raih Skor Tertinggi di Tengah Ancaman Eksistensial

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:04 WIB

Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop

Rabu, 8 Juli 2026 - 13:56 WIB

Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:38 WIB

AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker

Berita Terbaru

Fenomena baru industri game independen. Dua pemuda asal Jepang mencetak rekor penjualan fantastis lewat game petak umpet unik Meccha Chameleon. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Meccha Chameleon Raup Rp 877 Miliar Hanya dalam Sebulan

Kamis, 9 Jul 2026 - 08:29 WIB