WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Kawasan Timur Tengah kini berada di ambang perang terbuka berskala besar.
Trump Siapkan Seribu Rudal Hadapi Ancaman Iran
Presiden Donald Trump melayangkan ancaman militer ekstrem hari Sabtu ini. Trump menulis peringatan keras tersebut melalui platform Truth Social miliknya.
Ia mengeklaim telah menyiapkan seribu rudal siap tembak. Rudal-rudal tersebut mengincar berbagai target vital di wilayah Iran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah ini merespons ancaman pembunuhan terhadap dirinya saat pemakaman Khamenei. Para pelayat membawa spanduk yang menyerukan pembunuhan Trump dan Netanyahu.
Trump juga berjanji akan menghancurkan peradaban Iran jika mereka bertindak. Kelompok advokasi sipil mengecam keras gaya bahasa Trump tersebut.
Perebutan Kendali Mutlak Jalur Selat Hormuz
Pemerintah Amerika Serikat menuntut Iran membuka total Selat Hormuz. Washington meminta jaminan keamanan bagi kapal dagang yang melintas.
Namun, utusan Iran di PBB menolak keras tuntutan tersebut. Teheran menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh mereka.
Iran bahkan berencana memungut biaya lintas bagi setiap kapal. Kebijakan sepihak ini membalikkan status selat sebagai perairan internasional.
Selat Hormuz menyalurkan seperlima pasokan energi dunia sebelum perang. Perebutan kendali ini memicu fluktuasi harga minyak mentah global.
Diplomasi Oman dan Tuduhan Pelanggaran Sanksi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bertolak menuju Oman hari ini. Araqchi akan membahas pengelolaan selat dengan menteri luar negeri Oman.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan memproyeksikan adanya kesepakatan damai. Fidan meyakini kedua negara dapat mencapai solusi akhir pekan ini.
Namun, Araqchi menuduh Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan sementara. Washington menyetop izin penjualan minyak mentah Iran menggunakan dolar AS.
Langkah sanksi tersebut merupakan balasan atas serangan kapal awal pekan. Amerika Serikat juga mengimbau kapal dagang menghindari wilayah perairan Iran.
Syarat Berat Negosiasi Nuklir dan Ancaman Militer
Pejabat Amerika Serikat membatasi waktu negosiasi damai bagi Iran. Mereka memberikan syarat yang sangat berat kepada pemerintahan Mojtaba Khamenei.
Iran harus menyerahkan seluruh cadangan uranium tingkat tinggi mereka. Persyaratan ini menjadi harga mati sebelum menyepakati perjanjian nuklir.
Selama ini, Iran selalu menolak menyerahkan pasokan bahan bakar tersebut. Padahal, Amerika Serikat mencurigai pengayaan uranium tersebut untuk senjata militer.
Jika jalur diplomasi gagal, Amerika Serikat menyiapkan opsi serangan militer. Mereka bersiap mengubur seluruh fasilitas nuklir bawah tanah Iran selamanya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













