Fenomena Jam Koma: Disosiasi Massal Generasi Z di Tengah Hingar Bingar Digital

Minggu, 23 November 2025 - 12:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pernah lihat teman tiba-tiba

Pernah lihat teman tiba-tiba "loading" saat diajak ngobrol? Itu bukan lemot, tapi "Jam Koma". Simak penyebab neurologis di balik tren viral yang mengkhawatirkan ini.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda mengajak bicara seseorang, tetapi mereka hanya menatap kosong? Tubuh mereka ada di depan mata, namun jiwa mereka seolah melayang entah ke mana.

Sesaat kemudian, mereka tersentak kaget dan bertanya bingung, “Hah? Apa?”. Fenomena unik ini sedang melanda anak muda. Netizen lantas menyebutnya sebagai “Jam Koma”.

Istilah gaul ini menggambarkan momen disosiasi sesaat. Seseorang tiba-tiba kehilangan fokus, melamun, atau mengalami lagging saat berinteraksi sosial. Awalnya, hal ini menjadi bahan tertawaan di TikTok. Namun, di balik kelucuan itu, tersimpan masalah kognitif yang serius.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Otak Lelah Dihajar Algoritma

Penyebab utama kondisi ini berkaitan erat dengan kebiasaan digital kita. Faktanya, otak Gen Z bekerja terlalu keras memproses informasi tanpa henti setiap harinya.

Baca Juga :  Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling media sosial. Akibatnya, otak mengalami kelelahan kognitif yang parah. Para ahli sering mengaitkan kondisi ini dengan istilah brain rot atau pembusukan otak kiasan.

Saraf-saraf otak menjadi tumpul karena overstimulasi dopamin. Oleh sebab itu, sistem saraf seolah “mematikan sakelar” sejenak untuk beristirahat secara paksa. Lantas, terjadilah momen “koma” tersebut di tengah aktivitas harian yang padat.

Canggung dan Gagap Sosial

Dampak sosial dari fenomena ini sangat terasa di dunia nyata. Kemampuan menjaga percakapan tatap muka kini menjadi barang langka.

Banyak anak muda merasa canggung atau awkward saat harus mengobrol panjang tanpa gawai. Sering kali, mereka kehabisan kata-kata atau lupa topik pembicaraan di tengah kalimat.

Kesadaran situasional mereka pun menurun drastis. Mereka sering tidak menyadari kejadian di sekitar karena terlalu asyik dengan dunia dalam kepala sendiri. Imbasnya, koneksi antarmanusia menjadi dangkal dan sering terputus-putus.

Tanda Bahaya, Bukan Lelucon

Kita mungkin tertawa melihat video kompilasi orang yang sedang “jam koma”. Akan tetapi, kita harus mulai waspada. Apakah ini sekadar tren internet yang lucu atau tanda penurunan fungsi kognitif massal?

Baca Juga :  Kebangkitan Global South: Menuntut Tatanan Ekonomi Dunia yang Lebih Adil

Jawabannya cenderung mengarah ke opsi kedua. Kehilangan fokus secara terus-menerus adalah sinyal bahwa otak sedang berteriak minta tolong. Kemampuan kita untuk hadir utuh pada saat ini (mindfulness) sedang tergerus habis oleh teknologi.

Kembalikan “Nyawa” Lewat Detoks

Pada akhirnya, kita perlu melakukan intervensi nyata. Jangan biarkan “jam koma” menjadi gaya hidup permanen. Kita harus berani meletakkan ponsel dan melakukan detoks digital.

Paksa otak untuk beristirahat dari gempuran algoritma. Lakukan aktivitas fisik, menatap langit, atau sekadar bernapas panjang tanpa gangguan notifikasi.

Kita harus mengembalikan “nyawa” dan kesadaran penuh ke dunia nyata. Ingatlah, momen terbaik dalam hidup terjadi di depan mata kita, bukan di balik layar kaca yang dingin.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Purbaya Dicopot? Perombakan Kemenkeu hingga Tekanan Fiskal Disorot
Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 09:48 WIB

Mengapa Purbaya Dicopot? Perombakan Kemenkeu hingga Tekanan Fiskal Disorot

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Berita Terbaru

Kapolda Metro Jaya Dadang Hartanto menandatangani kerja sama dengan dua perusahaan untuk membuka peluang kerja melalui program POLIRAN. (Posnews/Humas PMJ)

JABODETABEK

POLIRAN Buka Jalan Kerja bagi Warga Jakarta

Kamis, 5 Nov 2026 - 22:00 WIB

Kapolri Suyudi Ario Seto bersama Dirjen Imigrasi saat meluncurkan aplikasi I-GHAS 24/7 di Mabes Polri. (Posnews/Humas Polri)

NASIONAL

I-GHAS 24/7, Sistem Baru Polri Deteksi Buronan Internasional

Kamis, 5 Nov 2026 - 21:41 WIB

Ilustrasi, Penyadapan. (Magnific)

NASIONAL

Viral 64 Nama Diduga Disadap, Benarkah Sudah Terverifikasi?

Kamis, 5 Nov 2026 - 17:23 WIB