Friend-shoring: Ketika Teman Politik Lebih Penting daripada Efisiensi Ekonomi

Kamis, 27 November 2025 - 06:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Cari untung atau cari aman? Dunia bisnis kini beralih ke

Cari untung atau cari aman? Dunia bisnis kini beralih ke "Friend-shoring". Simak mengapa negara rela bayar mahal demi berdagang hanya dengan sekutu politiknya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mantra lama dunia bisnis global sangat sederhana: “Carilah tempat termurah untuk produksi”. Selama puluhan tahun, perusahaan Barat melakukan offshoring ke negara-negara dengan upah buruh rendah tanpa peduli ideologi politiknya.

Namun, mantra itu kini berubah drastis. Selamat datang di era “Friend-shoring”. Istilah ekonomi baru ini mendefinisikan ulang cara dunia berdagang.

Perusahaan tidak lagi sekadar mencari biaya termurah. Sebaliknya, mereka memindahkan rantai pasok vital ke negara-negara sekutu atau “teman politik” yang memiliki nilai-nilai serupa. Efisiensi bukan lagi raja, keamananlah yang kini memegang takhta.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemicu: Trauma Pandemi dan Geopolitik

Pergeseran besar ini tidak terjadi dalam semalam. Mulanya, pandemi COVID-19 menampar wajah para CEO global. Gangguan rantai pasok membuat pabrik-pabrik di Barat berhenti beroperasi karena kekurangan komponen dari Asia.

Baca Juga :  Perang Semikonduktor: Perebutan Minyak Baru Abad ke-21

Selanjutnya, ketegangan geopolitik memperparah situasi. Perang Rusia-Ukraina dan persaingan sengit antara Amerika Serikat (AS) dan China menyalakan alarm bahaya.

Negara-negara Barat sadar akan satu hal fatal. Mereka terlalu bergantung pada negara rival untuk kebutuhan strategis. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk “pulang kampung” ke lingkaran pertemanan diplomatik mereka.

Apple ke India, AS Gandeng Vietnam

Contoh nyata perubahan ini terlihat jelas pada raksasa teknologi. Apple, yang selama ini sangat bergantung pada China, mulai mengambil langkah besar.

Mereka memindahkan sebagian lini produksi iPhone ke India. Langkah ini bukan semata soal bisnis, melainkan diversifikasi risiko politik. India adalah sekutu strategis AS di Asia yang bisa menjadi penyeimbang China.

Di sisi lain, AS merangkul Vietnam dalam rantai pasok semikonduktor. Meskipun Vietnam adalah negara komunis, Washington melihat Hanoi sebagai mitra “teman” yang bisa diandalkan untuk mengurangi dominasi chip dari wilayah berisiko konflik.

Baca Juga :  Anatomi Tren Core

Harga Mahal Keamanan Pasokan

Akan tetapi, strategi ini membawa konsekuensi ekonomi yang tidak murah. Memindahkan pabrik dari “tempat termurah” ke “tempat teraman” pasti menaikkan biaya produksi.

Biaya tenaga kerja, logistik, dan regulasi di negara sekutu mungkin lebih tinggi. Akibatnya, harga barang di tingkat konsumen akan merangkak naik.

Kita harus bersiap menghadapi inflasi struktural yang lebih awet. Pasalnya, perusahaan membebankan biaya keamanan pasokan (supply chain resilience) tersebut kepada pembeli. Efisiensi global dikorbankan demi tidur nyenyak para pemimpin negara.

Akhir Era Efisiensi Global?

Pada akhirnya, kita sedang menyaksikan lonceng kematian bagi era hiper-globalisasi yang murni berbasis efisiensi. Logika ekonomi kini harus tunduk pada logika keamanan nasional.

Dunia menjadi lebih terkotak-kotak ke dalam blok-blok aliansi dagang. Maka, bersiaplah untuk dunia yang lebih mahal, namun mungkin lebih stabil secara politik. Dalam kamus ekonomi baru ini, berteman dengan orang yang tepat lebih berharga daripada menghemat satu dolar.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam
Satgas Ungkap KKB Bakusip Diduga Dalang Pembakaran Pesawat PT AMA

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:56 WIB

Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang

Berita Terbaru

Senat AS mengonfirmasi Dr Erica Schwartz sebagai Direktur CDC di tengah krisis internal lembaga. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Jumat, 7 Agu 2026 - 11:02 WIB

Militer Israel menggempur kembali kawasan Lebanon selatan di tengah berlangsungnya negosiasi diplomatik di Roma. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Israel Gelar Serangan Susulan di Lebanon Selatan Saat Diplomasi

Jumat, 7 Agu 2026 - 10:00 WIB

Departemen Luar Negeri AS memperketat pemeriksaan media sosial jurnalis asing demi memverifikasi kelayakan visa dan menjaga keamanan nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Periksa Akun Media Sosial Jurnalis Asing Pemohon Visa

Jumat, 7 Agu 2026 - 09:00 WIB

Amerika Serikat melanjutkan perundingan lisensi produksi rudal interceptor Patriot untuk Ukraina guna memperkuat pertahanan udara dari serangan Rusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Tetap Dorong Lisensi Rudal Patriot Ukraina

Jumat, 7 Agu 2026 - 09:00 WIB

Gelombang panas ekstrem menerjang Korea Selatan hingga suhu Seoul mendekati rekor bersejarah 39 derajat Celsius. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Lee Jae Myung Siaga Satu Sambut Puncak Gelombang

Jumat, 7 Agu 2026 - 08:00 WIB