Soft Power: K-Pop dan Hollywood Lebih Kuat dari Rudal

Selasa, 16 Desember 2025 - 07:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lebih ampuh dari nuklir? K-Pop dan Hollywood ternyata senjata politik yang mematikan. Simak analisis

Ilustrasi, Lebih ampuh dari nuklir? K-Pop dan Hollywood ternyata senjata politik yang mematikan. Simak analisis "Soft Power" yang bikin dunia tunduk tanpa perang. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dunia internasional sering kali terobsesi dengan adu kekuatan militer. Kita menghitung jumlah hulu ledak nuklir atau armada kapal induk untuk menentukan siapa negara terkuat. Kekuatan fisik ini kita kenal sebagai Hard Power.

Namun, ilmuwan politik Joseph Nye memperkenalkan konsep tandingan yang revolusioner pada tahun 1990. Ia menyebutnya Soft Power atau kekuatan lunak.

Teori ini mengajarkan satu hal penting. Sebuah negara bisa menjadi adidaya tanpa perlu menembakkan satu peluru pun. Sebaliknya, mereka menggunakan budaya, nilai-nilai politik, dan kebijakan luar negeri untuk menaklukkan hati dan pikiran dunia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menaklukkan dengan Daya Tarik

Mekanisme kerja Soft Power sangat berbeda dengan perang. Jika Hard Power bekerja dengan cara memaksa (wortel dan tongkat), maka Soft Power bekerja dengan cara menarik (attraction).

Negara memengaruhi perilaku negara lain melalui kooptasi. Artinya, mereka membuat orang lain menginginkan hasil yang sama dengan yang mereka inginkan.

Baca Juga :  Rusia Ubah Taktik: Gempuran Siang Hari Hantam Kyiv saat Zelenskyy Tawarkan Gencatan Senjata Paskah

Contohnya, seseorang tidak perlu dipaksa untuk menyukai Amerika. Mereka menyukainya secara sukarela karena mereka mencintai film Hollywood, celana jeans, atau musik Jazz. Seketika, citra negara tersebut menjadi positif dan kebijakan mereka lebih mudah diterima secara global.

Keajaiban “Hallyu Wave”

Studi kasus paling fenomenal di abad ke-21 adalah Korea Selatan. Dulu, negara ini hanya dikenal karena perang dan industri berat. Kini, wajah Korea berubah total berkat “Gelombang Hallyu”.

Pemerintah Seoul secara strategis berinvestasi pada ekspor budaya. Grup K-Pop seperti BTS dan Blackpink, serta drama Korea (drakor), sukses menginvasi kamar tidur remaja di seluruh dunia.

Dampaknya sangat nyata secara ekonomi dan politik. Akibatnya, ekspor produk kosmetik, makanan, dan pariwisata Korea melonjak drastis. Orang-orang di Paris atau Jakarta rela belajar bahasa Korea dan membeli produk Samsung karena mereka merasa memiliki ikatan emosional dengan budaya tersebut.

Hegemoni Budaya Amerika

Jauh sebelum Korea, Amerika Serikat telah menjadi raja Soft Power. Hegemoni budaya Paman Sam tertanam kuat lewat Hollywood, Universitas Ivy League, dan gerai McDonald’s.

Baca Juga :  Misi Damai Abu Dhabi: Trump Tekan Ukraina Selesaikan Perang dalam Satu Bulan

Nilai-nilai kebebasan dan demokrasi yang mereka jual lewat film blockbuster sering kali memuluskan agenda kebijakan luar negeri AS. Bahkan, runtuhnya Uni Soviet sebagian dipicu oleh keinginan rakyat Blok Timur untuk merasakan gaya hidup “bebas” yang mereka lihat di media Barat.

Sulit Dikendalikan Penuh

Meskipun sangat ampuh, Soft Power memiliki keterbatasan. Strategi ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membuahkan hasil. Kita tidak bisa membangun reputasi budaya dalam semalam.

Selain itu, pemerintah sulit mengendalikan Soft Power secara penuh. Budaya tumbuh organik dari masyarakat sipil. Terkadang, produk budaya yang viral justru bisa mengkritik negara asalnya sendiri (seperti film Parasite yang mengkritik kesenjangan sosial Korea).

Senjata di Era Damai

Pada akhirnya, Soft Power adalah senjata strategis paling elegan di era damai. Menaklukkan musuh tanpa pertempuran adalah puncak tertinggi dari strategi perang.

Negara-negara kini sadar. Membangun perpustakaan, mengirim seniman, dan memfasilitasi pertukaran pelajar ternyata sama pentingnya dengan membeli jet tempur. Ingatlah, rudal bisa menghancurkan kota, tetapi budaya bisa memenangkan jiwa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB