COP30 Belem: Uni Eropa Ancam Walk Out, Kesepakatan Iklim di Ujung Tanduk

Sabtu, 22 November 2025 - 13:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Api di venue, teks yang lemah, dan ancaman veto. COP30 di Brasil terancam berakhir tanpa kesepakatan setelah Uni Eropa menolak draf final. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Api di venue, teks yang lemah, dan ancaman veto. COP30 di Brasil terancam berakhir tanpa kesepakatan setelah Uni Eropa menolak draf final. Dok: Istimewa.

BELEM – Konferensi iklim PBB, COP30, di Belem, Brasil, seharusnya berakhir Jumat malam (21/11/2025). Namun, negosiasi justru memanas dan molor hingga larut malam. Nasib kesepakatan global untuk menyelamatkan bumi kini menggantung tanpa kepastian.

Ketegangan memuncak setelah Uni Eropa (UE) mengambil langkah tegas. Blok tersebut menolak mentah-mentah rancangan kesepakatan (draft deal) yang diajukan oleh tuan rumah, Brasil.

Pasalnya, teks tersebut dianggap terlalu lemah. Draf itu gagal mencantumkan peta jalan jelas untuk pengurangan emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim.

Pertarungan Soal Bahan Bakar Fosil

Presidensi Brasil merilis draf teks tersebut sebelum fajar pada Jumat. Sayangnya, referensi tentang penghentian penggunaan minyak, gas, dan batu bara menghilang dari dokumen itu.

Draf awal sebenarnya memuat opsi penghapusan bahan bakar fosil. Akan tetapi, poin krusial tersebut dihapus setelah mendapat penolakan keras dari negara-negara produsen minyak utama.

Arab Group, yang beranggotakan 22 negara termasuk Arab Saudi, memainkan peran kunci dalam penolakan ini. Sumber internal menyebutkan bahwa Arab Saudi memperingatkan negosiator lain. Mereka menegaskan bahwa menargetkan industri energi mereka akan meruntuhkan seluruh negosiasi.

Baca Juga :  Mitos Kelangkaan Berlian: Marketing di Balik Cincin Nikahmu

Akibatnya, Uni Eropa berang. Komisaris Iklim UE, Wopke Hoekstra, menyatakan kekecewaannya secara terbuka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dalam keadaan apa pun kami tidak akan menerima ini,” tegas Hoekstra dalam pernyataannya, Jumat (21/11/2025).

Beberapa negosiator Eropa bahkan memberi sinyal keras. Bahkan, mereka mempertimbangkan opsi walk out atau meninggalkan pembicaraan daripada menyetujui kesepakatan yang cacat.

Kebakaran Venue dan Tuntutan Dana

Suasana di Belem kian kacau karena insiden non-politis. Sebelumnya, kebakaran sempat terjadi di lokasi konferensi pada Kamis sore. Insiden ini memaksa penundaan sesi dan menambah ketegangan di antara para delegasi yang sudah kelelahan.

Di sisi lain, negara-negara berkembang menyerang balik posisi negara maju. Mereka menuntut komitmen pendanaan yang lebih besar (climate finance).

Draf kesepakatan menyerukan pelipatgandaan dana adaptasi pada 2030 dari level 2025. Namun, teks itu tidak merinci dari mana uang itu berasal, apakah dari negara kaya atau sektor swasta.

Baca Juga :  Driver Ojol di Cakung Gagalkan Curanmor, Polisi Beri Apresiasi

“Kita tidak bisa hanya bekerja dengan satu jalur. Jika ada jalan untuk bahan bakar fosil, harus ada jalan untuk pendanaan iklim juga,” ujar seorang negosiator negara berkembang.

Absennya AS dan Posisi China

KTT tahun ini juga menghadapi tantangan geopolitik berat. Presiden AS Donald Trump absen dan menyebut pemanasan global sebagai hoax. Oleh sebab itu, Presiden COP30 AndrĂ© CorrĂªa do Lago mendesak dunia untuk menunjukkan persatuan multilateral.

“Dunia sedang menonton. Kita harus mencapai kesepakatan di antara kita,” desak CorrĂªa do Lago.

Sementara itu, harapan agar China mengisi kekosongan kepemimpinan AS tampaknya belum terwujud. Beijing hadir dengan paviliun megah dan teknologi hijau canggih. Tetapi, diplomat China lebih fokus menentang hambatan perdagangan teknologi daripada memimpin negosiasi politik yang alot.

Kini, para delegasi berpacu dengan waktu. Mereka harus menjembatani jurang perbedaan yang menganga lebar atau pulang dengan tangan hampa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok
Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi
Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam
BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026
Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit
Pemerintahan Trump Tuduh Era Biden Targetkan Umat Beriman
10 Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan, Hezbollah Balas dengan Drone
Trump Klaim Permusuhan Berakhir Guna Hindari Izin Kongres

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:29 WIB

Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:15 WIB

Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:04 WIB

Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:40 WIB

BMKG Warning Cuaca Banten, Hujan Lebat dan Angin Kencang 3-8 Mei 2026

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Berita Terbaru

Inggris dalam siaga

INTERNASIONAL

Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:15 WIB

Transformasi di garis depan. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan reformasi sistemik militer Ukraina mulai Juni 2026 guna mengatasi kekurangan personel dan meningkatkan kesejahteraan pasukan infanteri. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy Rombak Struktur Tentara dan Naikkan Gaji Prajurit

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:12 WIB