Pemerintahan Trump Luncurkan Dua Investigasi Baru Terhadap Harvard

Rabu, 25 Maret 2026 - 07:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Terobosan besar diplomasi dunia. Presiden Donald Trump mengumumkan pencapaian kesepakatan damai dengan Iran guna membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan energi global. Dok: Istimewa.

Terobosan besar diplomasi dunia. Presiden Donald Trump mengumumkan pencapaian kesepakatan damai dengan Iran guna membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan energi global. Dok: Istimewa.

CAMBRIDGE, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan antara Gedung Putih dan institusi pendidikan elite Amerika Serikat mencapai titik didih baru pada hari Senin. Pemerintahan Trump resmi membuka dua penyelidikan tambahan terhadap Harvard University melalui Kantor Hak Sipil Departemen Pendidikan.

Dalam konteks ini, pemerintah menuduh Harvard masih melanggar hukum federal terkait diskriminasi mahasiswa. Penyelidikan ini menyasar kebijakan penerimaan mahasiswa dan atmosfer keamanan bagi mahasiswa Yahudi di lingkungan kampus.

Fokus Investigasi: Preferensi Ras dan Antisemitisme

Penyelidikan pertama akan memeriksa apakah Harvard tetap menggunakan preferensi berbasis ras dalam proses admisi. Hal ini menjadi sensitif setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan affirmative action pada tahun 2023. Oleh karena itu, pemerintah menuntut transparansi dokumen guna memastikan kepatuhan hukum yang ketat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penyelidikan kedua berfokus pada tuduhan antisemitisme di kampus selama gelombang protes terhadap konflik Timur Tengah. Pekan lalu, pemerintah menggugat Harvard untuk memulihkan miliaran dolar dana publik karena dianggap gagal melindungi mahasiswa Yahudi. Meskipun demikian, pihak universitas menegaskan telah berulang kali mengutuk segala bentuk kefanatikan dan diskriminasi.

Baca Juga :  Paus Leo Tutup Tur Afrika dengan Kecaman Ketimpangan Ekonomi

Ancaman Pembekuan Dana dan Kebebasan Akademik

Presiden Donald Trump secara terbuka berupaya membekukan dana federal bagi universitas yang mengizinkan protes pro-Palestina atau menjalankan program keberagaman (DEI). Langkah ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai masa depan kebebasan akademik dan proses hukum yang adil di institusi pendidikan.

Lebih lanjut, para advokat pendidikan mendesak universitas untuk melawan upaya pemerintah dalam mengumpulkan data admisi yang bersifat pribadi. Mantan pejabat pemerintahan sebelumnya menyebut langkah ini sebagai “alat penegakan hukum anti-hak sipil”. Akibatnya, atmosfer di berbagai kampus besar kini dipenuhi oleh ketidakpastian hukum dan tekanan politik yang kian membebani.

Perbandingan dengan Kasus Columbia University

Upaya mediasi antara pemerintah dan Harvard hingga kini masih belum membuahkan hasil. Sebaliknya, pemerintahan Trump telah mencapai kesepakatan dengan universitas lain seperti Columbia University. Tahun lalu, Columbia setuju membayar lebih dari $200 juta kepada pemerintah guna menyelesaikan investigasi serupa.

Baca Juga :  Kyoto Pertimbangkan Bangun Gedung 60 Meter dekat Stasiun

Namun, para ahli akademik memberikan peringatan keras. Mereka menilai kesepakatan semacam itu menetapkan preseden buruk yang disebut sebagai praktik “pay-to-play” dalam sistem pendidikan tinggi. Oleh sebab itu, banyak pihak memandang sengketa melawan Harvard ini sebagai ujian terbesar bagi kedaulatan institusi pendidikan swasta di hadapan kekuasaan federal tahun 2026.

Ketimpangan Fokus Investigasi

Kritik juga muncul terkait arah kebijakan pemerintah. Hingga saat ini, pemerintahan Trump belum meluncurkan penyelidikan serupa terhadap tuduhan Islamofobia atau bias anti-Palestina di kampus. Kelompok pengunjuk rasa menyebut pemerintah telah menyalahartikan kritik terhadap kebijakan luar negeri sebagai bentuk antisemitisme.

Pada akhirnya, perselisihan hukum ini diprediksi akan berlangsung lama di pengadilan federal. Keberhasilan pemerintah dalam menjerat Harvard akan menentukan peta kekuatan ideologi di kampus-kampus Amerika Serikat untuk dekade mendatang. Dunia pendidikan kini menanti apakah integritas akademik mampu bertahan di tengah gempuran agenda politik Washington yang agresif.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya
Anthropic Raih Skor Tertinggi di Tengah Ancaman Eksistensial
Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop
Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris
AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker
Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki
Korban Gempa Venezuela Bertahan Hidup di Bawah Reruntuhan
Rusia Gempur Kyiv dengan Rudal Balistik

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 18:48 WIB

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Juli 2026 - 17:30 WIB

Anthropic Raih Skor Tertinggi di Tengah Ancaman Eksistensial

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:04 WIB

Gempuran Drone Ukraina Paksa Kilang Minyak Rusia Setop

Rabu, 8 Juli 2026 - 13:56 WIB

Nigel Farage Mundur dari Parlemen Inggris

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:38 WIB

AS Gempur Sasaran Militer Iran Pasca-Serangan Kapal Tanker

Berita Terbaru

Hambatan di tengah krisis kesehatan. Warga di kamp pengungsian Kpangba mengusir petugas medis yang berupaya melacak kontak erat korban meninggal akibat Ebola. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Wabah Ebola Kongo Meluas: WHO Peringatkan Bahaya

Rabu, 8 Jul 2026 - 18:48 WIB

Laporan evaluasi keamanan kecerdasan buatan. Anthropic memimpin peringkat keamanan AI global, namun seluruh industri gagal membendung ancaman eksistensial manusia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Anthropic Raih Skor Tertinggi di Tengah Ancaman Eksistensial

Rabu, 8 Jul 2026 - 17:30 WIB

Ledakan industri kecerdasan buatan. Samsung Electronics memproyeksikan lonjakan laba operasional hingga 19 kali lipat pada kuartal kedua tahun ini. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Raksasa Chip Samsung Cetak Rekor, Laba Melonjak

Rabu, 8 Jul 2026 - 15:28 WIB