Trump Tuntut Kendali Greenland dan Cabut Sanksi Turki

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan transatlantik di Turki. Presiden Donald Trump menuntut kendali penuh AS atas Greenland serta berjanji mencabut sanksi militer terhadap Turki di sela KTT NATO Ankara. Dok: Istimewa.

Ketegangan transatlantik di Turki. Presiden Donald Trump menuntut kendali penuh AS atas Greenland serta berjanji mencabut sanksi militer terhadap Turki di sela KTT NATO Ankara. Dok: Istimewa.

ANKARA, POSNEWS.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu perdebatan sengit di sela-sela KTT militer transatlantik.

Kontroversi Tuntutan Kendali Atas Greenland

Presiden Donald Trump memicu kontroversi di Eropa pada hari Selasa. Ia menegaskan Amerika Serikat harus memegang kendali penuh atas Greenland.

Saat ini, sekutu NATO Denmark masih menguasai wilayah semi-otonom tersebut. Trump menyebut pulau strategis tersebut memiliki peran sangat penting bagi negaranya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mengklaim kapal-kapal militer China dan Rusia kini mengepung perairan Greenland. Trump berjanji akan melindungi pulau itu dari segala ancaman luar.

Trump melontarkan pernyataan tersebut saat menemui Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara. Sontak, klaim sepihak ini memicu kekhawatiran baru di kalangan sekutu Eropa.

Rencana Pencabutan Sanksi Militer Turki dan Proyek F-35

Dalam kesempatan berbeda, Trump membawa kabar gembira bagi tuan rumah KTT. Ia berencana mencabut sanksi militer terhadap pihak Turki.

Baca Juga :  Melindungi Plasma Nutfah dari Biopiracy Internasional di Tahun 2026

Sebelumnya, Washington menjatuhkan sanksi setelah Ankara membeli sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia. Pembelian tersebut membuat Turki keluar dari proyek jet tempur F-35.

Trump kini mempertimbangkan kembali penjualan jet tempur canggih F-35 kepada Turki. Ia menyebut Erdogan sebagai sekutu yang jauh lebih setia daripada negara lain.

Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menentang keras rencana tersebut. Netanyahu menilai penjualan jet siluman itu akan mengancam keamanan wilayah Israel.

Kongres Amerika Serikat juga masih berpotensi menjegal rencana ambisius Trump tersebut. Hukum AS melarang penjualan F-35 selama Turki masih mengoperasikan rudal S-400 Rusia.

Pameran Senjata Miliaran Dolar demi Redam Kritik

NATO mencoba meredam kemarahan Trump melalui pameran proyek militer raksasa. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memimpin peluncuran kesepakatan tersebut.

Negara-negara Eropa mengumumkan belanja senjata bernilai miliaran dolar sepanjang hari Selasa. Langkah taktis ini bertujuan membuktikan komitmen belanja pertahanan sekutu Eropa.

Baca Juga :  Trump Ancam Tarif ke 8 Negara Eropa Jika Greenland Tak Dijual

Produsen asal Swedia, Saab, memenangkan kontrak penyediaan pesawat pengawas GlobalEye terbaru. Konsorsium sepuluh negara akan mengoperasikan pesawat canggih tersebut.

Uni Eropa menyokong pendanaan proyek pertahanan ini melalui skema pinjaman murah. Lembaga keuangan Eropa menyiapkan dana segar hingga $170 miliar (sekitar Rp 2.771 triliun).

Kelompok 15 negara sekutu juga menyepakati pembelian pesawat tanker pengisi bahan bakar dari Airbus. Langkah ini menjadi bukti nyata keseriusan Eropa dalam memperkuat pertahanan kolektif.

Desakan Ukraina dan Antisipasi Perang Hibrida Rusia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memanfaatkan momentum ini untuk mendesak keanggotaan NATO. Ia menyebut tentara Ukraina memiliki pengalaman tempur yang luar biasa.

Pasukan Ukraina mengklaim berhasil melumpuhkan rata-rata 30.000 tentara Rusia setiap bulan. Zelenskyy menjadwalkan pertemuan khusus dengan Trump pada hari Rabu.

Kekhawatiran mengenai potensi serangan hibrida Rusia juga membayangi jalannya KTT. Beberapa negara Eropa mewaspadai ancaman serangan siber dari Moskow.

Meskipun demikian, pejabat senior NATO menegaskan kekuatan aliansi masih efektif. Aliansi berhasil mencegah potensi serangan langsung Rusia ke wilayah anggota NATO.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sekutu Trump Laura Loomer Dikecam Usai Komentar Rasis
Mahkamah Agung AS Izinkan Lanjutan Proyek Balkon Gedung
Menkeu Rusia Siluanov Hadir Langsung di G20
Trump Ancam Serangan Lanjutan ke Iran, Konflik Ekonomi Berisiko
Google Ganti Nama Danau Ontario Jadi Lake America di Peta AS
AS Serang Peluncur Roket Iran di Selat Hormuz, Pecah Kebuntuan
Spesifikasi Minimum Overwatch Rush Ramah Pengguna Ponsel
Pencarian Korban Banjir Himalaya Berlanjut, 3.000 Orang Hilang

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 10:19 WIB

Sekutu Trump Laura Loomer Dikecam Usai Komentar Rasis

Selasa, 1 September 2026 - 09:11 WIB

Mahkamah Agung AS Izinkan Lanjutan Proyek Balkon Gedung

Selasa, 1 September 2026 - 07:53 WIB

Trump Ancam Serangan Lanjutan ke Iran, Konflik Ekonomi Berisiko

Selasa, 1 September 2026 - 07:52 WIB

Google Ganti Nama Danau Ontario Jadi Lake America di Peta AS

Selasa, 1 September 2026 - 06:24 WIB

AS Serang Peluncur Roket Iran di Selat Hormuz, Pecah Kebuntuan

Berita Terbaru

Sekutu Trump, Laura Loomer, dikecam sejumlah anggota parlemen dan aktivis hak asasi usai melontarkan komentar rasis. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Sekutu Trump Laura Loomer Dikecam Usai Komentar Rasis

Selasa, 1 Sep 2026 - 10:19 WIB

Mahkamah Agung AS yang terbelah mengizinkan Gedung Putih melanjutkan proyek balkon USD 400 juta, meski Ketua Hakim Roberts menyatakan dissent bersama hakim liberal. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mahkamah Agung AS Izinkan Lanjutan Proyek Balkon Gedung

Selasa, 1 Sep 2026 - 09:11 WIB