Kutukan Gedung Tertinggi: Sinyal Resesi dari Puncak Dunia?

Senin, 20 Oktober 2025 - 14:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Sejarah menunjukkan korelasi aneh: setiap kali gedung tertinggi di dunia selesai dibangun, krisis ekonomi hebat sering kali menyusul. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Sejarah menunjukkan korelasi aneh: setiap kali gedung tertinggi di dunia selesai dibangun, krisis ekonomi hebat sering kali menyusul. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pembangunan gedung pencakar langit yang megah selalu melambangkan kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, dan optimisme sebuah bangsa. Namun, di balik kemegahannya, sejarah mencatat sebuah pola yang meresahkan. Terlalu sering, peresmian gedung tertinggi di dunia justru mendahului datangnya bencana ekonomi.

Orang-orang menyebut fenomena ini “Skyscraper Index” atau Indeks Pencakar Langit. Analis properti Andrew Lawrence pertama kali mengemukakan teori ini pada tahun 1999. Ia mengamati bahwa proyek-proyek pembangunan gedung pemecah rekor sering kali bertepatan dengan puncak gelembung ekonomi yang siap meletus.

Sejarah yang Berulang

Sejarah memperlihatkan pola ini berulang kali:

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Empire State Building (1931): Penyelesaian gedung ikonik ini di New York terjadi tepat saat Amerika Serikat terperosok dalam Depresi Hebat.
  • World Trade Center (1973): Peresmian menara kembar ini mendahului krisis minyak global dan kejatuhan pasar saham.
  • Petronas Towers (1997): Malaysia menyelesaikan pembangunan menara kembar ini menjelang Krisis Finansial Asia yang mengguncang kawasan.
  • Burj Khalifa (2010): Dubai meresmikan gedung tertinggi di dunia saat ini di tengah krisis utang global yang dipicu oleh krisis finansial 2008.
Baca Juga :  Meta Resmi Rilis Kacamata Pintar Murah

Bukan Kutukan, Tapi Gejala Ekonomi

Tentu saja, gedung-gedung ini tidak menyebabkan resesi. Sebaliknya, pembangunannya adalah gejala dari kondisi ekonomi yang mendasarinya. Menurut teori ini, proyek sebesar itu hanya bisa terwujud saat kondisi ekonomi berada di puncaknya. Pada masa ini, kredit sangat murah, investor terlalu percaya diri, dan perusahaan menggelontorkan dana secara berlebihan untuk proyek-proyek spekulatif.

Penyelesaian gedung tersebut sering kali menandai akhir dari era “uang mudah”. Saat gedung itu akhirnya berdiri, kondisi ekonomi sudah berubah. Tingkat suku bunga mulai naik dan investasi yang tadinya terlihat menjanjikan kini menjadi beban. Gedung pencakar langit itu berdiri sebagai monumen dari optimisme berlebihan yang akhirnya harus dibayar mahal.

Baca Juga :  Menakar Sisa Tetes Minyak Bumi: Debat Peak Oil dan Masa Depan Energi Global

Simbol dari Puncak Kesombongan

Pada akhirnya, Skyscraper Index menjadi pengingat yang kuat tentang sifat siklus ekonomi. Pembangunan gedung tertinggi di dunia adalah manifestasi fisik dari puncak kesombongan pasar (market hubris). Ketika ambisi manusia mencapai langit, sering kali itu pertanda bahwa fondasi ekonomi di bawahnya sudah mulai rapuh. Gedung itu mungkin tidak meramalkan masa depan, tetapi ia berdiri sebagai saksi bisu dari kesalahan masa lalu.

 

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Donald Trump Mengklaim Layak Memenangi Hadiah Nobel
Henri B Kagan dan Kenso Soai Memenangi Hadiah Nobel Kimia
Pengacara Mantan Atlet Olimpiade AS Mendesak Penyelidikan
Donald Trump Mempromosikan Investasi Anduril Senilai 3,7 Miliar
Polisi Inggris Menangkap Tersangka Ke-7 Terkait Rencana Teror
Pertahanan Udara Rusia Mengintersepsi 900 Drone Ukraina
Serangan Drone Menenggelamkan Kapal Dagang di Laut Hitam
Donald Trump Memicu Gelombang Kecaman

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:35 WIB

Donald Trump Mengklaim Layak Memenangi Hadiah Nobel

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:04 WIB

Henri B Kagan dan Kenso Soai Memenangi Hadiah Nobel Kimia

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:12 WIB

Pengacara Mantan Atlet Olimpiade AS Mendesak Penyelidikan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:52 WIB

Donald Trump Mempromosikan Investasi Anduril Senilai 3,7 Miliar

Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:31 WIB

Polisi Inggris Menangkap Tersangka Ke-7 Terkait Rencana Teror

Berita Terbaru

Google resmi meluncurkan Pixel 11 Pro Fold dengan chip Tensor G6 dan fitur AI Gemini dengan perkiraan harga mulai Rp29,5 jutaan. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Google Merilis Pixel 11 Pro Fold Berbekal Chip Tensor G6

Kamis, 8 Okt 2026 - 09:41 WIB

Apple resmi meluncurkan iPhone 18 Pro dengan chip A20 Pro dan kamera apertur variabel dengan perkiraan harga mulai Rp18,5 jutaan. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

iPhone 18 Pro Berbekal Chip A20 Pro dan Kamera Apertur

Kamis, 8 Okt 2026 - 08:35 WIB

Donald Trump mengklaim layak memenangi Hadiah Nobel Perdamaian 2026 menjelang pengumuman resmi Komite Nobel Norwegia. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Mengklaim Layak Memenangi Hadiah Nobel

Kamis, 8 Okt 2026 - 07:35 WIB